
Malam pertunangan juna dengan gadis telah berlalu. Sekarang juna sudah kembali ke kehidupan yg sesungguhnya bersama istri tercinta. Memang beberapa hari setelah pertunangan juna, oliv terkadang masi sering menghindari juna. Meskipun juna sudah menepati janjinya tetap menggunakan satu cincin yaitu cincin pernikahan mereka.
Disisi lain, gadis sudah bertingkah selayaknya istri juna. Setiap pagi datang membawakan juna makanan untuk sarapan di apartmen juna. Hingga juna risih. Dia memutuskan untuk berangkat ke kantor dipagi hari sebelum gadis datang. Tapi bukan gadis namanya jika tidak memiliki akal untuk menganggu juna sehari saja. Dia gagal datang kerumah, tapi berhasil datang ke kantor di waktu makan siang.
Untung saja, kakak juna mau diajak kerjasama. Setiap kali juna ke kantor hanya mengurus hal yg penting lalu pergi meeting dengan klien ditempat lain. Gadis benar-benar membuat kepala juna pusing. Sandiwara ini bahkan terlalu merepotkan untuknya.
"Jun, oliv tau semua ini nggak ?" tanya yuna sambil mengaduk kopi yg dipesannya.
"Entahlah kak, tapi gua yakin bobby udah nutup akses orang yg suka kasih berita ke oliv." jawab juna sambil menghembuskan nafasnya kasar.
"Sabar ya, bentar lagi pasti selesai. Gua bakal bantu handel tunangan palsu lu itu." tangan yuna menepuk bahu juna.
"Thanks kak."
Karena terlalu sering dihindari oleh juna, gadis mencari cara untuk melacak keberadaan juna. Bahkan apa saja yg terjadi selama dia berada di Bali. Informasi dari alex seperti hanya sepotong saja.
Sambungan telfon berbunyi....
"Lex, ada perkembangan berita tentang oliv nggak ?" tanya gadis ketika telfonnya diangkat alex.
"Olivia disini." jawab alex singkat, hal ini membuat gadis menghentikan aktifitasnya yg sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Lu bohong kan ?" tanya gadis lagi meyakinkan bahwa dirinya sedang tidak dikerjai oleh alex.
"Gua serius, kemaren orang suruhan gua nemuin keberadaan oliv dibandara waktu sampe disini."
"Sialan, kenapa tuh cewek balik sih. Gua baru aja resmi tunangan sama juna seminggu ini." omel gadis sambil melempar handuknya karna marah.
"Ada satu hal yg lu harus denger. Tapi gua nggak bisa kasih tau ditelfon, nanti malem temui gua dibar." setelah berpesan alex menutup telfonnya, antisipasi sebelum menerima teriakan gadis yg akan merusak pendengarannya. Karna dia yakin gadis tidak akan siap menerima ini semua.
Malam harinya, sesuai dengan perjanjian gadis bertemu dengan alex di bar. Setelah memesan minuman gadis memaksa alex untuk segera bercerita tentang informasi yg dia ketahui.
"Lex, lu tau apa sih buruan kasih tau deh." rengek gadis manja.
"Sabar dulu, kita minum dulu lah baru gua ceritain." jawab alex santai.
Setelah minuman yg mereka pesan datang, alex memberikan amplop berwarna coklat pada gadis.
"Nih, lu liat sendiri aja." alex memberikan amplop itu lalu menyandarkan diri ke sofa sambil meminum winenya.
"Apaan sih pake ginian segala." omel gadis sambil membuka amplop itu dengan kasar.
Ternyata didalam amplop itu berisikan foto-foto olivia selama di Bali. Dia tercengang melihat disana ada foto olivia dan juna sedang berpelukan dan yg terakhir membuatnya melempar gelas minumannya adalah foto pernikahan juna dan olivia.
"CEWEK SIALAN!!!" amuk gadis yg mulai menyobek foto-foto ditangannya. Lalu, dia melempar semua barang yg ada didekatnya. Alex yg melihat itu hanya duduk dengan santai dan menunggu gadis puas dengan amarahnya.
"Udah selese ? Bisa gua lanjutin ?" tanya alex, sambil menarik gadis mendekat kepadanya.
"APA LAGI YG GUA BELUM TAU ?" tanya gadis dengan setengah berteriak dan nafas yg tersengal-sengal karna marah.
"Olivia hamil, dia hamil anak juna." hanya kalimat itu yg bisa alex katakan.
"Apa ? Jadi berita kehamilan dia bukan rekayasa, gitu ?" tanya gadis dengan suara sedikit bergetar dan mata yg berkaca-kaca.
"Hamil anak juna ? Sejak kapan ?" lanjut gadis.
"Sebelum kita pisahin mereka, dia sudah dalam kondisi hamil anak juna. Masa anak gua." jawab alex enteng. Jawabannya ini sudah bisa dipastikan membuat air mata gadis yg terbendung langsung membanjiri pipinya.
"Ini nggak mungkin lex, gua tunangannya juna. Nggak mungkin mereka udah nikah." elak gadis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghapus air matanya dengan kasar. Seakan dia tidak percaya bahwa semua yg dia rencanakan bahkan gagal sebelum dia maju. Alex yg melihat gadis seperti itu memeluknya semakin erat, menguatkannya, karna dia tidak sendiri. Alex menganggap gadis seperti adiknya, dia sangat menyayangi gadis. Rasa sayang itulah yg membuatnya membantu semua rencana gadis.
Gadis memanggil waiters dan memesan banyak minuman yg akan membuatnya mabuk. Dia berharap setelah meminum minuman itu, besok paginya dia akan bangun dan semua kembali seperti sedia kala. Bahwa semua ini adalah mimpi. Serta hubungannya dan juna memang baik-baik saja.
Setelah minuman itu disajikan, gadis terus menerus minum. Hingga kesadarannya mulai berkurang. Padahal alex sudah mencoba merebut gelasnya setiap gadis akan minum. Tapi gadis terlalu keras kepala tentang apa yg dia mau. Dia terus meminum minuman itu hingga hampir menghabiskan satu botol.
Lalu, ketika alex berhasil merebut gelas gadis yg terakhir sebelum dia meminumnya gadis menarik alex dan menciumnya. Ciuman itu mebuat alex kewalahan, karna gadis menciumnya dengan agresif hingga dia duduk dipangkuan alex.
"Lex, gua juga harus hamil anak juna." bisik gadis setelah ciumannya dengan alex selesai, lalu dia tertidur dengan posisi masih dipangkuan alex sambil memeluk lehernya.
**********
Pagi ini, olivia bangun tidur tapi disebelahnya sudah tidak ada lagi juna. Entah pergi kemana suaminya pagi itu. Olivia duduk dipinggir ranjang sambil menguncir rambutnya asal. Tiba-tiba suara pintu kamarnya dibuka, menampilkan juna dengan nampan berisikan susu dan roti dengan selai coklat untuk sarapan olivia.
"Morning sayang." sapa juna sambil meletakkan nampan di atas meja dikamar mereka. Lalu dia menghampiri olivia dan mencium keningnya.
"Morning." balas olivia yg sedang memejamkan mata ketika suaminya itu sedang menciumnya hangat.
"Setelah sarapan kamu siap-siap ya sayang, siang ini kita harus ke dokter kandungan." kata-kata hangat juna yg penuh dengan perhatian ini membuat olivia tidak bisa lagi mengacuhkan suaminya itu.
Setiap hari juna memang selalu menyiapkan sarapan untuk olivia dikamar. Biasnya saat olivia bangun sosok juna sudah tidak dirumah. Hal itu pula yg membuat hubungan mereka sedikit merenggang. Mereka juga sudah jarang mengobrol.
Tapi hari ini melihat setiap usaha juna memberikan perhatian pada oliv akhirnya meluluhkan benteng pertahanan hatinya. Semua perlakuan hangatnya ini sampai ke hati. Membuatnya merasakan bahwa dia memang dicintai oleh suaminya.
"Kenapa ?" tanya juna yg kaget karna oliv tiba-tiba memeluknya erat.
"Nggak papa, aku..." kata-kata olivia terhenti, kemudian terdengar suara isakan.
"Sayang, kenapa ? Kok nangis sih, ada yg salah ya ?" tanya juna sambil mengelus-elus rambut olivia.
"Aku.... aku kangen." juna tidak mengerti dengan kata-kata oliv.
"kangen siapa ?" tanya juna lagi.
"Kamu lah, iiih kamu nih nyebelin emang." jawab olivia manja sambil mencubit pinggang suaminya itu.
"Eh... iya iya.. sakit sayang ih." juna menarik oliv dari pelukannya lalu menciumi wajah olivia.
"Aku jauh lebih kangen sama istriku ini." kata juna sambil mengecup bibir oliv. Melihat istrinya itu tersenyum juna semakin menggoda olivia dengan mencium bibirnya berulang kali. Dan diakhiri dengan ciuman lembut yg menyalurkan perasaan rindu mereka.
Hanya melihat senyuman olivia saja sudah membuat hari juna lebih cerah, ini juga merupakan kekuatannya. Karena dengan olivia tersenyum dan bersikap manja seperti biasanya, juna merasa bahwa dia tidak sedang berjuang sendirian. Bahwa apapun yg terjadi ada istrinya yg akan mendukungnya.
Meskipun akan selalu ada badai diluar sana yg akan mengancam hubungan mereka, tapi selama kepercayaan itu ada dan selama mereka bersama itu adalah kekuatan serta motivasi juna untuk bertahan. Semua ini dia lakukan bukan tanpa sebab, ada alasan disetiap keputusan yg dia ambil. Keputusan yg terbaik menurutnya.
Atau mungkin memang ada rencana dan maksud lain yg Tuhan berikan pada mereka.
**********