
Juna menunggu olivia didepan kamar mandi sambil menghentakkan kakinya tidak sabar. Dengan gayanya yg sok tenang, padahal dalam hatinya perasaannya campur aduk antara penasaran, takut, dan harap-harap cemas, sampai-sampai dia memasukkan tangannya ke dalam saku. Udara disekitar rasanya lebih dingin dari sebelumnya.
Sekitar 15 menit olivia didalam kamar mandi, akhirnya dia keluar. Kedua tangannya disembunyikan dibelakang. Juna melihat itu merasa penasaran, langsung menarik olivia dalam pelukannya agar dia bisa mengambil hasil tes yg ada ditangan olivia.
"Jadi gimana ?" Juna memeluk olivia yg tetap bertahan menyembunyian hasilnya didalam sebuh kotak.
"Coba tebak." Senyum olivia penuh arti, membuat juna semakin penasaran.
"Mau kasih tau sendiri atau mau dipaksa ? Hmm.." juna mengancam dengan senyumnya yg penuh dengan tingkat kemesuman yg tersembunyi.
"Coba aja kalo berani." olivia semakin mengeratkan pegangan pada kotaknya itu, juna melihat itu menunggu olivia lemah. Langsung mencoba mencium bibirnya, awalnya hanya untuk menggoda tapi lama kelamaan juna semakin bernafsu. Tangannya mulai berjalan menyusuri tubuh olivia.
"Ahh, sayang... Nggak boleh kasar sama ibu hamil." tangan juna yg awalnya bersemangat tiba-tiba terhenti. Dan ciumannya dilepas, terlihat olivia yg terengah-engah.
"Kamu bilang apa sayang, coba bilang lagi." juna memaksa olivia mengatakannya lagi.
"Nih pegang sendiri aja." Olivia meraih tangan juna untuk mengelus perutnya yg masih rata. Juna tersenyum bahagia dan langsung memeluk olivia.
"Sudah berapa minggu ? Jadi selama ini kamu nggak sakit lambung ?" tanya juna sambil mengelus perut olivia gemas.
"Entahlah, aku juga belum periksa lebih lengkap. Jadi nih.." olivia menyerahkan kotak yg sedari tadi dipertahankannya. Ketika juna membuka kotak itu, dia tersenyum sambil menitikan air mata terharu, didalamnya ada lima alat tes kehamilan dengan merk berbeda tetapi dengan hasil yg sama. Yaitu 2 garis berwarna merah.
"I love you, olivia." Juna memeluk olivia lagi. Lalu mengecup bibirnya berulang kali, sampai olivia malu.
"I love you too."
Kemesraan mereka ini tidak luput dari pandangan seseorang, yaitu bobby. Sudah sejak tadi bobby duduk diruang tamu mendengar pembicaraan calon orang tua baru ini. Dia merasa bahagia akhirnya juna mengetahui bahwa akan ada juna kecil yg hadir atau olivia kecil. Setidaknya hubungan mereka menguat satu langkah kedepan dengan kehadiran anak ini.
"EHEEEM.. Udah belum nih mesra-mesraanya ? Masih pagi guys." Deheman bobby ini membuat olivia cekikikan karna juna kesal ada yg mengganggu kemesraan mereka.
"Lu ngapain sih bang ?" wajah juna kesal setengah mati melihat bobby yg dengan santainya duduk sambil membaca majalah.
"Calon papi pagi-pagi nggak boleh marah dong." ledek bobby.
"Iya papi nggak boleh marah, uncle yg selama ini jagain mami." olivia berbicara seperti anak kecil ikut-ikutan mengejek juna. Bobby yg mendengarnya tertawa terbahak-bahak karna juna semakin kesal.
"Loh jadi lu tau duluan bang, kenapa nggak kasih tau gua ?" Juna protes.
"Waktunya nggak pas waktu itu, yg penting sekarang udah tau kan." jawab bobby cuek.
"Kalo gitu tugas kalian sekarang adalah meminta restu orang tua kalian dan segera menikah." olivia mendengar itu tiba-tiba menjatuhkan gelas yg ada ditangannya, dia lupa jika masalah ini sampai diketahui orang tuanya. Hanya kemungkinan terburuk yg ada dipikirannya.
"Sayang, kamu nggak papa ?" Juna menghampiri olivia dan mengelus punggungnya karna melihatnya tiba-tiba pucat.
"Ng.. nggak papa kak." olivia menutupi.
"Kalo gitu sore ini kita bicara sama orang tua kamu sayang." juna langsung berinisiatif segera mendapatkan restu dan menikahi olivia. Tapi berbeda dengan olivia, dia takut setengah mati kalau sampai masalah ini dibicarakan pada orang tuanya.
"Liv, gimana menurutmu ? Lebih cepat, lebih baik kan ?" bobby melihat kegugupan olivia meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Iya." jawab olivia singkat.
******************
Setelah pembicaraan tadi, olivia berdiam diri dikamar. Karna semenjak juna mengetahui bahwa olivia hamil, dia semakin protektif. Hanya boleh beristirahat saja dikamar. Sedangkan dia sedang bersama bobby diruang kerja membicarakan pekerjaan.
Pekerjaan juna bukan hanya sebagai penyanyi dan model saja, dia memiliki sebuah perusahaan besar dalam bidang perhotelan dan pangan. Jadi meskipun dia tidak berada dipuncak karir bahkan tidak lagi bekerja didunia entertaiment, dia masih bisa menghidupi sampai tujuh turunan.
"Sayang, ada apa ? Kenapa melamun ?." tanpa disadari olivia, juna sudah duduk disebelahnya sambil membelai rambut olivia.
"Hmm... nggak papa kok sayang."
"Jangan bohong, kamu tuh nggak biasanya kayak gini."
"Sebenarnya..." olivia menarik nafas panjang sebelum meneruskan perkataannya berulang kali.
"Ada apa ?" tanya juna.
"Orang tuaku mungkin akan sulit menerima masalah kita. Aku ragu ingin mengatakannya pada mereka." olivia menundukkan kepalanya lesu dan mulai putus asa.
"Kenapa mereka nggak bisa nerima ? Ini juga cucunya."
"Lagian apa nggak ganggu karir kamu ?" olivia mencoba menggoyahkan pendirian juna.
"Aku nggak peduli dengan karirku, sekarang yg terpenting buat aku cuma kamu dan calon anak kita." juna mencoba meyakinkan olivia.
"Dan aku nggak mau nikahin kamu tanpa restu orang tuamu. Meskipun ini sulit, tapi kita harus tetap memberitahukan kepada mereka. Aku bisa saja langsung menikahimu hari ini." olivia menatap juna karna pernyataannya ini.
"Tapi kita sudah berbuat kesalahan, aku nggak mau menjadikanmu istri tanpa restu juga. Apapun yg terjadi aku akan nemenin kamu." juna menggenggam tangan olivia, berharap kata-katanya ini akan menguatkannya. Tapi olivia hanya bisa menangis.
akan menyiapkan mentalku." juna memeluk olivia dan membuatnya tenang.
"Kita berangkat nanti sore ya."
*********************
Malam harinya, olivia dan juna sampai dirumah orang tua olivia. Sebelum turun dari mobil, olivia menarik nafas panjang untuk menyiapkan mentalnya. Karna apapun yg terjadi dia harus terima, bahkan meski harus dibunuh pun harus terima. Ini memang salahnya. Seharusnya mereka bisa menahan, tapi anggap saja ini memang jalanan takdir.
"Oliv." papa olivia sudah menunggu didepan rumah setelah tadi siang mendapatkan kabar bahwa anak sulungnya akan pulang.
"Pa..." olivia memeluk papanya, lalu memperkenalkan juna.
"Pa, ini kak juna.. Dia ini bos olivia, tapi juga...." kata-kata olivia menggantung.
"Cowok kamu kan ?" papa olivia menggoda.
"Halo om, saya Juna." juna mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan calon mertuanya itu.
"Saya papanya oliv, ayo masuk dulu." pak danu dengan ramah mempersilahkan juna dan oliv masuk.
Ketika duduk diruang tamu, papa oliv sedang mengobrol santai. Tetapi mama olivia yg baru saja keluar kamar sudah merasa ada aura yg tidak beres dengan kepulangan anaknya itu.
"Tumben pulang." sindir mama oliv, membuat oliv semakin deg-degan.
"Mama kok gitu sih, ada anaknya pulang bukannya disambut." papa olivia menegur mamanya dengan nada yg masih sopan.
"Lihat dong pa, tiba-tiba pulang bawa cowok. Kan aneh." olivia mendengar kata-kata mamanya hanya bisa meremas tangannya. Juna yg melihat olivia mulai gugup, menepuk tangannya menenangkan.
"Halo tante, saya juna." Juna dengan sopan berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan mama oliv. Tapi mamanya hanya melihat tangan juna tanpa mau menyambut uluran tangannya. Juna yg melihat reaksi mamanya itu menarik tangannya lagi.
"Langsung to the point aja, buat apa kalian datang kesini malam-malam." kata-kata pedas mama oliv membuatnya menahan nafas.
"Jadi begini om, tante. Sebenernya kedatangan saya kesini untuk melamar anak om dan tante." Juna langsung membuka pembicaraan ketika sudah dipersilahkan oleh mama oliv.
"Menikah ?" papa oliv menanyakan lagi, memastikan bahwa papanya tidak salah dengar.
"Kamu hamil oliv ?" kata-kata mama oliv yg to the point langsung tepat sasaran. Juna menengok keadaan kekasihnya yg sudah menundukkan kepalanya semakin dalam sambil meremas tangannya sampai terlihat sangat pucat.
"JAWAB!!!!" mama oliv berteriak, membuat semua orang diruang tamu itu terkejut.
"..........." tidak ada yg menjawab.
"Oliv, apa pertanyaan mama benar ?" papa oliv bertanya dengan nada yg lembut. Membuat oliv semakin merasa bersalah dan menangis.
"I...iya paa." jawab oliv terbata.
"Om, kami akui ini semua memang salah kami. Saya mohon berikan restu kalian." papa olivia terdiam, tetapi tidak dengan mamanya. Tiba-tiba mamanya bangkit, menghampiri oliv, lalu menampar olivia sangat keras. Sampai ujung bibirnya berdarah. Mamanya menampar berulang kali, hingga juna menahan tangan mamanya. Tetapi juna pun tidak lepas dari amukan mama oliv. Juna juga ditampar.
"Tante, oliv sedang hamil. Jika terjadi sesuatu dengan ibu dari anak saya bahkan anak saya, saya tidak akan tinggal diam." juna membawa olivia kedalam pelukannya, melindungi agar tidak dipukul lagi oleh mamanya.
"Ma, hentikan." danu menarik istrinya yg sudah mulai keterlaluan.
"Om dan tante tenang saja, saya akan bertanggungjawab. Kedatangan kami kesini hanya untuk meminta restu saja. Om dan tante tidak perlu khawatir saya akan pastikan bahwa om dan tante tidak akan kesulitan karna masalah ini." juna mengatakan ini untuk menenangkan orangtua olivia, karna dia yakin pasti mereka terkejut dengan kabar ini.
"JANGAN HARAP KAMI AKAN MEMBERIKAN RESTU. ANAK INI SELALU SAJA MEMPERMALUKAN KELUARGA." mama olivia semakin marah mendengar kata-kata juna yg menurutnya terkesan meremehkan masalah ini. Olivia mendengar kata-kata ini merasa dadanya semakin sesak dan terus menangis dipelukan juna.
"Nak juna, bisa kita bicarakan masalah ini lagi ketika kondisinya sudah lebih tenang ?" papa olivia, berharap juna segera membawa olivia pergi, karna kondisi istrinya yg sedang tidak bisa diajak kompromi.
"Kamu bawa saja gadis ini, mulai hari ini dia tidak boleh menginjakkan kakinya dirumah ini." mama oliv mengatakan sambil menunjuk-nunjuk oliv, dan langsung masuk kedalam rumah.
Juna yg melihat kondisi keluarga olivia yg ternyata bisa separah ini langsung berdiri membawa olivia keluar dari rumah.
"Papa emang kecewa sama oliv, tapi sampai kapan pun oliv tetap anak papa. Kalian segeralah menikah. Papa akan mengurus mamamu." kata-kata papa oliv ini diangguki juna yg paham akan kode agar segera membawa olivia pergi.
"Ayo sayang." juna menununtun olivia yg masih terisak dalam pelukannya. Olivia hanya menuruti langkah juna, dia sudah lemas dengan semua yg terjadi. Begitu cepat tetapi meninggalkan luka yg sangat dalam.
Didalam mobil juna melihat pipi kanan dan kiri oliv yg tercetak cap tangan ibunya. Hati juna sangat sakit melihat perlakuan ibu oliv pada anaknya, bahkan merasa sedikit tidak masuk akal jika ada seorang ibu yg bisa setega itu pada anaknya. Bukannya memberikan solusi, malah menghakimi tanpa memberikan kesempatan untuk menjelaskan. Dan hanya bisa menghukum tanpa memperdulikan dampaknya dimasa depan.
"Mungkin ini akan terasa sakit sedikit sayang, tapi bakalan cepet sembuh kok." juna mencium pipi olivia lalu mengoleskan salep agar pipi olivia tidak semakin bengkak.
"Kamu baik-baik aja sayang, ada yg sakit selain pipimu ?" tanya juna yg hanya dijawab gelengan kepala oleh oliv.
"Sayang jangan sedih yaaaa, ada papi disini." juna mengelus perut olivia, menenangkan anaknya agar tidak ikut sedih seperti maminya. Perasaan olivia sedikit menghangat dengan perlakuan juna ini.
***********************