My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 22



Malam hari, kondisi olivia membaik. Bahkan sangat manja kepada juna. Dia mengekor kemana juna pergi selama di apartmen.


"Sayang, kamu duduk aja kan baru sembuh." Juna mengantar olivia agar duduk di sofa.


"Nggak bisa, aku pengen deket kamu." olivia merajuk sambil melipat tangannya didepan dada.


"Kamu nggak suka ya kalo aku ikutin ?" juna menyandarkan olivia yg ngambek ke dadanya.


"Suka kok sayang." sambil mengelus rambut olivia dan mengecup keningnya, juna mengerutkan alis merasa aneh dengan sikap oliv.


*****Flashback on*******


"Olivia, jaga kondisi kamu ya. Jangan sampai kecapekan dan stress." dokter jeanne berpesan pada oliv setelah memeriksanya.


"Iya dok, apa ada masalah yg lain ?" olivia ragu melihat wajah dokter jeanne yg seperti tidak yakin akan sesuatu.


"Kamu bisa periksa lebih lanjut nanti ya setelah kondisi membaik, di rumah sakit. Sementara ada vitamin dan suplemen makanan untuk membantu jaga kondisi kamu."


"Baik dok."


"Panggil saja jean atau kak jean, kamu kan kekasih juna dan teman bobby, karna mereka berdua adalah temanku, jadi kita juga berteman. Jangan terlalu formal." ucap jean ramah sambil memberikan resep.


"Oke, kak." olivia mengulurkan tangan pada jean. Dia merasa beruntung karna hari ini mendapatkan dua teman baru, gadis dan jean.


Setelah pemeriksaan selesai, juna menanyakan kondisi olivia pada jean. Merasa tidak ada yg perlu dikhawatirkan juna lega, lalu menyusul olivia yg masih beristirahat dikamar. Saat juna dan olivia dikamar, bobby yg menanyakan hasil pemeriksaan olivia yg sebenarnya. Sebelum jean sampai di apartmen juna, jean menerima panggilan telfon bobby. Dia menanyakan merk tespack yg akurat dan berpesan agar memeriksa olivia sedetail mungkin. Memberikan jawaban tentang kecurigaannya kalau oliv sedang mengandung anak juna. Bobby benar-benar tidak bisa membayangkan ekspresi juna jika semua ini benar. Jadi jean dan bobby sepakat untuk menyembunyikannya dulu. Selain itu tespack ini bisa membantu olivia memastikannya sementara sampai dia bisa periksa ke rumah sakit.


"Gimana jean ?" tanya bobby.


"Dugaanmu memang benar, tapi sepertinya masih sangat kecil dan rawan. Jadi masih abu-abu." jean membenarkan dugaan bobby, yg tanpa sengaja membuatnya tersenyum bahagia.


"Kamu pastikan juga pake testpack tadi. Selebihnya nanti aku akan mengurus orang laboratorium untuk melakukan tes pada olivia dirumah." lanjut jean.


"Aku setuju, nanti aku kabarin ketika waktunya tepat." jawaban bobby diangguki jean.


"Baiklah aku pamit. Pastikan vitamin itu diminum tepat waktu." jean memeluk bobby sambil mencium pipi kanan dan kirinya.


"Terima kasih jean." bobby membalas pelukan jean.


Juna sedang sibuk mengurus olivia dikamar, dia sedang menyuapinya bubur. Akhirnya ada makanan yg masuk tanpa ada drama muntah.


"Kamu istirahat dulu ya." Juna mengelus rambut olivia dengan sayang, dan keluar meninggalkan olivia agar bisa istirahat. Setelah membereskan acara makan oliv.


"Gua kayaknya harus keluar lagi bang, alex ngajakin ketemu buat bahas ganti rugi."


"Perlu gua temenin ?" bobby menawarkan bantuan.


"Nggak perlu bang, gua nitip oliv aja." juna duduk disebelah bobby.


"Dia aman disini, gua bakal jagain." bobby mendengar ini merasa senang karna jika juna pergi dia bisa menyuruh olivia untuk tes.


"Jam berapa lu keluar ?" tanya bobby memastikan.


"Mungkin setengah jam lagi, gua siap-siap dulu." juna berlalu meninggalkan bobby yg duduk disofa menuju kamar. Dia lega ada bobby yg bisa diandalkan disaat seperti ini.


Juna melihat wajah olivia tidur dengan damai, meskipun masi pucat. Dia mendekat dan mengamati kekasihnya ini, mengelus rambutnya, mencium kening dan bibirnya.


'Sebentar lagi masalah ini selesai, aku akan jadiin kamu satu-satunya.' batin juna.


"Sayaang, aku keluar bentar ya. Kalo ada apa-apa jangan lupa kabarin aku." juna berpamitan pada olivia sambil berbisik, tapi oliv tanpa sadar menganggukinya.


Sudah satu jam setelah juna pergi, olivia terbangun dalam kondisi yg lebih baik. Melihat ini semua membuat bobby langsung bersemangat menghampiri oliv.


"Kamu udah mendingan ?" bobby mengelus rambut oliv.


"Udah lumayan kak. Kenapa ?" bobby menyodorkan bungkusan plastik yg berisi testpack itu.


"Kamu coba ini dulu ya."


"..." olivia masih bingung tapi menuruti bobby dan pergi ke kamar mandi.


Tok.. Tok...


Pintu kamar mandi diketuk bobby, karna sudah 15 menit oliv didalam.


"Liv, kamu nggak papa ?"


"Bentar kak." teriak oliv didalam kamar mandi yg sedang mengamati benda pipih dengan 2 garis merah yg sedikit samar.


'Apa ini tandanya hamil?' batin olivia sambil membaca ulang penjelasan dikemasan.


"Gimana liv?" tanya bobby lagi. Lalu olivia keluar dengan wajah yg sulit diartikan.


"Kak, apa hasilnya bener ?"


"Kita tanya jean aja, biar tau ini bener apa enggak." bobby melakukan panggilan pada jean.


"Halo"


"Jean, hasil testpack oliv ada 2 garis merah. tapi warnanya samar." olivia yg disamping bobby diam saja dengan perasaan was-was.


"Baik, aku kirim fotonya." setelah panggilan ditutup, bobby langsung mengirimkan foto itu pada jean.


To : Jeanne


**Gambar**


Uncle ?


Beberapa menit kemudian.


From : Jeanne


Yes, you're!!! Haha


Bobby berdiri merasa senang bahwa dugaannya benar menghampiri olivia.


"Mulai sekarang kamu harus hati-hati, disitu ada juna kecil." bobby menunjuk perut rata oliv.


"Ini beneran kak ?"


"Kamu bisa telfon jean buat memastikan." bobby menyodorkan hapenya. Saat olivi membaca pesan jean pada bobby, setetes air mata bahagia menetes.


"Kamu kenapa nangis ? Tenang aja, juna pasti tanggungjawab. Kita tunggu waktu yg pas buat ngasih kejutan ini." bobby panik melihay olivia yg menangis setelah membaca pesan jean.


"Aku bahagia kak, sangat bahagia." olivia menghapus air matanya yg tanpa sadar memeluk bobby.


******Flashback off*******


Pagi ini, olivia bangun sendiri. Entah dimana sekarang juna. Saat keluar ada pesan masuk.


From : Kak Gadis


Lu udah baikan ?


Olivia mengabaikan pesan gadis. Karna terkesima dimeja makan sudah terhidang sarapan yg cantik dan bunga yg segar dimeja makan. Semuanya makanan kesukaan oliv, bahkan sangat suka. Dimeja ada secarik kertas, "Maaf hari ini kamu harus sarapan sendiri ya sayang.. Meskipun aku nggak disebelah kamu, kamu harus tetep makan.. Love you". Seorang juna yg cuek pada siapapun, tapi ini tidak berlaku pada olivia. Olivia terharu, bisa disayangi seperti ini.


"Coba lihat, papi sangat manis." olivia berbicara sendiri sambil mengelus perutnya.


Setelah selesai sarapan, olivia bersiap-siap membereskan peralatan makannya. Tiba-tiba ada orang datang didepan pintu membunyikan bel. Olivia berjalan menuju pintu, melihat ada orang yg tidak dikenal sedikit ragu untuk membukakan pintu. Lalu terfikir untuk menelfon juna.


"Halo."


"Ada apa sayang, udah kangen ?" suara jail juna disebrang sana.


"Kangen sih, tapi didepan ada tamu pake baju seperti seragam." olivia menjelaskan tapi hanya terdengar suara tawa juna.


"Sayang serius!!!" olivia mulai kesal karna tidak mendapat jawaban.


"Hahahaha, biarin aja mereka masuk. Itu yg akan membersihkan apartemen kita. Jadi kamu nggak perlu repot buat beres-beres ya."


"Sejak kapan ?"


"Sejak hari ini." jawab juna.


"Apa sarapanmu sudah habis ?" tanya juna lagi.


"Sudah."


"Jangan lupa minum vitaminmu." juna mengingatkan lagi.


"Baiklah, kamu dimana ?"


"Lagi nyelesein masalah. Jangan khawatir. Love you." Juna menutup telfon sebelum olivia bertanya lebih lanjut. Setelah itu membuka pintu.


"Selamat pagi nyonya, kami utusan tuan juna untuk membersihkan apartmen kalian."


"Nyonya ?" batin olivia bingung, sejak kapan panggilannya berganti jadi nyonya.


"Baiklah, silahkan masuk."


**************