
Sesampainya olivia diapartemen juna, dia langsung meminta ijin pada juna untuk mandi. Dia merasakan badannya sangat kotor, merasa jijik, bahkan dia menggosok badannya sangat keras tanpa sadar membilasnya lalu menggosoknya lagi sampai kulitnya memerah. Olivia duduk dilantai kamar mandi dibawah shower sambil menangis. Dia melukai tubuhnya sendiri, masih merasakan sentuhan pria brengsek itu. Yg belum diketahui siapa orangnya. Lama olivia didalam kamar mandi hingga membuat juna khawatir. Juna mendengar isakan olivia, tapi belum berani masuk. Memberikan olivia waktu sendiri, menenangkan dirinya. Hampir satu jam olivia belum keluar juga, juna memutuskan mengetuk pintu kamar mandi. Tidak mendengar suara apapun membuatnya sangat khawatir. Akhirnya dia masuk, dan menemukan olivia pingsan dengan ujung bibirnya yg semakin berdarah.
"Oliv.. Sayang... Bangun.." Juna mematikan shower dan memakaikan handuk ke tubuh olivia yg sudah pucat dan sedikit menggigil.
"Sayang... Kamu baik-baik aja ?" juna dengan lembut menggendong olivia ke kamar dan meletakannya di ranjang.
"AHHHH.. JANGAN... JANGAN SENTUH AKU... TOLONG!!!" tiba-tiba suara histeris olivia membuat juna terkejut, juna langsung dipukul-pukul olivia, dia juga mundur untuk menjauhi juna.
"Sayaaang... ini aku, kamu jangan takut ya.. Ada aku disini. Ini aku juna." juna memeluk olivia dan mengelus-elus punggungnya. Olivia merasa mengenali aroma ini akhirnya merasa lebih tenang. Juna merasa sakit melihat kekasihnya seperti ini. Melihat luka ditubuhnya, air matanya, dan wajahnya yg ketakutan.
Ketika olivia sudah dirasa tenang, juna meletakkan olivia untuk tidur di ranjang. Dia memandangi kekasihnya itu sambil terus mengelus kepalanya.
"Hueeeek!!!!!" Tiba-tiba olivia bangun dan berlari kearah kamar mandi, perutnya terasa mual. Karna belum makan malam dan terlalu lama mandi tadi.
"Kamu nggak papa sayang ?" Juna menyusul olivia ke kamar mandi dan mengelus punggungnya. Olivia memuntahkan semua isi perutnya hingga lemas, juna semakin tidak tega akhirnya mengambilkan air hangat untuk mengurangi rasa mual oliv.
"Minum dulu sayang, nih." juna menyodorkan gelas.
"Makasih." olivia mengembalikan gelas yg sudah kosong. Setelah minum, juna langsung menggendong olivia ke kamar. Karna untuk berdiri pun dia nggak sanggup.
"Mau makan sesuatu ? Biar aku pesenin ya?" olivia hanya menggelengkan kepalanya. Tapi juna tetap memesan sup asparagus kesukaan olivia.
Olivia kembali tertidur, tapi dalam tidurnya seperti tidak nyenyak alisnya sampai mengerut dan keringat keluar di dahinya. Juna yg kembali dari dapur menyiapkan sup untuk olivia menyadari kekasihnya seperti mimpi buruk.
"Sayang, bangun dulu yuk." juna mengelus kedua alis olivia yg mengerut tadi dan mengelap keringatnya. Juna merasakan suhu badan olivia yg panas tiba-tiba langsung panik.
"Sayang.. sayang.. ayo bangun.." juna menggerakkan lengan olivia agar dia terbangun. Tapi olivia masih menutup matanya bahkan mulai mengigau.
"Ahhhhhhh!!!! jangaaan!!!!" Olivia terduduk dengan memasukkan kepalanya kedalam lengannya seperti orang ketakutan. Juna melihat olivia yg bangun dengan kondisi itu langsung memeluknya.
"Kamu aman sayang. Jangan takut." Juna menenangkan olivia yg sedikit demi sedikit akhirnya rileks dan mulai masuk kedalam pelukan juna.
"Makan dulu ya, terus minum obat." olivia mengangguk saja, dan mempercayakan semuanya pada juna.
Selesai makan, juna terus menemani olivia. Mengobati luka-lukanya saat olivia sudah tertidur nyenyak. Mengganti bajunya yg basah karna keringat dengan kaos milik juna. Menjaganya semalaman dengan sabar.
"Aku disini sayang." juna mengecup kening olivia lama.
*************
Pagi ini olivia bangun dengan kepalanya yg sedikit pusing, dan merasakan sakit disekujur tubuhnya. Olivia tau ini bukan apartemennya, dia mencari juna yg sudah menghilang entah kemana. Olivia mencoba mengingat-ingat yg terjadi semalam hingga tubuhnya terluka. Mengamati pakaian juna yg dipakai olehnya, ada baskom dan lap untuk mengkompres, ada obat dan mangkok sisa sup semalam dinakas sebelah tempat tidurnya.
"Apa semalam dia jagain aku terus." batin olivia.
Olivia keluar kamar, menemukan sebuah note dari juna dan semangkok bubur beserta obat penurun panas.
Di note itu tertulis 'Cepat sembuh sayang, I miss you so badly'. olivia langsung tersenyum. Menuruti perintah dinote itu untuk makan dan minum obat. Saat suapan pertama masuk, olivia sedang asik membuka berita di handphonenya langsung menjatuhkannya. Terkejut dengan berita yg beredar. Mencari keberadaan juna dimana. Bagaimana nasibnya setelah berita ini muncul. Tiba-tiba perutnya mual, olivia langsung berlari ke kamar mandi memuntahkan suapan pertama sarapannya itu.
Ponsel olivia berbunyi, ada panggilan masuk.
"Aku di apartmen juna kak, kenapa kak ?"
"Iya baiklah kak." lalu panggilan itu mati. Hanya kata-kata itu yg keluar dari mulut oliv.
Sekarang olivia mencoba menelfon juna, tapi tidak diangkat. Perut olivia semakin mual tidak bisa diajak kompromi. Dia berlari kearah kamar mandi lagi memuntahkan isi perutnya.
"Apa aku terlalu stres sampai mual begini, sepertinya penyakit lambungku kambuh." olivia berbicara sendiri merasakan ada yg tidak beres dengannya.
Sudah hampir sore, olivia belum menerima kabar juna. Setelah berita juna marah di bar, berita mengenai asistennya yg juga kekasihnya berselingkuh, dilengkapi foto-foto cincin ditangan juna dan oliv, foto oliv dilecehkan pria tidak dikenal dibar dengan sudut yg membuat orang salah paham, dan foto juna memukul pria itu. Olivia tidak menyangka berita itu dengan cepat beredar. Tanpa disadari dia menangis sambil terduduk di lantai. Menyalahkan dirinya. Dan mulai melukai tubuhnya lagi dengan memukul-mukul dan mencubit tangan dan kakinya sendiri.
Bobby tiba-tiba datang dan masuk ke apartemen juna, hanya oliv, gadis, dan teman-teman juga yg bisa masuk kesana. Melihat kondisi olivia langsung menghampirinya, menarik tangan olivia agar menghentikan aksinya yg menyakiti diri sendiri.
"Tenanglah. Jangan begini, ini bukan salahmu." bobby menenangkan oliv dengan memeluknya.
"Ini salahku kak." olivia terisak didalam pelukan bobby.
"Ada yg merencakan ini semua. Tenanglah juna sedang mengurusnya." bobby menepuk lembut punggung oliv.
"Tapi kak...." olivia semakin terisak.
"Aku sudah menyampaikannya ditelfon tadi, kamu cukup ikuti rencananya. Jangan menyakiti dirimu sendiri." Memang benar ditelfon tadi bobby menyuruh oliv tetap diam diapartemen juna apapun yg terjadi, karena diluar sedang banyak wartawan yg mengincarnya, belum lagi sikap anarkis fans juna yg marah. Juna sedang menyelesaikan semuanya. Dan menitipkan olivia sementara selama dia mengurus ini.
"Baiklah kak." olivia pasrah menuruti ini semua. Dia tidak tau apa yg sedang dilakukan juna. Tiba-tiba perutnya mual lagi. Oliv berlari menuju kamar mandi, memuntahkan isi perutnya untuk kesekian kali hari ini.
"Kamu nggak papa ? Apa kamu belum makan ?" olivia hanya menggelengkan kepalanya.
"Mungkin aku terlalu stres kak, aku merasa tidak nafsu makan."
"Kamu harus makan dan minum obat, kalo nggak juna bakalan marah." ancaman bobby membuat oliv merinding.
"Oke, terserah kakak mau pesan apa. Nanti aku makan." olivia pasrah.
Setelah makanan yg dipesan mereka datang, olivia hanya makan sedikit untuk menyenangkan bobby. Lalu minum obat. Dia kembali ke kamarnya untuk merebahkan dirinya. Sambil menunggu kabar juna yg tak kunjung datang. Karna terlalu lama membuat olivia tertidur karna efek obatnya.
"Gimana olivia bang ? Masih nyakitin dirinya nggak ?" tanya juna ditelfon.
"Tenang aja, dia udah makan sama minum obat. Sempet nyakitin waktu gua dateng, tapi bisa gua tenangin."
"Lu udah nemu pelakunya ?" lanjut bobby
"Belom, informan lu gimana bang.?" nada suara juna terdengar sangat khawatir.
"Tunggu aja." jawaban singkat bobby membuat juna menghembuskan nafas kasar.
"Oke, gua percayain olivia sama lu dulu." lalu juna menutup panggilan telfonnya.
****************