
Sore ini, olivia menghabiskan waktu berdua bersama juna. Sedangkan dee, bobby, dan yoyo sudah kembali menggunakan mobil yoyo. Mereka berdua pergi berjalan-jalan santai dipinggir pantai dekat cafe.
"Sayang, kenapa kamu pergi ninggalin aku ? Pasti ada alasannya kan ?" juna memulai pembicaraan.
"Aku..." kata-kata oliv menggantung.
"Apa kamu udah nggak cinta lagi sama aku ?"
"Bukan... bukan gitu."
"Terus kenapa ?"
"Ada alesannya kak." olivia menghindari tatapan mata juna.
"Sebenernya aku nggak mau karna keberadaanku, kamu makin banyak masalah." lanjut oliv.
"Kamu bukan beban buat aku, jadi apapun yg terjadi kamu harus bilang dulu sama aku." juna mengangkat dagu olivia agar melihat matanya.
"Tapi.... bukannya kamu akan bertunangan dengan kak gadis ?" olivia mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena matanya terasa panas mengingat hal itu.
"Hahaha... kamu kira aku mau tunangan sama dia ?" juna menarik dagu oliv lagi untuk memandangnya.
Tes... tanpa sadar air mata olivia menetes tanpa aba-aba.
"Setelah kembali dari sini, aku akan membawamu bertemu dengan keluargaku." juna mengusap air mata oliv mengunakan ibu jarinya, dan mencium keningnya.
"Aku.... takut..." olivia ragu dengan rencana juna, karena mengingat penolakan yg terjadi dikeluarganya saat itu.
"Tidak ada penolakan, selama ada aku kamu nggak boleh takut." juna memeluk olivia.
Angin semilir pantai dipadukan dengan aroma tubuh juna yg menenangkan olivia. Aroma yg sangat dirindukannya selama ini.
Tapi dari kejauhan ada seseorang yg memperhatikan mereka.
**********
Dee bersama bobby sedang mengobrol sambil duduk diayunan dekat kolam renang, sedangkan yoyo sedang sibuk didapur memasak makan malam mereka. Yoyo memang sejago itu dalam memasak, karna memang keluarganya memiliki usaha dalam bidang kuliner. Salah satu perusahannya berkerjasama dengan perusahaan juna.
"Mereka nggak pulang kali ya kak ?" dee mengayunkan kakinya agar ayunannya bergerak.
Bobby hanya mengangkat bahunya tanda tidak tau.
"Mungkin mereka bertengkar lagi kak, aduuh gua khawati banget nih. Mana oliv selama hamil ini sensitif banget lagi." dee terdengar mendengus sambil mencoba melakukan panggilan ada olivia.
"Tunggu aja, lagian juna juga nggak bakal nglepasin olivia lagi."
"Tapi... kak." tangan bobby menarik lengan dee yg masih mencoba menelfon itu.
"Tuh lihat kan, mereka kembali kesini. Bahkan terlihat sangat bahagia." bobby menunjuk dua sejoli yg sedang kasmaran itu. Dee langsung bangkit menghampiri oliv.
"Ahhhh.... akhirnya ya ibu hamil satu ini udah pulang ya." goda dee.
"Kak, aku ke kamar dulu ya." olivia yg malu-malu itu melarikan diri. Juna yg melihat itu tersenyum karna wajah olivia yg seperti itu sangat menggemaskan.
"Ehhh... tunggu dulu." dee menyusul oliv ke kamar.
"Bang, ada yg mau gua omongin. Yoyo mana ?" tanya juna sambil celingukan mencari sahabatnya itu.
"Lagi masak bikinin makan malem."
"Yaudah nanti aja kita omonginnya waktu udah selese makan malem." Juna menduduki sofa sambil memejamkan mata.
"Lu kenapa jun ? Ada yg salah setelah ketemu oliv ?" bobby menyusul duduk disebelahnya.
"Gua bingung bang, apa keputusan gua ini bener." juna memijat pelipisnya.
"Salah tentang apa ?" juna hanya diam saja dengan pertanyaan bobby ini.
Tiba-tiba yoyo sudah menyajikan hasil masakannya dimeja. Lalu berteriak memanggil seisi rumah untuk segera berkumpul. Sangat keibuan sekali.
"Bang, ayo dong buruan nih gua udah masak susah-susah." yoyo mulai mengomel karna tidak ada yg datang. Bahkan bobby dan juna yg sedang diruang tengah hanya menengok tanpa menggerakkan badannya.
"Iyee bentar." teriak bobby.
"Jun, makan dulu baru omongin semua."
"Duluan aja bang, gua panggil olivia dulu." juna bangkit dan langsung berjalan menuju kamar kekasihnya itu.
"Loh dee, oliv mana ?" juna berpapasan dengan dee didepan kamar oliv.
"Tidur kak, tadi dia dateng cuma ganti baju terus rebahan. Pas gua ajakin ngomong udah ngilang aja." jawab dee kesal karna sahabatnya itu belum menceritakan apapun setelah pertemuannya dengan juna.
"Yaudah gua duluan ya kak, laper banget." dee mengelus perutnya. Sedangkan juna hanya tersenyum melihat tingkah sahabat dari kekasihnya itu.
Juna masuk dan melihat kamar kekasihnya yg bersih khas milik gadis-gadis. Hanya saja tidak identik dengan warna pink. Olivia sedang tidur sambil memeluk bantal kecil. Juna berjalan kesamping ranjang olivia, memandanginya sambil mengelus rambut oliv yg sedikit menutupi wajahnya.
"Kamu pasti capek banget ya sayang, jangan khawatir aku bakalan ada disini terus buat kamu." juna mencium kening olivia.
Saat akan keluar kamar, juna melihat sebuah tas yg dia kenal. Saat dia menghampiri tas itu, ternyata isinya adalah baju juna yg saat itu hilang. Semua terlipat dengan rapi, tapi sepertinya baju ini belum dicuci.
"Tapi kenapa bajunya ada disini ?" batin juna. Nanti dia akan menanyakannya pada olivia. Dia mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar olivia. Malahan menghampiri ranjang dan menarik selimut, lalu mengikut oliv untuk tidur.
Tok.. Tok...
"Jun, lu nggak makan apa ?" suara yoyo terdengar dari arah luar pintu.
"Oliv lagi tidur yo, gua nyusul sama dia aja ya."
"Oke, kalo gitu gua simpen di dapur aja ya."
"Makasi, yo." suara langkah yoyo menjauhi kamar oliv.
Olivia terbangun sambil melihat jam di ponselnya, dia menyadari ada tangan yg memeluk perutnya posesif. Tangan kekar itu, dia tidak bermimpi kan. Oliv membalikkan badannya dan menemukan juna ada dibelakangnya, sedang memeluknya dengan mata terpejam.
"Ini bukan mimpi." batin oliv. Tangannya menyentuh pipi juna sayang, mengelusnya sambil merapikan rambut juna.
Pelukan juna semakin dirapatkan. Oliv yg menyadari ada pergerakan itu tiba-tiba diam membeku.
"Kenapa berhenti ?" tanya juna dengan suara khas orang bangun tidur.
"Kamu udah bangun ?" tangan juna menyentuh wajah olivia lalu mengecup keningnya. Oliv memejamkan matanya, merasakan semuanya. Bahwa ini bukanlah mimpinya yg indah, tapi ini kenyataan. Ingin rasanya malam ini akan berlanjut selamanya.
"Kita makan dulu yuk, anak bayi ini pasti lapar." juna mengusap perut olivia, lalu menciumnya sayang. Olivia hanya menjawab dengan anggukan.
Setelah keluar kamar, dee, yoyo, dan bobby sedang berkumpul di dekat kolam renang. Juna melihat keakraban diantara mereka. Lalu berjalan ke dapur bersama oliv.
"Biar aku aja kak." olivia ingin menyiapkan makan malam untuk juna.
"Kamu duduk aja sayang, kan tinggal masukin microwave aja. Aku bisa." juna menuntun olivia agar duduk manis dimeja makan.
"Baiklah." oliv pasrah jika juna sudah seperti ini. Dia tidak ingin merusak hari indah ini dengan mendebat juna.
Setelah 10 menit jun menyajikan makanan yg sudah dimasak yoyo tadi. Ternyata dia memasak steak, hanya saja keduanya dimasak dengan kematangan medium. Karna olivia sedang hamil muda, juna memanaskan hingga matangnya welldone.
"Ini spesial untuk anak papi." olivia yg mendengar itu tertawa, karna juna meletakkan piring sambil mengelus perut olivia.
"Terima kasih papi, kami akan makan dengan senang hati." suara olivia manja seperti anak kecil yg bahagia.
Kebahagian itu terlihat sampai ke balkon dekat kolam renang. Membuat hati yg melihat ini menjadi hangat, dan bahagia tentunya.
"Gua seneng liat olivia senyum kayak gitu, udah lama banget gua nggak pernah liat dia kayak gitu." dee memberikan komennya saat melihat sahabatnya itu. Merasa terharu.
"Emang biasanya dia kayak gimana ?" tanya yoyo sambil meminum winenya.
"Dia tuh sok tegar banget, padahal aslinya rapuh. Sebenernya manja, tapi didepan orang lain dia tuh galak banget, jutek juga, jauh lah sama yg kayak kita liat sekarang. Bahkan dengan mantannya saja, olivia tidak pernah bertingkah seperti ini." jelas dee panjang lebar, sambil mengingat masa lalunya bersama oliv.
"Kenapa gitu ?" tanya yoyo lagi.
"Entahlah, setau gua dia sempet ada masalah kesehatan sampe harus sering terapi." bobby mengerutkan keningnya mendengar hal itu.
"Dia pernah sakit apa ?" akhirnya bobby ikut bertanya.
"Aku nggak tau jelas kak."
"Tapi gua seneng liat dia kayak gini sekarang. Bisa nggak ya dia kayak gini terus ?" dee terlihat sedih saat mengatakan hal itu.
"Kita bisa jaga agar tidak ada yg mengganggu mereka. Tenang aja, bahkan mereka punya alasan kuat untuk terus bersama." bobby menenangkan dee sambil menyetuh bahunya.
Selesai makan, juna akhirnya berkumpul dengan kedua sahabatnya itu. Sedangkan dee sedang menemani olivia menonton film diruang tengah sambil memakan buah.
"Jun, lu bahagia ?" yoyo memulai pembicaraan.
"Tentu yo, olivia sekarang adalah pusat duniaku. Bahkan akan ada anak diantara kami." juna meminum wine yg sudah dituangkan yoyo tadi. Bobby diam-diam tersenyum mendengarnya.
"Baguslah." yoyo mengisi gelas juna yg sudah kosong.
"Oiya, tadi lu bilang ada yg mau diomongin ?" bobby mulai menanyakan hal yg memang sedari tadi ingin dibahas juna.
"Bang, tolong persiapkan pernikahan untukku dan olivia."
**********