My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 19



"Sayang, mau makan apa ?" olivia sambil mengecek isi kulkas. Sedangkan juna sedang bermalas - malasan disofa.


"Apapun yg kamu masak aku suka sayang." jawab juna malas karna masi mengantuk.


"Gitu ya, aku nggak masak deh." olivia merajuk sambil melipat tangannya didepan dadanya, karna mendengar jawaban juna yg tidak semangat.


"Kok ngambek sih, yaudah gimana kalo makan kamu aja ?" tiba-tiba juna memeluk olivia dari belakang dan menciumi tengkuk olivia sampai pundaknya.


"Lagi ngerayu yaaa ?" olivia membalikan badannya yg akhirnya didorong juna hingga menyandar dimeja pantry dan mengecup bibirnya singkat. Yang dilanjut dengan ciuman panas mereka pagi ini.


Sudah seminggu pasangan yg sedang dimabuk asmara ini selalu menyempatkan sarapan bersama sebelum mereka melakukan aktifitasnya. Terkadang sarapan di apartemen olivia atau gantian diapartmen juna. Bahkan seharian mereka bisa selalu bersama karna selain kekasihnya, olivia masih bekerja sebagai asisten juna. Kemana pun juna berada, bisa dipastikan disebelahnya ada olivia. Sekarang pun urusan baju yg akan dipakai juna semua dipilih dan diatur olivia. Hanya tinggal diresmikan saja, olivia semakin melengkapi hidup juna dan akan sulit memisahkan mereka.


Jadwal juna hari ini hanya pemotretan untuk sebuah merk sepatu. Disana ada juga gadis, yg selalu menahan untuk meledak saat melihat kemesraan juna dan olivia.


Pemotretan juna hari ini sudah selesai, gadis menyampaikan jadwal terakhir juna hari ini. Pertemuan dengan salah satu klien yg akan bekerjasama dengan juna sebagai modelnya. Dan pertemuan itu malam hari, jadi juna memiliki waktu untuk bersama olivia sore ini.


********


"Sayang kamu kok pucet banget ?" juna mengkhawatirkan olivia yg sepertinya sedang kurang enak badan.


"Iya nih, dari tadi agak mual sama nggak enak badan." olivia mengelus-elus tengkuknya untuk meredakan rasa tidak nyaman tubuhnya.


"Mau makan sesuatu ? Aku bikinin teh hangat ya sayang." nada perhatian juna tidak diragukan lagi, merasa tadi pagi kekasihnya ini baik-baik saja lalu tiba-tiba sakit. Padahal nanti malam dia ada janji bertemu klien.


"Aku tiduran aja ya sayang." olivia menenangkan juna dengan mengelus lengan kekasihnya itu.


"Yaudah aku temenin ya." Juna mengantar olivia ke kamar untuk tiduran, memeluk sambil mengelus-elus kepala dan punggungnya.


Olivia merasa sangat nyaman mencium aroma tubuh juna, sampai akhirnya dia tertidur.


Sampai malam harinya, juna merasa tidak tega harus memaksa olivia menemaninya. Akhirnya membiarkan olivia beristirahat diapartmen. Sebelum pergi, mencium keningnya dengan sayang dan membelai rambutnya.


"Cepet baikan ya sayang, kalo pergi kerja sendiri tanpa kamu rasanya nggak nyaman gini." batin juna yg memandangi olivia tidur, masih dengan tidak rela meninggalkannya sendirian diapartmen.


Sesampainya di tempat janjian juna merasa semakin tidak nyaman, karna selama bersama olivia dia sudah jarang datang ke tempat seperti ini. Tempat itu adalah bar. Sebuah bar yg terkenal dikota itu. Dengan tamu yg datang adalah orang-orang kalangan atas.


Sedangkan olivia yg masih tertidur mendengar suara ponselnya bergetar tanda pesan masuk, dibukanya sebuah pesan dari sebuah nomer tidak dikenal. Dalam pesan itu ada gambar juna dengan disekitarnya ada beberapa wanita dengan pakaian minim yg siap melayani tiap tamu diruangan itu. Olivia melihat pesan gambar itu sangat terkejut. Bagaimana tidak, olivia tidak menyangka pertemuannya ditempat seperti itu dengan hiburan seorang wanita. Tidak mungkin olivia diam, tentu saja ini mengetuk jiwa cemburunya. Olivia membalas pesan itu.


To : 08xxxxxxxx0


Ini siapa ?


Apa maksudmu mengirim gambar ini ?


Tidak berselang lama pesan itu dibalas.



From : 08xxxxxxxx0


Bar forever one, ruangan 112.


Hanya balasan itu tanpa ada penjelasan yg olivia dapat. Olivia membaca dengan perasaan marah ditambah cemburu. Langsung bersiap\-siap bergegas menyusul juna. Setidaknya melihat sendiri bahwa juna tidak tergoda. Daripada diam dan menunggu diapartmen. Membuatnya semakin berfikir yg tidak\-tidak. Olivia bahkan lupa jika sedang tidak enak badan.


Disisi lain juna merasa tidak nyaman dan tidak enak dengan fasilitas yg disugukan kliennya ini. Kalo juna bisa memilih lebih baik dia ditawari banyak minuman daripada harus dikelilingi wanita dengan baju minim dengan parfum yg menyengat ini. Semua ini sangat mengganggunya. Berbeda dengan wangi favoritnya, wangi parfum dan tubuh olivia yg lembut tapi menyegarkan. Dia sungguh ingin meninggalkan ruangan ini, dan kembali pulang memeluk kekasihnya yg sakit dirumah.


Olivia tidak menyadari bahwa semua ini adalah jebakan untuknya. Tiba\-tiba seorang waiters datang dan mempersilahkannya duduk dan menunggu. Ketikia olivia menanyakan keberadaan juna, pelayan itu hanya dengan santai memberikan buku menu dan mengatakan bahwa juna akan menyusul ketika selesai meeting. Olivia menuruti saja dan duduk. Dia tidak memesan minuman macam\-macam hanya orange juice mengingat dia sedang tidak enak badan. Lalu, berselang agak lama ada seorang laki\-laki masuk dan duduk disebelah olivia. Mencoba memeluknya. Olivia menyadari ada yg tidak beres mendorong laki \- laki itu. Bau alkohol tercium, sepertinya memang sudah mabuk.


"Galak banget sih, tapi lu makin cantik." goda lelaki itu sambil memegang dagu olivia.


"Pergi, jangan deket-deket." Olivia memundurkan badannya, dan membuang muka agar dagunya terlepas dari laki-laki itu.


"Jangan jual mahal, gua bakalan nyenengin lu." laki-laki itu masi belum putus asa mendekati olivia. Mencoba membuat olivia berada dibawahnya. Tangan olivia tidak tinggal diam mencari apapun yg bisa digunakan untuk membela diri.


PYAAAAR...


Suara pecahan botol bir yg dimeja tadi sudah membuat kepala lelaki brengsek itu terluka. Olivia sempat terlepas saat mencoba berlari, bajunya ditarik hingga bagian atas bajunya robek.


"WANITA KURANG AJAR!!!! BERANINYA LU!!!" teriak pria itu.


"JANGAAAAN!!! PERGIII!!!! PERGIII!!!!" olivia menendang lelaki itu, tapi masi terus diserang hingga tenaganya mulai habis. Tiba-tiba olivia ditampar hingga ujung bibirnya berdarah. Olivia terus menangis, berharap ada yg menolongnya. Karna dia sudah lemas, terlebih dia sendiri sedang dalam kondisi sakit dan belum makan malam.


"Lu harus bikin gua puas malem ini cewek brengsek, beraninya lu nolak gua." olivia menggelengkan kepalanya ketika pria itu akan mencoba menciumnya.


Tiba-tiba suara pintu ditendang membuat olivia menoleh, dan tanpa terasa air matanya menetes. Juna sedang dalam kondisi murka melihat olivia yg sedang menangis dan ujung bibirnya yg berdarah.


"WOY !! BERANI-BERANINYA LU SAMA CEWEK GUA!!!" Juna dengan murka menarik baju belakang laki-laki itu dan menarik olivia kedalam pelukannya.


"SIAPA LU ? DATENG-DATENG GANGGU KESENANGAN GUA!" laki-laki itu menarik balik kerah baju juna, sambil menggertakan gigi marah.


"DIA CEWEK GUA, MAU APA LU ?" Juna menantang balik dengan menarik kerah bajunya. Juna lupa disampingnya olivia sedang menangis bahkan ketakutan.


"MALEM INI CEWEK LU UDAH GUA BOOKING." kata-kata pria itu membuat juna semakin murka langsung memukul pipinya, perutnya sampai akhirnya seorang waiter datang memisahkan mereka.


"PANGGIL MANAGER KALIAN!!! GUA BISA BIKIN BAR INI TUTUP!" Juna sangat marah, melihat kekasihnya diperlakukan seperti ini. Olivia melihat ini mengelus lengan juna berusaha menenangkannya. Padahal dia sendiri sedang terguncang.


"Cukup kak, ayo kita pergi dari sini." olivia menarik keluar juna. Juna tidak tega melihat kondisi olivia langsung melepas jasnya dan memakaikan ke tubuh olivia yg bajunya sudah banyak robekan. Lalu membawanya kepelukan, sambil terus mengelus punggungnya.


"Kamu ngapain ada disini ?" Juna masih marah karena ada pria lain yg dengan berani menyentuh kekasihnya ini. Dia tidak menyangka bagaimana bisa olivia ada disana, untung saja bartender yg juga teman mereka memberitahukan keberadaan olivia saat juna selesai meeting.


Didalam mobil masih sangat sunyi, tidak ada yg membuka pembicaraan. Sampai akhirnya juna menoleh kearah olivia yg dalam dia menangis tanpa ada suara.


"Sayang, maaf yaaa.." juna mencium punggung tangan olivia.


"Aku yg minta maaf kak hiks" olivia terisak mengingat kejadian tadi.


"Seharusnya aku nggak dateng, jadi kakak nggak bakal dapet masalah.. Hiks..Gimana kalo besok berita ini muncul ? Maaf ya kak.." lanjut olivia masi terisak.


"Sayang.. udah ya nggak usah khawatirin aku, liat dong kondisi kamu udah kayak gini. Harusnya aku yg minta maaf nggak bisa jagain km. Kita liat aja aku bakalan bikin peritungan." Juna dengan nada emosi mengingat cewek mungilnya ini terluka dengan kondisi begini.


"Iya kak.. Hiks" olivia mengangguk menuruti saja perkataan juna.


"Udah nggak mau panggil sayang nih ?" juna mencoba mencairkan suasana.


"Sayaaang.. " olivia merasa ada yg menyayanginya merasa terharu. Akhirnya memanggil juna sayang yg diangguki juna sambil mengelus dan mengecup kening olivia.


"Gua harus cari tau siapa yg udah berani bikin olivia kayak gini." batin juna. Tanpa olivia tau, juna akan mencari siapa yg berani menjebak olivia sampai seperti ini.


**************