
Pagi ini olivia bangun, ada tangan melingkar dipinggangnya.
"Morning, sayangku." juna mengeratkan pelukannya saat olivia berbalik menghadapnya.
"Morning." olivia mengelus pipi juna. Melihat wajah kekasihnya yg capek, dengan kantong mata yg lumayan menghitam.
"Kapan kamu pulang ? Kenapa seharian nggak bisa dihubungin sih ?" pertanyaan olivia yg bertubi - tubi ini membuat juna tersenyum dan malah menariknya kedalam pelukan lalu mencium keningnya. Olivia merasa sangat nyaman dalam pelukan hangat dan aroma ini.
"Kita bahas nanti aja ya, aku kangen banget sama kamu." juna semakin mengeratkan pelukannya, lama berselang terdengar suara nafas teraturnya. Ternyata Juna tertidur. Karna posisi mereka berdua sama-sama nyaman akhirnya olivia kembali tertidur.
"Kalian harus selalu akur, sampai orang lain sulit untuk memisahkan." Bobby yg tidak sengaja melihat juna dan olivia yg tidur sambil berpelukan saat dia akan berpamitan ini tersenyum, lalu pergi meninggalkan apartmen juna.
Matahari sudah bersinar terang siang ini, olivia sudah bangun dengan pelukan posesif juna yg enggan melepasnya.
"Ayo bangun sayang." olivia mengelus punggung juna lembut.
"Biarin aku kayak gini seharian ya sayang." Rengek juna.
"Aku lapar, ayo makan dulu." Olivia bersiap turun dari tempat tidur.
"Nggak mau." Jawab juna dengan nada manja yg dibuat-buat. Lalu menunjuk bibirnya memberi isyarat oliv untuk menciumnya.
"Kamu bau, nggak mau."
"Yaudah kalo gitu aku aja ya." juna langsung mencium olivia, karna dia tidak ada persiapan akhirnya kalah dengan tenaga juna. Awalnya hanya kecupan, lama - kelamaan menjadi ciuman dalam yg penuh nafsu. Akhirnya, mereka baru keluar kamar satu jam setelah aktifitas ranjangnya.
"I love you." juna memeluk punggung olivia yg sedang minum di dapur.
"I love you too sayang." olivia menangkup sebelah pipi juna yg bersandar dipundaknya.
"Hueeek.. Hueeek" Olivia meletakkan gelasnya dan segera berlari ke kamar mandi.
"Kamu kenapa ?" juna menyusul olivia ke kamar mandi.
"Gatau nih enek banget." sambil mengelus perutnya, olivia duduk disofa.
"Mau makan apa ? Aku pesenin. Jangan sampe kamu telat makan." Juna memesan makanan lewat aplikasi online di handphonenya.
Tingtong...
Juna membukakan pintu, dan ternyata gadis.
"Eh, lu ngapain disini ? udah beres semuanya ?"
"Gua dateng mau ngomongin itu." gadis langsung masuk ke apartmen.
"Ada olivia, kebetulan banget." juna langsung melotot pada gadis agar tidak membahas masalah ini didepan olivia.
"Ada apa kak ?" olivia langsung menatap kearah juna dengan tatapan bertanya.
"Nggak ada apa-apa kok sayang." Juna langsung duduk sebelah oliv dan memberi tanda kepada gadis untuk tidak membahasnya.
"Lu omongin aja diruang kerja gua." gadis mengikuti juna. Olivia masih mencerna dengan apa yg terjadi.
Didalam ruangan kerja, juna duduk di kursi kerjanya dan gadis disofa.
"Lain kali jangan bahas masalah ini didepan olivia." nada bicara juna penuh peringatan.
"Sepeduli itu lu sama cewek itu ?" tanya gadis mencibir.
"Tentu, dia kekasih gua. Meskipun gua belum ngenalin dia, tapi cepat atau lambat gua bakalan ngenalin dia bukan sebagai kekasih tapi sebagai istri."
'Istri ? Hahaha apa-apaan itu nggak bakal terjadi selama ada gua.' batin gadis.
"Oke, terserah lu." jawab gadis menyetujui kata-kata juna agar dia tidak curiga.
"Jadi ada apa ?"
"Kontrak lu hampir semua yg dibatalin gara-gara kejadian ini. Bahkan ini bisa dibilang skandal, gara-gara cewek itu karir lu berantakan !" penjelasan gadis ini membuat telinga juna gatal, karena sejak kemarin kata-kata itu yg didengar.
"Siapa yg bakal nanggung ini semua ? Alex yg punya bar itu pun ikut nuntut lu dengan tuduhan merusak properti dibarnya." lanjut gadis menyalahkan.
"Harus banget ada hubungan sama cewek nggak jelas asal usulnya itu, yg bisanya bikin masalah aja." sungut gadis.
"Udah selese ? Lu berisik banget!! Ada bukti nggak lu ngomongin oliv kayak gitu ? Bahkan gua tau kalo cowok brengsek itu suruhan orang. Dan untuk properti gua masih bisa ganti rugi. Sebut aja totalnya berapa nanti gua ganti. Terus sekarang masalah apa lagi ?"
"Lu jangan gampangin gini dong, jun. Berita diluaran sana udah makin nggak jelas. Lu harus jumpa pers, kalo nggak ini makin keruh." jelas gadis.
"Nggak perlu, belum waktunya jelasin ini semua." Tiba-tiba panggilan masuk di pons3l juna.
"Iya pak, benar."
"Oke, saya turun sekarang." jawab juna yg mengangkat telfon dari pengantar makanan.
"Masih ada yg lain ? Kalo nggak terlalu urgent lu gausa sampe dateng ke apartmen. Langsung telfon gua."
"Lu mau kemana ?" tanya gadis yg melihat juna bangkit akan meninggalkannya di ruang kerja.
"Ambil pesanan makanan gua, buat oliv. Dia lagi nggak enak badan. Lu boleh langsung balik kalo emang udah selesai." sebelum gadis sempat menjawab, juna sudah keluar ruangan.
Saat keluar ruangan, gadis melihat olivia yg lemas sedang tiduran di sofa dengan wajah yg pucat.
"Alah paling pura-pura aja nih cewek." batin gadis.
"Lu sakit apa ?" gadis basa-basi bertanya.
"Mungkin penyakit lambungku kambuh kak. Dari tadi nggak enak banget ini perut."
"Hueeek.. Hueeek.. pe-permisi sebentar kak." oliv langsung lari ke kamar mandi.
"Udah bikin onar, penyakitan pula. Ngrepotin aja." gerutu gadis.
"Ada yg mau gua omongin sama lu." gadis tiba-tiba terbesit ingin menceritakan semua pada oliv yg dilihatnya baru keluar kamar mandi.
"Ada apa kak ? Ada masalah apa ?" olivia duduk sofa sambil melap bibirnya.
"Lu tau kan, sejak kejadian dibar malam itu ? Juna jadi konsumsi publik. Bahkan semua orang melihat cincin kalian yg sama dan curiga. Lalu foto-foto lu dengan pria itu juga ada. Dan karna kejadian itu, banyak klien yg memutuskan kontrak dengan juna. Kalo begini terus, karir juna yg dibangun dengan susah payah bakalan hancur dalam sekejap." mendengar itu olivia langsung menahan nafasnya. Terkejut bahwa separah ini akibat dari dia yg mudah percaya malam itu.
"Ta-tapi .. kak.. Aku bener-bener nggak kenal siapa cowok itu." olivia mencoba membela diri.
"Yg dilihat publik ada foto kalian yg bermesraan dan juna yg marah. Mana ada bukti foto yg lain yg menyangkalnya ?" gadis memojokkan olivia.
"....." olivia hanya terdiam sambil memikirkan cara untuk membantu juna.
"Apa bisa kak gadis memberitahukan perkembangan masalah ini ke aku ? Aku akan bantu sebisaku." Olivia tulus mengatakan itu, tapi justru gadis terpikiran sebuah ide brilian untuk menyingkirkan cewek ini.
"Oke, anggap saja kita sudah berteman. Karna teman juna juga menjadi temanku." gadis mengatakan itu sambil mengulurkan tangannya. Olivia yg melihat gadis mau membantunya menyambut tangan gadis tanpa sadar bahwa ada bahaya yg akan menunggunya didepan.
"Apa yg sedang kalian bicarakan ?" tiba-tiba bobby masuk membawa beberapa kantong makanan yg tadi dipesan juna.
"Kapan lu dateng bang ?" gadis terlihat terkejut dengan kedatangan bobby. Karna gadis tau bobby akan membaca rencananya, bobby lah yg paling tau perasaan terpendam gadis pada juna sejak lama.
"Barusan aja, gua lihat pintunya nggak ketutup rapat. Jadi gua langsung masuk aja." jelas bobby, membuat gadis mengela nafas lega karna tau bobby tidak mendengar pembicaraannya dengan oliv.
"Oh.."
"Liv, ini makanan pesenan juna. Buruan dimakan." bobby meletakkan makanan itu dapur, bersiap-siap untuk menyajikan.
"Biar oliv aja kak." Oliv ke dapur merasa tidak enak jika bobby menyajikan makanannya.
"Udah nggak papa kok." bobby sambil menyuruh olive mundur.
'Ini apaan dah, dua cowok ketus banget sama gua biasanya bisa jadi kalem sama cewek brengsek ini.' batin gadis dongkol dengan pemandangan ini.
"Bang, gua balik deh." gadis benar-benar kesal melihat ini semua.
"Nggak nunggu kak juna balik kak ?" oliv menanyakan gadis untuk menunggu juna datang.
"Langsung balik aja, paling nanti ketemu dibawah kalo nggak gua telfon aja." jelas gadis sambil memberi kode oliv dengan menunjukan ponselnya agar nanti melanjutkan pembicaaran disana.
"Eh, mau kemana lu ?" tiba-tiba juna ada didepan pintu saat gadis akan pulang.
"Mau pulang, sakit mata gua." sungut gadis yg tidak dipedulikan juna. Gadis melihat perlakuan juna itu hanya menghentakkan kaki tanda tidak terima dan langsung pergi.
Saat juna masuk makanan sudah terhidangkan di meja makan, dan oliv dengan wajah pucatnya duduk disana.
"Loh kok makanannya udah disini ?" juna bertanya pada oliv.
"Gua yg bawa, habisnya gua tadi liat kurirnya gak bisa anter kedalem karna nggak dibolehin satpam baru. Waktu dia telfon lu ya langsung gua samperin aja. Sekalian kan." Jelas bobby.
"Lu juga yg nyiapin ? Kenapa nggak nunggu gua sih ?" juna kesal melihat bobby yg juga perhatian pada oliv.
"Lu lam....." bobby belum menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba olivia sudah berlari.
"Hueeek... Hueeek.." ini yg ketiga kalinya untuk hari ini. Juna dengan cemas menyusul olivia.
"Sayang, gimana kalo kita ke dokter aja ?" melihat kondisi olivia ini juna sangat khawatir. Tapi olivia yg masih muntah hanya memegang lengan juna dan menggelengkan kepala.
"Suruh aja dokter jeanne kesini." Bobby memberi solusi, agar olivia tetap bisa tinggal melihat situasi yg tidak memungkinkan mereka ke rumah sakit.
"Boleh juga ide lu bang.. Sayang, aku telfon dokter jeanne dulu ya." Juna meninggalkan olivia menuju ruang kerjanya sambil menelfon. Dokter jeanne memang dokter pribadi juna, bobby yg mengenalkan mereka karna dokter jeanne adalah temannya.
"Liv, sebelumnya udah pernah tes belum ?" bobby menghampiri oliv yg masih bersandar didepan pintu kamar mandi.
"Tes apa kak ?" dia tidak mengerti maksud bobby.
"Tes kehamilan." Olivia mendengar itu tiba-tiba melotot, merasa tidak mungkin dia hamil anak juna. Bahkan dalam waktu secepat ini.
"Mana mungkin kak." olivia mengelak.
"Coba aja, nanti gua beliin tespacknya. Tapi lu nggak perlu kasih tau juna dulu. Kita bikin dia terkejut kalo emang bener." bobby tersenyum jail membayangkan ekspresi juna.
"Hmm baiklah kak."
***************