My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 31



Malam ini, olivia dan dee sedang asik menonton film diruang tengah. Tiba-tiba ponsel oliv berbunyi, ternyata ada sebuah pesan. Saat dibuka, handphone itu terjatuh ke lantai hingga menarik perhatian dee yg sedang asik.


"Lu kenapa ?" tanya dee sambil menoleh ke sahabatnya yg matanya mulai berair. Tanpa menunggu lama, dee langsung mengambil ponsel oliv dan melihat pesan itu.


"Sialan!! Kenapa bisa gini sih!!" Dee marah sambil beranjak menjauh dari olivia, dia langsung melakukan panggilan.


"Halo." terdengar suara telfonnya sudah diangkat.


"Kak, kok bisa gini sih ?"


"Kenapa ?"


"Tunggu gua kirim." tanpa menunggu lama dee meneruskan pesan gambar itu pada bobby.


"Kasih gua waktu 30 menit, nanti gua jelasin." bobby langsung menutup telfon tanpa menunggu jawaban dee.


Dee langsung berbalik, melihat sahabatnya itu mulai menangis tapi mengeluarkan suara. Baru saja olivia kembali ceria. Kenapa tiba-tiba ada masalah foto pertemuan keluarga gadis dengan keluarga juna. Tetapi dee merasa aneh, karena disana tidak ada kehadiran juna. Seharusnya ini memang ada hubungannya dengan rencana alex dan gadis selanjutnya.


"Lu tenang dulu, belum tentu ini bener kan." dee memeluk sahabatnya itu, tapi yg dipeluk hanya diam saja sambil terus menangis.


"Nggak mungkin kak juna ngekhianatin elu, jelas-jelas dia cinta banget sama elu. Tenang dulu yah." sambil mengusap-usap punggung oliv.


"Tapi emang mereka udah kenal lama kan, nggak mungkin keluarga mereka nggak saling kenal. Lagian juga lebih gampang buat mereka dapat restu." akhirnya olivia angkat bicara dengan suara pelan.


"Asal juna bahagia, gua cukup dengan anak dan kenangan dia aja." olivia mengelus perutnya sambil menangis.


"STOP MIKIRIN ORANG LAIN TERUS OLIV!!" bentak dee.


"Sekali-kali lu harus mikirin diri lu sendiri. Dari awal gua kenal sama lu, lu selalu aja ngalah sama orang lain. Sama adek lu terutama, sama selingkuhan mantan lu itu, dan sekarang kenapa harus mengalah sama orang yg nggak penting kaya gadis sih. Lagian disini tuh ada anak juna, jelas-jelas gua tau dia cuma cinta sama lu aja." lanjut dee yg terbawa emosi melihat sahabatnya itu selalu mengalah tanpa memikirkan bagaimana dengan dirinya sendiri.


"Tapi anak ini bukan senjata dee, dia anak gua. Masa gua pake anak ini buat ngiket juna." olivia menyandarkan dirinya ke sofa sambil menutup matanya.


"Lu tau kan siapa juna ? Siapa yg nggak mau sama dia ? Dia tuh bisa banget bikin hamil banyak anak orang, tapi kenapa harus lu ? Dengan sikap dia yg jutek banget sama cewek lain, kenapa beda sama lu ? Apa lu nggak mikir sampe kesana ?" dee mulai kesal melihat sahabatnya itu.


".........."


"Gua tau lu lagi hamil, hormon lu tuh bisa naik turun banget. Tapi plis banget bisa kan mikirnya lebih baik dari ini ?"


"Inget nggak, lu pernah bilang sama gua kalo cinta tuh nggak pernah salah kalo milih. Anggep aja ini emang ujian kalian sama anak bayi ini." lanjut dee menceramahi oliv agar segera sadar. Tapi oliv tau semua kata-kata dee itu benar, bahkan terdengar lebih menguatkan meskipun dengan nada galaknya.


"Iya."


"Gitu doang jawaban lu ? Gua nih ngomong sampe berbusa tau nggak ?" olivia langsung menyandarkan kepalanya di bahu dee.


"Bisa ngga lu diem dulu." akhirnya kalimat ini sukses membungkam dee.


**********


Keadaan dirumah juna mulai tegang, karna papanya mulai terpancing amarah melihat sikap anaknya tadi. Padahal dia tau, bahwa hubungan keluarga diantara keluarga gadis dengan keluarga juna sangat baik. Mereka bahkan tumbuh bersama.


"Pa, juna sudah memiliki calon. Harusnya papa dukung aku dong."


"Siapa calon kamu, dari keluarga mana dia ? Apa wanita yg lebih baik daripada gadis ?"


"Baik pa, semuanya tentang dia itu baik." juna tidak sabar lagi melihat sikap papanya yg lebih memihak kepada keluarga gadis.


"Pa, jadi menurut pendapat papa gimana ?" tanya papa juna kepada kakeknya. Karena papanya tau berdebat dengan juna tidak akan mendapat jawaban.


"Juna, kenapa tidak dicoba dulu dengan gadis ?" akhirnya kakek angkat bicara.


"Kek, sebenarnya juna sudah memilih calon juna sendiri."


"Apa dia layak seperti yg papamu katakan ?"


"Sangat layak." jawab juna dengan nada penuh keyakinan.


"Baiklah, bawa dia datang bertemu dengan kami." sambung nenek juna yg sedari tadi hanya diam saja.


"Tapi.... dia sedang menghilang kek. Aku membutuhkan bantuan kakek untuk menemukannya."


"Belum apa-apa sudah pergi ?" papa juna bertanya dengan nada menyindir.


"Dia pergi bahkan untuk menyelamatkan karirku pa."


"Lalu apakah setelah kepergiannya menjamin dia tidak pergi dengan lelaki lain, paling alasan saja dia menyelamatkan karirmu."


"Berani kamu membantah papa demi wanita yg tidak jelas itu ?" gio ikut berdiri karna terpancing emosi. Yasmin yg melihat pertengkaran anak dengan ayahnya itu langsung menenangkan juna dan menyuruhnya duduk kembali.


"Liat aja tuh dia kamu belain terus jadinya kurang ajar gini kan." gio semakin marah melihat istrinya yg membela anaknya.


"Sudahlah marah juga nggak akan menyelesaikan masalah." yasmin mengusap lengan suaminya.


"Namanya olivia, dia dulu adalah asistenku kek. Dan sekarang dia sedang mengandung anakku." kata-kata juna itu membuat semua orang terkejut, kecuali mamanya.


"APA KAMU BILANG ? HAMIL ANAK KAMU ?" bentak gio sambil menunjuk anaknya itu.


"Iya pa, itu anak aku. Cucu papa, dan cicit kakek." jawab juna singkat.


"Dan aku ingin bertanggungjawab dengan segera menikahinya." lanjut juna.


"Kamu membuat kakek kecewa juna." kakek bangkit dari duduknya dan segera pergi meninggalkan ruang tamu sambil ditutun oleh istrinya.


"Papa juga kecewa sama kamu juna." karena terlalu terkejut papa juna langsung pergi ke kamar begitu saja.


"Sayang, kamu sudah mengatakannya. Sekarang giliran mama yg akan bantu kamu bujuk papa dan kakek. Sementara pulang dulu ke apartmen kamu aja ya nak, kondisinya sedang tidak kondusif." yasmin memeluk anaknya sambil mengusap punggungnya.


"Makasi ma. Juna pamit ya." juna mencium kening ibunya itu.


"Eh, mau kemana lu ? Masih ada gua nih, nggak pamit sama gua ?" sindir yuna yg masih setia duduk meihat drama keluarga yg hanya terjadi ketika juna bertingkah.


"Gua balik, kak."


"Sini dulu." panggil yuna.


"Gua seneng akhirnya ada juga ya cewek yg bisa bikin adek gua yg kaku ini jadi dewasa. Gua bakal dukung lu, kalo lu butuh bantuan jangan sungkan kabarin gua." yuna memeluk adiknya sambil menepuk-nepuk punggung juna. Mereka memang selalu saling mengejek tapi yuna adalah pendukung setia juna setelah mamanya.


"Makasi kak, gua tau lu yg terbaik." juna membalas pelukan kakaknya.


"Bentar lagi gua jadi aunty dong ?" juna hanya mengangguk.


"Mana coba gua liat asisten yg bisa rebut hati lu tuh." goda yuna.


"Nih, coba liat." juna menunjukkan foto olivia diponselnya. Yuna merasa tidak asing dengan wajah olivia, langsung mengerutkan alisnya.


"Kenapa muka lu gitu ?" tanya juna penasaran melihat ekspresi kakaknya itu.


"Kayaknya gua pernah liat olivia deh jun. Tapi gua lupa bener dia atau enggak."


"Masa sih ? Setauku dia nggak tinggal disini."


"Oh, mungkin mirip aja. Yauda buruan pulang sebelum papa marah-marah lagi."


"Yauda gua balik." juna memeluk singkat kakaknya itu.


Diperjalanan juna memikirkan kata-kata kakaknya itu, karena saat pertama kali melihat olivia dulu sepertinya dia pernah melihatnya juga. Sangat mirip dengan seseorang. Sedang asik-asiknya melamum tiba-tiba juna menerima telfon.


"Weee selamat jun, gua denger lu mau tunangan." suara bobby terdengar santai tapi penuh dengan sindirin bagi juna.


"Iya sama oliv kan bang."


"Kayaknya orang tua gadis tadi yg gua liat, kok lu tunangannya sama oliv ? Salah orang kali." ejek bobby semakin menjadi-jadi.


"Lu gila apa gua mau tunangan sama gadis." hanya terdengar suara tawa bobby disebrang sana.


"Ya gua kira lu udah move on dari oliv secepet ini."


"Woy inget lu ya, olivia tuh satu-satunya yg diijinkan mengandung anak gua. Jadi cuma dia kandidat terkuat buat jadi istri gua."


"HAHAHA.. Baiklah tuan archer, kalo lu berubah pikiran gua akan siap menggantikan posisi lu jadi suami oliv."


"Brengsek lu, nggak akan." setelah tawa bobby yg semakin terbahak-bahak telfon langsung dimatikan.


Juna memaki ponselnya itu melihat tingkah sahabatnya yg kurang ajar, bukannya membantu malah dia diejek habis-habisan.


"Sayang, kamu dimana sih ? Nggak kangen apa ? Udah lama banget kamu pergi ninggalin aku disini sendirian." batin juna sedih jika teringat masalah olivia.


*****