
"Liv...." dee memanggil sahabatnya yg dari tadi melamun setelah mendengar kabar pertunangan juna dengan gadis.
"Gua pengen sendiri dulu dee, bisa nggak ?" dee langsung mengangguki permintaan olivia.
Olivia masuk ke dalam sebuah ruangan, lalu pintu kamar itu dikunci.
"Dee, mana oliv ?" tanya kanu.
"Dia dikamar itu." dee menunjuk ruangan yg dimasuki oliv tadi.
Sedangkan sedari tadi juna sedang membicarakan masalah pertunangannya itu bersama bobby, jerry, dan hervi diruang kerja juna.
"Gua harus gimana bang ? Gua bener-bener nggak nyangka papa bakal urus pertunangannya secepet ini." bobby berdiri lalu menghampiri juna dan menepuk bahunya.
"Gua tau, tapi kita harus kembali ke rencana awal kita. Lu sebelumnya juga udah tau bakal gini." bobby masih menepuk bahu juna.
"Sekarang kita harus jelasin rencana ini ke olivia juga, dia berhak tau jun. Dia istri lu sekarang, kejadian ini pasti nggak mudah juga buat dia." jerry memberi saran pada juna yg diangguki hervi.
"Gua setuju sama lu jer, lagian lu nggak sendiri jun. Kita bakalan bantu jaga olivia juga selagi kita membongkar tujuan gadis dan alex." hervi menepuk bahu juna juga.
"Lu siapin mental aja." hervi mengatakan itu lalu berlalu keluar meninggalkan ketiga sahabatnya.
**********
Hari yg ditunggu-tunggu gadis sudah tiba. Hari ini adalah hari pertunangannya dengan juna. Dia seharian ini menyiapkan dirinya untuk pesta pertunangannya nanti malam. Kesalon untuk menata rambutnya, menicure, pedicure, dan terakhir ke butik untuk mengambil gaun yg akan digunakannya nanti.
Sedangkan juna seharian ini sangat pendiam, Dua hari ini istrinya mendiamkannya, dia tau olivia pasti tidak mudah menerima semua rencana ini. Meskipun ini bertujuan untuk melindunginya dan anak mereka. Tapi, siapa yg rela melihat suaminya harus bertunangan dengan wanita lain.
Wanita ini bukan wanita biasa, dia lah yg membuat olivia meninggalkan juna saat itu. Dia lah wanita yg memiliki sejuta cara untuk memisahkannya dengan juna. Meskipun pada akhirnya mereka bisa bersatu lagi, tapi hal buruk masih akan menghantui olivia.
Olivia melamun didekat jendela kamarnya, melihat keluar pemandangan yg bisa dia lihat dari kamarnya. Tatapannya kosong. Sekosong hatinya. Baru beberapa hari dia resmi menikah, merasakan kebahagiaan. Tapi hari ini dia haru menerima hal buruk lainnya. Dan mungkin kemungkinan buruk lainnya.
Siang ini, dee sengaja datang karna juna menelfon. Dia mendapatkan tugas untuk menghibur dan menemani olivia. Mungkin saja dengan kehadirannya, olivia mau meluapkan isi hatinya. Daripada dia harus diam menahan semua, juna khawatir akan berdampak pada kandungannya.
"Liv.." panggil dee yg masuk ke kamar oliv.
"....." yg dipanggil masih diam saja.
"Mau keluar nggak ? Jalan-jalan yuk." dee mengelus lengan sahabatnya itu. Olivia menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia mendengar hanya saja masih belum bisa menceritakan semuanya. Dia masih menyiapkan hatinya untuk menerima ini.
Juna masuk sambil membawa segelas susu untuk oliv. Dee yg melihat hal itu langsung mengambil nampan dengan gelas susu itu lalu memberi kode agar juna keluar saja.
"Nih liv, minum dulu. Ponakan gua butuh nutrisi." dee mengulurkan tangannya untuk memberikan susu.
"Makasih." olivia akhirnya mau berbicara meski hanya satu kata, sambil menerima dan langsung menghabiskan susu tersebut.
Setelah meletakkan susu dimeja kecil disebelahnya, olivia memanggil dee.
"Dee.."
"Kenapa liv ? Ada yg sakit ?"
"Gua pengen keluar, lu temenin ya." olivia langsung bangkit dan bersiap-siap sebelum dee menjawab.
"I..iya gua temenin." dee menjawab sambil memperhatikan sikap olivia.
Setelah itu olivia langsung keluar, mengambil kunci mobil yg memang juna berikan untuknya.
"Yuk dee." olivia langsung melengos keluar, membuat juna yg duduk diruang tamu memperhatikan dengan wajah yg sulit diartikan. Dia bingung dengan sikap oliv, lalu dee memberi kode akan memberi kabar dengan mengangkat ponselnya.
"Ayoo dee..." olivia melihat sikap dee yg berbicara dengan bahasa isyarat mata dengan juna.
"Eh.. ayo.. ayo.." mereka berdua langsung keluar menuju parkiran mobil.
Dee tidak ingin mendebat olivia, karna dia ingin mengemudi mobil sendiri. Hari ini dia hanya ingin mengikuti kemana pun olivia pergi. Sampai sahabatnya itu siap membagi isi hatinya.
Karena sangat khawatir, juna menelfon bobby dan menceritakan tentang olivia. Dia meminta tolong untuk mengawasi kemanapun istrinya itu pergi. Sore ini dia harus menjemput yuna dan mamanya di butik sebelum ke tempat acara pertunangannya.
Olivia sebenarnya hanya berputar-putar didaerah dekat apartmen yg dia tinggali. Dengan pandangan yg kosong. Dee masih diam saja dan tidak berkomentar apapun. Airmata pun akhirnya menetes dipipi oliv.
"Dee, apa semua ini beneran harus terjadi ?" dee menoleh ketika oliv mulai berbicara. Akhirnya yg dia tunggu-tunggu membuka suara.
"Ini kan hanya sandiwara liv, tenang aja." dee menepuk bahu oliv lembut.
"Tapi pertunangan mereka menjadi pembicaraan dee, dimana pun aku membuka mata."
"Gua tau."
"Gua nih istrinya loh, tapi kenapa gua yg disembunyikan."
"Terlalu beresiko liv untuk sekarang." air mata masi menetes dipipi olivia meskipun dia menggunakan kacamata hitam.
"Kita pulang aja yuk, bahaya kalo lu diluar gini. Lu mending istirahat." lanjut dee membujuk olivia. Dia sangat tau ini bukan hal yg mudah, meskipun hanya sandiwara.
Akhirnya olivia menuruti dee dan kembali ke apartmennya. Setelah mobilnya sudah terparkir, olivia bertemu dengan juna yg akan keluar lift.
"Sayang.." panggil juna, tapi olivia hanya melewatinya.
"Oliv.." panggil juna lagi saat olivia memasuki lift.
Karna diam saja, juna memutuskan untuk mengikuti oliv masuk ke dalam lift lagi. Sedangkan dee keluar untuk memberi ruang untuk mereka berdua.
"Sayang.." juna menyentuh tangan olivia dan menggenggamnya, tapi oliv masi terdiam.
"Sayang.. dengerin aku dulu ya." juna memegang bahu oliv agar mau menghadapnya.
"Denger apa ?" akhirnya oliv menjawab, tapi pandangan matanya menghindari juna.
Juna memegang dagu oliv untuk melihat ke matanya. "I love you, sayang" kata juna. Air mata olivia tidak bisa dibendung lagi, akhirnya dia menangis.
Olivia menangis dipelukan juna. Menumpahkan segala yg dia pendam beberapa hari ini. Mungkin ini juga efek hormon kehamilannya. Juga diperparah dengan keadaan.
"Sampai kapan pun, cuma ada kamu. Ini semua bukan apa-apa buat aku." kata juna sambil mengecup puncak kepala oliv.
"Tapi aku nggak siap nerima semua ini." lanjut oliv yg makin terisak.
"Sampai kapanpun aku ini suamimu, dan hanya ada 1 wanita saja dihidupku." juna mengatakan itu sambil mengelus punggung oliv, menyalurkan energi positif agar istrinya itu tetap kuat.
Dalam hatinya pun juna tidak siap harus melakukan hal ini, tapi dia tidak bisa menunjukkan didepan oliv. Melihat olivia menangis dan lemah seperti ini membuat hatinya hancur.
Sesampainya dipenthouse mereka, juna mengantarkan olivia ke kamar tidur mereka sambil terus memeluknya.
"Sayang, boleh aku minta satu hal ?" juna bertanya.
"Apa ?" olivia menatap juna yg menarik cincin pernikahan mereka dari jarinya. Lalu, meletakkan pada telapak tangan oliv.
"Maksud kamu apa ?" tanya oliv dengan suara bergetar.
"Aku menitipkan cincin ini untuk malam ini padamu sayang. Setelah acara pertungan ini aku hanya akan memakai satu cincin dan itu cincin pernikahan kita." tangan oliv menggenggam cincin juna.
"Oke."
"Makasi sayang." juna mencium kening oliv. Dalam hatinya juna merasah bersalah "Maafkan aku sayang." batin juna.
**********
Pesta pertunangan juna sangat mewah, semua ini dipersiapkan oleh keluarga gadis. Bahkan cincin pun gadis yg memilihnya. Juna tidak terlibat apapun dalam acara ini.
"Siap sayang ?" mama juna menepuk bahu anak lelakinya itu. Terlihat juna menghembuskan nafasnya kasar.
"Juna nggak akan siap ma, ini bikin oliv sedih." mama juna yg mendengar hal itu mengelus punggung anaknya.
"Mama tau ini nggak mudah. Tapi kita juga harus percaya dengan rencana kakek."
TOK....TOK...
"Jun, ayo." yuna masuk dan menarik tangan juna. Mama juna yg melihat itu hanya menganggukan kepala.
Saat turun dari ruang ganti, juna menyapa kakek dan neneknya. Lalu menyap beberapa kolega bisnis keluarga mereka. Tamu yg diundang merupakan orang-orang penting dan juga mereka memiliki hubungan bisnis yg baik dengan keluarga archer.
"Jun.." panggil kanu.
"Lu baik-baik aja ?" sambung hervi.
"Hmmm." jawab juna sambil mengangguk dan menepuk bahu hervi.
"Gua tau ini susah, jun." sambung yoyo. Lalu tiba-tiba mata mereka menoleh pada gadis yg sedang menuruni tangga.
Malam ini, gadis menggunkan gaun berwarna merah yg fit dibadannya dengan panjang sampai menutup kakinya, beruntung dia menggunakan heels yg tinggi membuatnya telihat lebih jenjang. Riasan malam ini menurut juna sedikit berlebihan, polesan lipstik berwana merah yg senada dengan gaunnya. Dan rambutnya distyle french twist untuk menambah kesan glamor ditambah dengan hiasan rambut bertabur berlian, senada dengan kalung dan antingnya.
"Selamat buat pertunangan lu." suara yg tidak asing itu sontak membuat juna menoleh.
"Thanks." juna membalas jawab tangan alex.
"Lu terkagum melihat gadis sampe nggak sadar gua dateng ?" goda alex.
"Biasa aja." jawab juna jutek. Sahabat-sahabat juna sudah memutar mata malas melihat tingkah alex yg sok akrab.
Gadis yg melihat keberadaan juna langsung menghampirinya.
"Hai, calon tunangan." goda gadis sambil memeluk lengan juna.
"Calon suami kali sekarang." tambah alex yg membuat wajah gadis tersipu malu. Juna yg melihat hal itu hanya diam saja.
"Gua permisi bentar." kata juna sambil melepas pelukan erat gadis dilengannya, merasa risih. Juna menemui bobby dan ini hanyalah alasannya saja untuk kabur.
"Ngapain lu kesini, udah kegirangan tuh cewek." kata bobby sinis.
"Bang, lu harus pastiin gak ada foto tentang acara ini yg dikirim ke oliv."
"Gua tau, udah peranin jadi tunangan yg baik sono." usir bobby sambil menegak langsung wine nya.
"Sialan lu bang." juna yg kesal melihat sikap bobby meminta wine juga.
Pertunangan dimulai, wajah semua orang terlihat bahagia. Kecuali juna. Bahkan mama juna dan kakaknya memainkan peran sangat baik.
"Hari ini adalah awal kamu bakalan jadi milik aku." batin gadis saat memakaikan cincin ke jari juna.
Acara pertunangan berjalan lancar. Juna langsung berkumpul dengan sahabat-sahabatnya seusai acara utama. Karena sedari tadi, gadis mencari-cari celah untuk mendekati dan menggodanya. Juna tau gadis sedikit mabuk. Untuk menghindari hal-hal yg tidak perlu.
"Jun, aku pusing banget nih. Bisa anter aku ke kamar nggak ?" Gadis berpura-pura berdiri sambil sempoyongan didepan juna. Padahal sebenarnya dia tidak terlalu mabuk.
"Lu sendiri aja, gua masi mau disini sama mereka." jawab juna cuek.
"Tapi sekarang aku tunangan kamu, seharusnya kamu jagain aku dong." rengek gadis.
"Gua masih sibuk, ada urusan. Lu ke kamar lu sendiri aja." juna mencoba melepaskan tanga gadis di lengannya.
"Kamu kok gitu sih ngomongnya masi gua-lu. Aku nih tunangan kamu loh, bentar lagi jadi istri kamu." jelas gadis sambil masi mencoba memeluk lengan juna.
Bobby berbisik kepada juna, "Gua risih banget liat tunangan jadi-jadian lu ini, mending buruan lu anter daripada gua bertindak." juna mendengar itu tersenyum kecut.
"Sialan lu bang." jawab juna. Yoyo yg berada didekat mereka tertawa mengejek nasib juna malam ini.
"Ayooo dong jun, pusing banget nih." ajak gadis dengan nada manja.
Akhirnya juna pasrah menuruti kemauan gadis, mengantarnya menuju kamarnya. Pertunangan mereka memang diadakan disebuh hotel, jadi setelah acara ini gadis dan keluarganya juga menginap disana.
Setelah sampai didepan kamar, juna ingin segera beranjak pergi. Tapi gadis memainkan sandiwaranya semakin baik, hingga mau tak mau juna mengantarkannya sampai kedalam kamar.
"Malam ini, kamu bakal jadi milik aku seutuhnya jun." batin gadis sambil tersenyum menang sekilas.
**********