My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 32



Sudah seminggu berlalu semenjak juna mengatakan kepada keluarganya tentang olivia. Tapi, belum ada kemajuan dari usahanya kali ini. Mamanya juga sedang membantunya untuk membujuk papa dan kakeknya, untuk tidak menerima hubungan pertunangannya dengan gadis. Sedangkan kakaknya, Yuna sedang berusaha membantu adiknya menemukan keberadaan olivia. Seseorang yg mampu merubah juna kembali.


Sebelumnya, saat masih dibangku SMA ada seorang adik kelas juna disekolah yg mampu membuat juna menjadi orang yg ceria. Hanya sebatas itu cerita yg yuna tau dari semua yg juna ceritakan, berserta foto cewek yg cantik dengan tubuh mungil.


Adiknya yg jutek, dingin, dan keras kepala itu hanya memiliki teman-temannya, ditambah gadis yg memang sejak kecil sudah berteman dengan juna. Tapi, hanya bobby, yuna, dan mamanya saja yg bisa mendekatinya, bahkan membuatnya menceritakan apa yg ada diperasaannya.


Untuk perasaannya pada gadis, tentu saja hanya sekedar teman sejak kecil saja. Hanya saja gadis menganggap lain. Dia merasa paling mengetahui tentang juna, semua yg dia suka, semua yg dia tidak suka, maka dari itu dia mengusulkan pada papanya tentang hubungan ini. Selain untuk rasa ingin memiliki juna lebih dari sekedar teman.


Drt..drt...


"Kenapa kak ?"


"Lu buruan kerumah!!" suara yuna memerintah dari sebrang sana.


"Ada apa ?"


"Nggak usah banyak tanya, gua sendiri nggak tau. Mama yg suruh gua hubungin lu."


"Oke." yuna langsung menutup telfonnya.


Dalam perjalanan menuju rumahnya, juna memikirkan banyak hal. Apa yg akan terjadi dengan hubungannya dengan oliv, akan lebih buruk atau ada kemajuan. Juna menginjak pedal gasnya semakin dalam, merasa perasaanya tidak enak.


"Ma..."


"Kamu masuk dulu ya sayang." mamanya tidak membiarkan juna meneruskan kata-katanya.


"Oke." juna berjalan memasuki rumahnya. Melihat disekitar ruang tamu yg kosong, merasa aneh langsung menoleh kearah mamanya.


"Kamu langsung keruangan kakek aja ya sayang. Mama juga nggak tau ada apa." mamanya itu mengusap lengan juna menenangkan dan memberikan kekuatan pada anaknya.


Tok...Tok....


"Kakek, ini juna." dengan sopan juna tetap mengetok pintu ruangan kakeknya itu. Meskipun dia adalah cucu kesayangan, tapi tentang kesopan santunan tetap yg utama.


"Masuklah." perintah kakek dari dalam ruangan. Terlihat neneknya sedang merajut dikursi dekat jendela.


"Mama bilang kakek ingin bicara, ada apa kek ?"


"Mmmm... Sebelumnya juna mau minta maaf." lanjut juna.


"Minta maaf untuk apa ?"


"Kesalahan yg juna buat, juna tau ini akan merepotkan kakek dan mungkin mempermalukan keluarga. Tapi, juna ingin bertanggungjawab dengan semua yg sudah juna lakukan." juna menundukan kepalanya menandakan penyesalan.


"Apa kau benar-benar mencintai wanita itu ?" tanya kakek sambil membaca koran, seakan tidak peduli. Padahal sebenarnya kakek mengintip saat juna menjelaskan tentang perbuatannya. Mengingatkan kakek kepada juna kecilnya, yg selalu meminta maaf ketika berbuat salah, yg selalu manja kepadanya. Meskipun saat tumbuh dewasa beberapa sifat juna berubah.


"Aku sangat mencintainya,kek. Hanya dia." jawab juna dengan percaya diri.


"Apa kau tau dimana dia sekarang ? Apa yg sedang dia lakukan ?"


"Tidak kek, dia menghilang. Bahkan aku sudah berusaha mencarinya, tapi dia seakan menghilang tanpa jejak."


"Baiklah, untuk sementara kita lupakan masalah ini. Dan selesaikan urusan pembangunan resort kita yg ada di Bali. Setelah kau kembali, pikirkan tentang pertunanganmu dengan gadis."


"Tapi..... kek...."


"Sekarang keluarlah, urusan kakek denganmu sudah selesai."


"Baiklah kek, juna pamit." juna langsung keluar dari ruangan kakeknya itu dan menutup pintunya dengan sangat pelan dan seperti kehilangan harapan.


Yasmin melihat wajah anaknya yg keluar dengan tatapan kosong itu, langsung menghentikan aktifitasnya membaca majalah.


"Sayang, ada apa nak ?" juna dituntun mamanya untuk duduk disofa ruang tamu.


"Tunggu disini bentar, mama mau kedapur." juna menyandarkan kepalanya disofa sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba kepalanya terasa berat.


"Ini mama siapkan teh chamomile buat km sayang, diminum dulu."


"Iya ma, nanti juna minum ya."


"Mau cerita sekarang nggak ?" mamanya masih terus mengusap lengan juna.


"Juna harus kembali kekantor dulu ma." juna langsung meminum teh buatan mamanya itu dan segera bangkit.


"Kamu bisa cerita kalo udah siap ya sayang, langsung telfon mama." juna mencium pipi mamanya dan segera pergi meninggalkan kediaman keluarganya itu.


Juna menjalankan mobilnya dengan tatapan kosong, tidak tau harus kemana. Sekarang bukan hanya menemukan keberadaan olivia saja yg menjadi tugasnya. Tapi kakeknya sudah mengatakan tentang pertunangannya dengan gadis yg mutlak tidak bisa diganggu gugat.


Bagaimana nasib hubungannya dengan olivia ?


Semua itu berputar-putar dikepala juna, tidak bisa membayangkan untuk hidup dengan wanita lain selain olivia. Bahkan tidak sanggup membayangkan nasib anaknya yg lahir tanpa ayah, dengan kondisi kelurga olivia yg tidak mendukungnya. Dia sendirian, menanggung semuanya sendirian bersama seorang anak yg tidak bersalah.


Mungkin cinta tidak pernah salah memilih siapa orangnya, tapi mengapa jodoh juna harus dengan orang yg salah. Yg tak pernah ada dalam benaknya, bahkan dihatinya tidak pernah terselip sedikitpun cinta untuk gadis.


Juna mengambil ponselnya, langsung melakukan panggilan ke kakaknya.


"Kak, lu beneran belum nemu dimana kira-kira oliv berada ?"


"Belum jun, kenapa sih ?"


"Gua disuruh kakek ke bali, pulang dari sana tunangan sama gadis."


"APA!!!!!!" yuna berteriak karna terkejut.


"Lu nggak usah teriak, kepala gua udah pening banget."


"Gua secepetnya bakalan nemu dimana olivia berada, lu tenang aja. Gua nggak akan biarin lu tunganan sama gadis." jelas yuna yg malah lebih panik daripada adiknya.


"Gua percayain sama lu kak." jawab juna lesu.


"Urus dulu kerjaan disana, uruan olivia biar kakak aja. Yauda gua mau ketemu klien." panggilan itu langsung diputus.


Juna menghela nafas, tidak ada tujuan dalam otaknya. Urusan kantor tidak ada dalam pikirannya kali ini. Akhirnya dia memutuskan kembali ke apartmennya.


**********


Malam ini juna janjian bertemu dengan teman-temannya di bar biasa mereka kumpul. Juna diam saja sambil meminum minuman yg dipesannya.


"Lu kenapa sih ?" yoyo memang yg paling perhatian selain bobby, tapi juna tetap diam.


"Dia mau tunangan sama gadis ?" Bobby dengan santainya menyampaikan kabar itu.


"APA??!??!?" semua teman-temannya kompak berteriak, kaget dengan kabar itu.


"Jun, beneran lu..." yoyo tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karna tiba-tiba gadis datang.


"Hai, calon tunangan aku." sapa gadis centil yg langsung memilih duduk disebelah juna. Membuat jerry yg duduk disebelah juna jadi bergeser.


"Lu apaan sih dis, kayak naik angkot aja dusel-duselan." omel jerry tidak suka melihat sikap gadis yg seenaknya sendiri.


"Apaan sih lu, sebelah sana kan luas."


"Ya kenapa nggak lu aja yg duduk sana." jerry semakin kesal dengan sikap gadis.


"Berisik lu." jawab gadis cuek.


"Jun, beneran kamu mau ke bali dalam waktu lama." gadis mencoba memeluk lengan juna. Sedangkan juna hanya diam saja.


"Sejak kapan lu sama juna manggilnya aku-kamu ?" kanu ikut terpancing dengan sikap gadis yg mulai berlebihan.


"Sejak kita udah ganti status bukan manajer-artis, tapi calon tunangan."


"Iya kan jun ?" gadis mulai berani bersikap dengan menyandarkan kepalanya dipundak juna. Juna masih diam saja. Yoyo yg melihat itu merasa risih akhirnya kembali ke tempat duduknya disebelah hervi.


"Masih tunangan kan ?" cibir kanu.


"Status masih calon tunangan aja tingkahnya udah gini, gimana kalo udah jadi istri. Gua nggak bisa bayangin." bisik hervi pada yoyo, bobby yg mendengar itu mengangkat senyumnya.


"Nggak bakalan sampe jadi istri, tenang aja." bobby ikut berbisik sambil sibuk memainkan game diponselnya.


"Bagus deh kalo nggak sampe. Eh, bentar-bentar lu tau sesuatu ya bang ?" hervi berbisik pada bobby.


"Tau apa, kalian cukup nikmatin aja drama ini." jawab bobby santai.


Juna merasa gerah dengan kehadiran gadis, dia masih menyandarkan kepalanya pada bahu lapang juna. Dan akhirnya gadis langsung roboh, ketika juna berdiri. Sontak teman-temannya itu menahan tawa. Sedangkan gadis merasa sangat malu karena perlakuan juna.


"Sialan nih juna, tapi nggak papa. Gua udah dapet yg gua butuhin." batin gadis.


"Bang, Yo, see you besok dibandara. Gua balik dulu ya semua." juna langsung menghilang dari ruangan itu.


"Jun, tungguin dong." Gadis mencoba menyusul juna keluar juga, tapi juna terlalu cepat hingga gadis kehilangan juna yg sudah pergi. Selagi dia diluar, gadis melakukan panggilan.


"Gimana ? Dapet kan foto yg gua mau ?"


"Bagus, langsung kirim." perintah gadis pada orang suruhannya itu.


**********