My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 16



Pagi ini juna bangun bukan dikamarnya lagi. Tetapi sangat kenal dengan kamar yg satu ini. Mencoba mengingat kejadian semalam. Rasanya seperti ada wangi oliv, dan terlintas ciuman mereka. Tapi dimana oliv ?


Olivia pagi ini sudah bangun lebih awal, membeli bubur didepan dan 2 gelas kopi untuk sarapannya dengan juna. Olivia sengaja tidak membangunkan juna, dan membantunya memakai celana dalam berserta boxernya. Karna olivia tidak ingin juna menyadari bahwa mereka sudah melakukan hal yg tidak seharusnya. Belum siap dirinya menerima reaksi juna. Tapi tidak terpikirkan olehnya kemungkinan dia akan hamil.


"Kamu dari mana ?" Tanya juna saat olivia memasuki apartemennya.


"Nih, beli ini." olivia menunjukkan bungkusan di tangannya.


"Oh." jawab juna singkat.


"Kenapa aku nggak pake baju ? Apa yg terjadi semalam ?" juna mengamati reaksi olivia dengan pertanyaannya ini.


"Tidak terjadi apa-apa kak, kamu cuma mabuk. Jadi aku lepas aja bajunya, soalnya kamu keliatan nggak nyaman waktu tidur. Tenang aja aku nggak ngapa-ngapain kamu." jelas olivia panjang lebar, sambil mengeluarkan isi bungkusannya. Agar tidak terlihat jika dia sedang berbohong.


"Sepertinya kemaren kamu udah manggil aku sayang ? Apa cuma perasaan aku aja ?" juna membuat olivia sedikit panik dengan pertanyaannya. Juna tau olivia sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Kamu halusinasi aja kak, kemaren kamu mabuk banget."


"Mungkin kamu benar." juna mengikuti permainan olivia dengan mengiyakannya saja.


Mereka sarapan dengan tenang dan damai. Juna tidak membanjiri olivia dengan pertanyaan dari kecurigaannya. Dia ingin olivia memulainya duluan. Selesai sarapan juna berpamitan untuk kembali ke apartemennya.


"Aku pulang dulu." pamit juna.


"Iya kak, jangan lupa minum madu hangat biar perutmu membaik. Jangan sering mabuk kak." Olivia berpesan pada juna seperti istri yg mengomel.


"Iya, jangan khawatir." Juna maju ke arah olivia, dan mengecup keningnya.


"Kamu masih berhutang penjelasan, aku akan tunggu." selesai mengecup keningnya, juna mengelus pipi olivia terus berlalu keluar.


Olivia hanya diam mematung, memahami kejadian dan kata - kata yg baru saja terjadi.


************


"Apa lu tau sesuatu bang ?" tanya juna pada bobby yg asik main game onlinenya.


"Oliv." juna melirik kearah bobby mengamati perubahan wajahnya. Tetapi yg dilirik masi acuh.


Lama tidak ada jawaban dari bobby, dia sedang asik dengan dunianya.


"Ini maksudnya ?" Bobby menunjukkan foto kissmark dileher olivia yg diambil saat dia datang bertemu dengannya.


"Jadi, lu....." Juna terkejut dengan foto yg ditunjukkan langsung merebutnya.


"Iya, dugaan lu bener." suara tenang bobby membuat juna salah paham dengannya, karna sesuai dugaannya semua yg berhubungan dengan olivia memancing kondisi emosinya.


"Gua nggak nyangka kalian berani begini dibelakang." jawab juna sinis sambil berdiri bersiap meninggalkan basecamp mereka. Saat didepan pintu bobby tertawa terbahak.


"HAHAHA apa lu nggak sadar itu hasil karya sapa ?" suara tertawa bobby membuat juna memicingkan matanya, mencoba memahami maksud perkataannya.


"Maksud lu apa sih, kalo ngomong langsung to the point aja. Gua gak suka berbelit - belit sama lu bang!!." Juna kembali duduk dengan sedikit emosi.


"Ayolah jun, lu harusnya sadar sesuatu. Apa insting lu uda nggak berfungsi ?" Bobby semakin misterius saja.


"......."


"Mungkin nggak itu hasil karya lu ?" tanya bobby lagi, menyadari juna yg masi terdiam.


"Gua ?" juna bertanya - tanya. Setelah itu bobby memberi tau tanggal pengambilan foto itu.


"Ahhhhhhh..... berarti gua sama oliv..... Kenapa lu ada foto itu bang ?" juna terbata sambil menyambungkan semua puzzle kejadian malam itu.


"Hahaha lu udah besar ternyata jun." Bobby tertawa sambil pergi meninggalkan juna yg masih terkejut dengan kenyataan.


Malam harinya juna menyusun rencana untuk membuat olivia membuka semua rahasia kejadian malam itu. Berharap dugaannya benar.


**************