My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 38



Selama berjalan olivia masih terisak. Mama juna tidak tega melihat menantunya yg sedang mengandung ini sedih. Akhirnya membawa ke kamar yuna. Karna memang kamar yuna yg terdekat dari sana, lagi pula yuna sendiri memang masi bersiap-siap dikamar.


Tok.. Tok... Yuna membukakan pintu dengan kondisi menggunakan jubah mandi dan rambut yg digulung menggunakan handuk.


"Mama, oliv." olivia dan mama juna masuk kedalam kamar yuna.


"Ada apa ma ? Oliv kenapa ?" yuna bingung melihat olivia dalam kondisi menangis dengan rambutnya yg berantakan.


"....." belum ada yg menjawab pertanyaan yuna. Mamanya dan oliv masih duduk ditepi ranjang yuna sambil diam.


"Nih, minum dulu liv." olivia menerima air yg diberikan yuna lalu meminumnya, sedari tadi tangan mamanya masi mengelus-elus punggung oliv agar segera merasa lebih baik.


Setelah beberapa lama, olivia mulai tenang. Meskipun terkadang masih meneteskan air mata.


"Ma.." olivia menggenggam tangan mertunya itu.


"Iya sayang ?"


"Tolong jangan sampai juna tau ya ma, oliv mohon." wajah olivia yg sendu karna menangis ini membuat mama juna tidak bisa menolak.


"Tapi, nak... mama kamu sudah kelewatan." mama juna membawa olivia ke pelukannya.


"Iya ma oliv tau, tapi oliv takut semakin membuat mama bermasalah jika juna tau."


"Selalu ada alasan kenapa juna melakukan hal-hal itu sayang, kamu harus coba mengerti bagaimana perasaannya juga melihat istrinya diperlakukan seperti itu."


"Oliv tau ma, tapi..." kata-kata olivia menggantung, karna yuna duduk disebelahnya.


"Ayo hapus air matamu liv, juna sedang menuju ke kamar kakak."


Olivia dengan segeran melepaskan pelukannya pada mertuanya, lalu meminta ijin untuk ke kamar mandi mencuci wajahnya.


Dikamar yuna menanyakan hal apa yg terjadi ada olivia sampai adik iparnya itu berantakan dan menangis pada mamanya. Mamanya menjelaskan semuanya membuat yuna terkejut dengan perlakuan yg diterima oliv. Dia merasa bahwa hanya mamanya saja yg dilarang memberi taukan pada juna, tapi tidak dengannya. Juna datang ke kamarnya pun karna tadi yuna sempat memberikan kabar bahwa olivia sedang menangis dikamarnya.


Tok... Tok....


"Kak, oliv mana ?" juna masuk dengan tergesa-gesa mencari istrinya didalam kamar kakaknya yg tidak dia temukan.


"Jangan keras-keras, dia masih dikamar mandi." yune berbisik, sambil memberi tanda dengan tangan telunjuknya diletakkan didepan bibir.


"Ma, oliv kenapa ?" mamanya itu masih saja diam, karna memang tadi mamanya dilarang oliv untuk menceritakan.


"Lu duduk dulu, biar gua yg ceritain." yuna menenangkan adiknya yg datang denga wajah sudah sangat khawatir.


Setelah mendengarkan cerita yuna, juna merasa sangat marah. Dia juga menceritakan bagaimana sikap mertuanya itu pada oliv saat mereka meminta restu untuk menikah waktu itu.


"Juna, mama tau kamu marah. Tapi, mama mohon ya sayang, jangan tunjukkin itu didepan olivia. Mama takut banget karna masalah ini, akan berpengaruh kepada kandungannya." mama juna memberikan nasehat sambil menepuk punggung tangan anaknya itu.


"Gua juga setuju sama mama jun, tadi gua juga lihat sendiri gimana wajah olivia."


"Yaudah, juna bakalan selesein dengan cara lain. Kalian berdua tenang aja ya, yg penting sekarang kondisi istri dan anak gua stabil." jawaban juna membuat hati mamanya lega. Melihat sikap juna yg berubah setelah bertemu olivia, membuat mamanya merasa tenang. Menantunya itu memang membawa dampak baik pada anaknya yg biasanya sangat keras kepala dan semaunya sendiri itu.


Juna bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar mandi mengetuk pintu.


Olivia yg mendengar suara ketukan pintu itu langsung buru-buru merapikan rambutnya yg berantakan dan membilas wajahnya sekali lagi. Dia merasa wajahnya masih sembab mencoba mencubit-cubit pipinya agak terlihat sedikit merah.


"Sayang." juna menarik olivia kedalam pelukannya, mengelus rambut dan mengecup puncak kepalana. Karna merasa tenang dengan hanya menghirup aroma tubuh suaminya, olivia sejenak melupakan hal yg baru saja terjadi padanya.


"Laper nggak ? Makan dulu yuk." olivia mengangguk saja sambil mengikuti langkah suaminya itu.


Yuna dan mama juna yg melihat hal itu tersenyum.


"Mama sama kakak buruan ya, juna sama oliv tungguin disana." mama dan anak itu kompak mengangguk saat juna menoleh dan memberi kode pada mereka.


**********


Sudah seminggu setelah pernikahannya, sudah seminggu juga mereka menghabiskan waktu untuk honeymoon. Keluarga juna sudah kembali keesokan hari setelah pernikahan mereka.


Hari ini, bobby, yoyo, dan dee sudah kembali. Besok juna dan olivia juga berencana kembali, tapi mereka tidak menggunakan pesawat komersil, mereka kembali menggunakan jet pribadi milik keluarga juna. Untuk tetap melindungi olivia dan juna dari pengawasan alex.


Sesampainya di apartmen juna, olivia sedang beristirahat dikamar. Juna masih sibuk sendiri, olivia yg memang sedang merasa mual dari tadi memilih untuk tidur saja.


Juna naik ke tempat tidur, memeluk istrinya dari belakang.


"Hmm... kemana ?" suaranya masi serak.


"Bangun dulu yuk." juna bangun lalu berlalu meninggalkan olivia keluar.


Saat kembali, juna melihat istrinya masi terduduk di ranjang dengan kondisi rambut berantakan. Juna tersenyum, merasa sangat bersyukur akan melihat pemandangan yg indah ini seumur hidupnya.


"Nih sayang minum susu dulu." juna ternyata keluar untuk membuatkan olivia susu, ini adalah pekerjaan baru juna setelah resmi menjadi seorang suami.


"Makasi sayang." olivia memonyongkan bibirnya untuk memberi juna kode agar menciumnya. Tanpa pikir panjang juna mencium bibir istrinya itu, senang dengan sikapnya yg semakin manja.


Selesai minum susu, juna memberikan sebuah kotak pada olivia. Tapi, dia melarang oliv untuk membukanya. Olivia penasaran dengan isi kotak itu, lalu juna menarik tangan olivia keluar. Sesampainya didepan kamar juna menutup mata olivia sambil menuntunnya dengan hati-hati.


"Kita mau kemana sih ?" olivia menggenggam ujung kemeja juna dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya digandeng juna erat.


"Tenang aja." juna menuntun olivia, tapi dia berjalan takut-takut. Akhirnya juna gemas melihat sikap olivia memutuskan untuk menggendong istrinya itu ala bridal style.


"Eh...eh.. sayang." tangan oliv langsung reflek memeluk leher juna.


"Udah pasrah aja sayang." juna mencium sekilas bibir istrinya itu.


"Kamu nih cari kesempatan dalam kesempitan ya, mentang-mentang mata aku lagi ditutup gini."


"Sama istri sendiri boleh dong." olivia terkekeh mendengar jawaban juna.


Mereka akhirnya sampai didepan pintu sebuah penthouse, lalu juna menurunkan olivia dan membuka penutup mata istrinya tadi.


"Sayang, sekarang kamu boleh buka kotak itu." olivia linglung sambil melihat ke kanan dan kiri tempat dia berdiri sekarang.


"Ini dimana sayang ?"


"Udah, kamu buka dulu ya. Nanti juga tau." olivia membuka pita yg berada dikotak hadiah itu, saat dibuka dia meneteskan air mata dengan pesan yg ada didalamnya "Ini adalah kunci kehidupan baru untuk istri dan calon anak-anakku tersayang, love juna" dibawahnya terdapat kunci.


Olivia menutup mulutnya tidak percaya, dia sangat terharu.


"Ini buat kalian bedua, suka nggak ?" olivia mengangguk lalu memeluk suaminya itu.


"Ayo dibuka dong."


"Oke, mau buka bareng nggak ?" akhirnya juna memegang gagang pintu dan setelah olivia membuka kunci, pintu terbuka.


"WELCOME HOME." sebuah confetti menyambut olivia dan juna, diiringi teriakan sahabat-sahabat juna dan dee tentunya.


"Kalian...." olivia menoleh kearah juna lalu memeluk suaminya lagi.


"Seneng nggak ?"


"Iyalah sayang, makasi." olivia mengecup bibir suaminya singkat.


"Udah dong mesra-mesraannya, masuk dulu yuk." dee menarik olivia masuk yg diangguki juna. Saat memasuki jalan keruang tamu, disana sudah dihias dengan bunga-bunga yg disuka oliv, taburan bunga mawar putih, lilin kecil di ujung ruangan membuat semakin cantik, dan balon bertuliskan "welcome home nyonya archer" juga ada menghiasi dinding.


"Ini elu yg siapin ?" oliv bertanya pada dee.


"Bukan, suami lu yg siapin kita-kita cuma bantuin aja." olivia semakin terharu, suaminya sampai serepot ini menyiapkan semua untuknya.


"Makasi ya dee." oliv memeluk sahabatnya itu.


"Buat kalian makasi juga ya kakak-kakak." olivia memandangi satu per satu sahabat juna.


"Kita latian dulu liv sebelum punya istri juga hahaha." canda hervi yg membuat oliv dan dee terkekeh.


Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba juna menerima sebuah telfon. Dia mencoba menjauh dari ruangan itu. Oliv melihat gelagat aneh suaminya yg seperti menghindar hanya diam saja.


Setelah beberapa saat juna kembali keruang tamu dengan wajah yg muram.


"Kenapa lu jun ?" jerry bertanya melihat wajah sahabatnya tiba-tiba kusut.


"Lusa gua tunangan sama gadis." kata-kata juna ini langsung membuat seisi ruangan itu menghentikan aktifitasnya, sambil diam menoleh ke arah olivia.


**********