My Assistant Is My Wife

My Assistant Is My Wife
BAB 33



Seperti malam-malam sebelumnya, sebelum tidur olivia selalu mandi. Dee sedang asik merebahkan dirinya diranjang oliv.


Drt...Drt...


Sebuah pesan gambar masuk, terlihat sekilas dinotifikasi ponsel oliv. Dee melihatnya karna terus bergetar, sepertinya tidak mengirim satu gambar saja. Dirasa olivia masih lama dikamar mandi, dee mencoba membuka pesan itu. Memang tidak sopan, hanya saja perasaanya tidak enak. Dee melihat foto juna dan olivia di layar handphone oliv, dia merasa sedih karna sahabatnya itu harus mengalami kisah yg seperti ini.


Dengan segera dee membuka pesan itu, dan perasaannya benar. Itu adalah foto gadis yg sedang memeluk juna mesra, menyandarkan kepalanya, terlihat seperti pasangan karna pengambilan foto itu seperti dari sisi gadis saja. Jadi, yg terlihat lebih menonjol adalah gadis.


Tapi, ada 1 foto terakhir yg terlihat juna dengan tatapan kosong. Dee merasa aneh, mengapa juna tidak menolak keberadaan gadis. Apa juna memang sudah melupakan olivia dan bayinya. Sebelum menghapus pesan itu, dee sempat mencatat nomor yg mengirimkan foto itu pada olivia. Dia tidak mau sahabatnya harus kembali menangis melihat foto yg tidak jelas kebenarannya. Pasti hanya ada pikiran jelek yg ada dipikiran olivia tentunya air mata, siapa juga yg tidak cemburu melihat pria yg dia cintai bersama wanita lain.


Olivia merasa segar setelah ritual mandinya itu. Merasa lebih baik dan tenang untuk beberapa hari ini. Dia langsung melanjutkan dengan memakain lotion, dee segera menyembunyikan handphone olivia dibawah bantal. Agar setelah itu dia tidak mencarinya untuk sementara.


"Gua keluar bentar ya." dee beranjak dari ranjang ingin meninggalkan oliv sendiri dikamarnya.


"Mau kemana ?" tanya olivia sambil sibuk mengoleskan lotionnya itu.


"Kedepan bentar pengen jalan-jalan."


"Nanti gua susul deh." dee hanya mengangguk.


Saat dee keluar, dia memilih duduk di ayunan dekat kolam renang, ayunan itu menghadap kepintu yg membatasi ruangan didalam dan diluar. Untuk mengantisipasi jika olivia datang. Dia langsung melakukan panggilan.


"Halo kak."


"Ada berita apa ?" suara bobby santai.


"Kiriman foto terbaru, gadis dan juna sedang bermesraan." dee menjelaskan singkat.


"Sudah gua duga. pasti ada rencana dibalik kedatangan gadis tadi."


"Emang ada apa ?"


"Gadis dan juna akan bertunangan."


"APA??!!!? KAPAN??" teriak dee.


"Nggak usah teriak, udah cukup yuna aja yg neriakin gua."


"Siapa yuna ?"


"Kakaknya juna."


"Oh.."


"Lalu olivia bagaimana ?"


"Besok juna, gua dan yoyo akan ke Bali. Untuk urusan perusahaan."


"Laluu...."


"Kita bikin rencana yg lain."


"Oke.."


**********


Pagi ini juna tiba di Bali, tapi dia langsung melakukan rapat. Hingga siang hari sangat sibuk, sampai tidak sempat makan siang.


"Makan siang dulu yuk, gua laper banget." ajak yoyo yg memang tidak bisa menahan lapar. Juna dan bobby hanya diam saja. Mereka mengikuti yoyo ingin makan dimana, karna memang dia adalah orang yg suka mencoba berbagai tempat makan yg terkenal.


"Gimana kalo cafe ini ?" yoyo menunjukkan beberapa foto cafe yg akan mereka datangi.


"Kalo menurut lu gimana bang ?"


"Buruan lah, keburu mati kelaparan lu nanya pendapat gua sama juna." yoyo mengangguk menyetujui saran bobby yg memang benar adanya.


Saat perjalanan menuju cafe yg akan dituju oleh 3 pria itu, juna yg sedang melamun sambil memandang keluar jendela tiba-tiba menemukan seorang wanita yg tidak asing. Juna mengusap matanya, meyakinkan matanya tidak salah melihat. Dan dia tidak sedang berhalusinasi karna terlalu merindukan kekasihnya itu.


"Bang, lu liat cewek itu deh." Juna menunjuk kearah olivia yg akan memasuki mobil.


"Mana ?"


"Itu olivia kan ?" Bobby melihat bahwa itu memang benar oliv, hanya saja dia tidak semudah itu mengiyakan.


"Lu halusinasi kayaknya, ngapain oliv disini ?"


"Yo.. lu kudu ngikutin mobil itu." juna menepuk bahu yoyo, meyuruhnya segera beputar balik untuk mengikuti mobil tadi. Instingnya mengatakan bahwa itu adalah olivia. Yoyo menoleh ke arah bobby yg memang duduk disebelahnya, sedangkan bobby tentu saja hanya tersenyum miring. Karena merasa rencananya untuk mempertemukan mereka ini berhasil.


"Iyeee... lu jangan bikin gua panik deh." yoyo segera memutar setirnya memutar balik mengikuti mobil didepannya itu.


"Buruan, gua harus pastiin sendiri."


"Iya jun iya, ini juga lagi ngikutin kan." juna yg tadinya duduk menyandar sekarang berada ditengah antara kursi bobby dan yoyo. Bobby melihat tingkah juna seperti itu sebenarnya ingin meledek, hanya saja waktunya tidak tepat.


Saat juna sibuk melihat kearah mobil itu, tiba-tiba yoyo menyalakan lampu dim jarak jauhnya untuk memberi tanda pada dee, bahwa semua sudah berjalan sesuai rencana. Dee yg melihat itu tersenyum singkat. Sedangkan olivia tentu saja tidak mengetahui kejutan apa yg akan dia dapatkan siang ini.


Mobil dee sudah memasuki cafe yg ternyata memang menjadi tujuan yoyo tadi, hanya saja tadi dia sedikit berputar agar juna melihat olivia. Dee mengajak olivia turun, sedangkan mobil yg ditumpangi oleh bobby, juna, dan yoyo masih menjaga jarak dibelakangnya. Tapi juna sudah tidak sabar ingin segera menyusul, tapi ditahan oleh bobby.


Dee dan olivia sudah duduk, mereka memilih untuk duduk dipinggir agar bisa melihat pantai. Olivia sedang asik memilih menu. Dee sudah memberi tanda pada bobby saat mereka mulai memasuki cafe. Juna terus melihat kearah olivia yg sibuk sendiri, dengan badan yg mulai sedikit berisi, dan rambutnya yg tertiup angin. Terlihat sangat seksi menurut juna. Dia yakin itu adalah wanitanya, yg sedang mengandung anak juna. Dia yg sangat dirindukan oleh juna, dan dia yg berani memutuskan untuk meninggalkan juna.


Juna terus melangkah menuju kearah oliv. Setelah berdiri disampingnya, dia langsung mengelus rambut olivia sayang. Membuat pemilik rambut itu mendongakkan kepalanya keatas.


"Kak juna." dee mengeluarkan suara sedikit berteriak, seakan-akan dia terkejut akan kehadiran juna. Sedangkan olivia masih terdiam kaku, sambil mengkedip-kedipkan matanya. Dia tidak percaya bahwa pria yg sangat dia rindukan itu sekarang berada didepan matanya.


"Kamu kemana aja sayang ?" Juna masih mengusap rambut olivia.


"A...a...aku..." olivia menjawab dengan terbata. Belum selesai menjawab pertanyaan, Juna menarik tangan olivia hingga dia berdiri. Tanpa menunggu lama, juna memeluk olivia erat. Menghirup aroma yg sangat dia rindukan ini dalam-dalam. Seakan esok mereka akan terpisah kembali.


Dee terharu melihat akhirnya olivia bisa bertemu juna lagi. Sekarang bobby, dee, dan yoyo sudah duduk bersama melihat pemandangan yg langkah ini.


"Akhirnya ya.." yoyo mengusap matanya yg mulai berair, dia memang pria dengan hati yg lembut. Sedikit saja ada kejadian menyentuh hatinya, bisa dipastikan dia akan menangis. Biasanya juna akan menertawakannya. Tapi, sekarang justru juna yg membuat dirinya terharu.


"Lalu, langkah selanjutnya kapan dilaksanakan kan ?" tanya dee pada bobby yg tidak berhenti tersenyum melihat kebahagian sahabatnya itu.


"Biarkan mereka melakukannya secara alami, selama tidak ada gangguan kita tidak perlu melakukan apa-apa." dee hanya mengangguk.


Juna masih memeluk olivia lama, untung saja cafe itu sudah dipesan sebelumnya oleh bobby. Jadi mereka aman dari gangguan orang lain yg melihat kejadian ini.


"Apa kalian berdua baik-baik saja ?" olivia hanya menganggukkan kepalanya, tidak sanggup mengeluarkan kata-katanya. Dia terlalu bahagia.


"Apa kau nakal saat papi tidak ada nak ?" juna menunduk kearah perut olivia, mengelusnya sambil mengajukan pertanyaan pada anaknya.


"Aku anak baik papi." olivia menjawab dengan nada anak kecil sambil mengelus rambut juna. Terharu karna juna masih sangat mengkhawatirkan keadaannya dan bayi mereka.


"Baiklah, sekarang kalian berdua harus makan." Juna menuntun oliv agar segera duduk dan memilih makanan.


"EHEM!! Apa kalian melupakan keberadaan kami ?" dee berdehem mengingatkan keberadaanya bersama yoyo dan bobby di meja tidak jauh dari mereka. Olivia menoleh dan merona malu melihat bahwa dirinya tadi terbawa suasanya hingga lupa sedang dimana mereka berdua berada.


"Tentu enggak dong." olivia mengajak mereka agar bergabung dengannya dan juna.


**********