
Sore ini, olivia duduk disampin jendela kamarnya sambil melihat sunset. Perasaannya sangat hampa. Jika bukan karna ada dee, mungkin olivia bisa terkena gangguang depresi yg berat. Dan itu sangat berbahaya untuk kondisi kandungannya yg masih sangat kecil.
"Liv, nanti malem mau makan diluar nggak ?" Dee memakai handuk untuk membelit rambutnya yg basah setelah mandi.
"Hmm boleh." olivia membalasnya dengan malas, dan masih mengarahkan pandangannya ke arah jendela.
"Kenapa sih lu ?" dee memeluk sahabatnya itu dari belakang.
"Nggak papa sih, cuma lagi pengen nikmatin pemandangan aja."
"Okee, setelah itu mandi jangan lupa. Gua udah mulai laper nih." Dee melempar handuk kepada sahabatnya yg masih larut dengan pikirannya sendiri itu.
Setelah keluar kamar perasaan dee juga sangat sedih melihat sahabatnya seperti itu. Memang masalah yg dihadapinya tidaklah mudah. Tapi dia pun tidak bisa membantu banyak selain dengan selalu ada disampingnya. Olivia membutuhkan dukungan, selain dia sapa lagi. Ada satu orang lagi, tapi dia membantu dari jarak jauh saja.
Pada akhirnya olivia memilih untuk tinggal di Bali sementara waktu ini. Meninggalkan juna bersama kekacauan yg terjadi karna ulahnya. Olivia masih menyalahkan dirinya tentang semua yg terjadi pada juna. Atas ketidak berdayaannya membantu juna. Malah membuat mereka menjauh. Sudah hampir 2 minggu ini olivia pindah ke Bali.
Awal mula olivia pindah ke Bali, dia mengurung diri dan diam saja. Tanpa mau makan, kerjaannya hanya berdiam diri dikamar. Hingga puncaknya, olivia mulai menyakiti dirinya. Menangis lama dikamar mandi dan ada beberapa bekas luka di lengannya, sebuah luka cakar. Parahnya adalah olivia sampai memotong rambutnya karna marah sambil menangis.
Beruntung ada dee disebelahnya, dia selalu mengingatkan olivia tentang anak yg dikandungnya. Bahwa masih ada juna kecil atau mungkin olivia kecil yg sedang tumbuh. Olivia semakin menangis mengingat bahwa dia memiliki calon anaknya bersama juna. Sesuatu yg harus dia pertahankan. Darah dagingnya. Anak yg tidak bersalah, meskipun dunia marah padanya. Tapi anak itu tidak salah. Hanya saja dia datang di waktu yg salah. Bahkan juna dan olivia sebenarnya sangat menyayanginya.
Mereka sudah berbuat salah, tapi dengan menggugurkan anak itu pun bukan menyelesaikan masalah. Olivia juga tidak bisa membayangkan bagaimana dia hidup dengan perasaan bersalah seumur hidupnya. Bersalah pada juna, keluarganya, bahkan pada anaknya.
Hari demi hari dilewati olivia dengan tetap berdiam diri, tapi kondisi jiwanya sudah membaik. Bahkan jean juga memeriksanya, jauh-jauh datang untuk mengontrol kondisi oliv. Selama dia pergi ini, dia belum mendengar berita apapun tentang juna dan kondisi permasalahannya. Dia masih belum siap mental menerima semua kenyataan tentang apa yg terjadi pada juna setelah dia memutuskan untuk menerima tawaran dari gadis.
Tapi selama di Bali, olivia tidak tinggal ditempat yg disediakan oleh gadis. Melainkan disebuah villa milik keluarga dee. Vila modern dengan pemandangan laut khas Bali, berserta dengan fasilitas lainnya.
"Ayooo dong, belum selese nih ?" dee sudah merengek kepada oliv, karna dia masih saja duduk diam didekat jendela.
"Iya, iya bentar." Olivia bangkit menuju kamar mandi, untuk mencuci muka dan memakai riasan yg sangat natural. Dengan gaya rambut pendeknya yg baru. Menggunakan dress pink diatas lutut dan sepatu flatnya.
"Wah.. waaah... ibu hamil oke juga kalo gini, jangan-jangan anak lu cewek lagi." olivia mengangkat bahunya cuek.
"Tapi papi pasti seneng banget yg sayang liat mami kayak gini." dee berbicara didepan perut oliv, mengajak calon keponakannya itu berinteraksi.
"Aunty, mami laper.. Ayo buruan." olivia langsung meninggalkan dee yg masih membungkuk.
"Mami jutek banget deh, tungguin napa." dee mengejar olivia yg sudah masuk kedalam mobil.
Setelah dee masuk, terjadi perdebatan diantara mereka karna olivia memaksa untuk menyetir kali ini. Merasa kondisi sahabatnya itu baru saja pulih, dee merasa sedikit khawatir.
"Udah deh, gua bisa kok. Gini doang kan." olivia menyalakan mobil dan mulai pergi meninggalkan villa yg mereka tempati. Sedangkan dee hanya manyun saja, karna sahabatnya ini semakin keras kepala saat hamil.
"Makan cantik aja yuk." dee merayu oliv, karna sahabatny itu masih belum merasa nyaman berada ditempat ramai.
"Makan sushi aja yuk." olivia mengajak dee dengan semangat. Dee bingung dengan perubahan suasana sahabatnya ini. Karna merasa senang sahabatnya mulai kembali seperti dulu akhirnya dia menyetujuinya. Mungkin bawaan bayi atau mungkin juga sedang ngidam.
Akhirnya mereka sampai disebuah restoran jepang yg sangat terkenal, letaknya ada disebuah salah satu mall di Bali yg berada diatas dan menghadap pantai. Mereka makan dengan tenang, sambil mengobrol santai.
"Lu ngerasa ada yg aneh nggak sih ?" oliv merasakan tidak nyaman, karna dia merasa seperti ada yg sedang memperhatikannya.
"Enggak, biasa aja sih." dee masih sibuk memakan ramen pesanannya.
"Gua serius nih." Olivia menggoyang-goyangkan tangan dee. Tapi dee masih sibuk makan.
"Hai, liv." tiba-tiba ada suara berat yg menyapa oliv.
DEG....
Perasaan olivia benar, dia sudah curiga ada yg memperhatikannya mereka dari tadi. Orang itu berdiri dibelakangnya.
"Kita malah ketemunya disini yah." pria itu tiba-tiba menarik kursi duduk disebelah oliv.
"P..pak alex.." olivia terkejut setelah menoleh kepada orang yg duduk disebelahnya itu. Merasa aneh karena mereka bertemu sampai jauh-jauh di Bali.
"Makasi pak." jawab oliv, singkat.
"Oh iya kenalin pak, ini sahabat saya." oliv memperkenalkan dee dengan alex.
"Alex." alex mengulurkan tangannya pada dee.
"Dee." dee menunduk sambil membalas jabat tangan dari alex, dengan senyumnya yg awkward.
"Saya permisi sebentar, mau ke toilet." dee meminta ijin untuk meninggalkan oliv dengan alex.
"Dee.." panggil alex saat dee sedang berjalan menuju toilet.
"Jangan panggil saya pak, panggil alex aja." alex mengatakan sambil tersenyum manis yg hanya diangguki dee.
"Kamu juga liv, jangan panggil saya pak lagi. Saya nggak setua yg kamu pikir." Alex mencoba menyentuh tangan olivia yg berada dimeja. Oliv langsung menarik tangannya, merasa tidak nyaman.
"Oh, baik. A..alex." jawab oliv terbata. Tiba-tiba tangan alex membelai rambut oliv, sedangkan oliv merasa tidak nyaman menyoba menghindari tangan alex.
"Jangan gini lex, nggak enak diliatin orang."
"Hahaha.. oke, maafin tangan gua yg kebawa suasana ini ya." alex tersenyum.
Ternyata dee pergi menjauh dari oliv dan alex bukan untuk ke toilet, melaikan pergi untuk melakukan panggilan.
"Halo, kak."
"Ada apa ?" suara dari seberang sana merasakan nada bicara dee yg aneh.
"Lu tau alex nggak kak ?"
"Kenapa tiba-tiba tuh cowok nongol disini." lanjut dee sambil celingukan memastikan disekitrnya aman.
"Alex ?" jawab pria itu sedikit terkejut.
"Iya, gua lagi makan bareng oliv. Tiba-tiba itu cowok muncul, dan gua gak suka dia kayaknya punya niatan jelek gitu." dee menjelaskan dengan kondisi yg tadi terjadi saat dee meninggalkan oliv disana. Karna dee bersembunyi untuk melihat apa yg akan dilakukan cowok muka mesum itu.
"Dia emang punya niat jelek dari awal. Gua akan utus orang suruhan gua ngawasin dia dan jamin keselamatan kalian." suara pria itu sangat tegas dan tenang, tapi sebenarnya merasakan kekhawatiran.
"Yaudah, gua tutup dulu kak. Nanti dia curiga lagi, kasian oliv juga gua tinggal sama serigala laper itu."
"Oke, kalian hati-hati ya." panggilan pun terputus. Dan dee langsung terburu-buru kembali ke meja.
Saat sampai dimeja, dee melihat pandangan alex menyimpan banyak niat jelek.
"Liv, pulang yuk. Perut gua agak nggak enak nih, tadi kebanyakan bubuk cabe." dee datang sambil akting mengelus-elus perutnya. Olivia yg menerima sinyal dee langsung melambaikan tangannya meminta bill.
"Kalian tadi kesini naik apa ?" alex menanyakan pada olivia dengan senyum diwajahnya.
"Gua bawa mobil." potong dee sebelum olivia sempat menjawab.
"Oh, kalo nggak mobilnya ditinggal disini aja. Aku anterin kalian berdua pulang. Lagian dee juga perutnya sakit." alex mencoba membujuk oliv, sedangkan oliv yg menoleh pada dee langsung diberi isyarat untuk menolak.
"Nggak usah, lex. Kita bisa pulang sendiri kok." olivia menolak dengan halus.
Saat pelayang datang membawakan bill, olivia mengecek dan meninggalkan beberapa lembar uang. Tanpa menunggu kembalian, olivia langsung berpamitan pada alex.
"Tunggu aja, permainan kita baru aja dimulai olivia." batin alex sambil tersenyum licik saat melihat olivia pergi meninggalkannya.
*********************