
hari itu liburan akhir semester sudah berlalu, kehidupan SMA pun dimulai, zane tidak sabar untuk segera masuk di SMA dan bertemu dengan sahabatnya dulu,
"aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya kira-kira seperti apa ya dia nanti, " kata zane dengan kegirangan saat mandi.
saat zane akan mengenakan sepatu tiba-tiba saja, ibu zane memanggil zane untuk keluar.
"zane, ada Yuki yang datang menemui mu. " teriak ibu zane dari luar rumah yang sedang menyapu halaman.
"(Yuki !!!) ya, sebentar. " kata zane kaget.
"zane, lama tidak bertemu. " kata Yuki dengan tersenyum.
"Yuki !!, (wah, dia terlihat lebih cantik dari sebelumnya) " kata zane dalam hati sambil melihat Yuki.
"ada apa. " kata Yuki memalingkan wajahnya.
"eh, tidak, tidak ada apa-apa kok, ayo kita berangkat, maaf repot repot harus datang kerumahku. " kata zane dengan malu.
"tidak masalah, kau ingatkan tentang janji kita, kita akan berangkat SMA bersama. " kata Yuki dengan tersenyum.
"ya aku ingat, ibu aku berangkat, " kata zane.
mereka berdua pun akhirnya pergi ke sekolah SMA bersama, sesampainya di sekolah SMA, banyak anak laki laki yang melihat Yuki dan bilang "imutnya" itu membuat zane jijik.
"Yuki, kau baik-baik saja. " kata zane melihat Yuki resah.
"eh, ya, aku baik-baik saja. " kata Yuki dengan resah.
"hey, apakah dia itu pacarmu. " kata anak laki laki yang tiba-tiba saja datang kepada zane.
"tidak, dia temanku, apakah kalian keberatan. " kata zane dengan marah menatap anak laki-laki itu.
Yuki yang mendengar itu langsung terdiam dan berlari menuju atap gedung sekolah.
"Yuki, cih. " kata zane meninggalkan anak laki-laki itu dan mengejar Yuki.
sesampainya di atap sekolah zane melihat Yuki sedang berdiri memandang langit dan menangis.
"hey, tidak usah dipikirkan, wajar saja kan jika mereka menganggapnya begitu. " kata zane sambil menenangkan Yuki yang sedang sedih
"menurutmu aku bagaimana. " kata Yuki melihat zane.
"eh, (dia terlalu imut saat sedang menangis) ya, seperti sahabat yang mengatakannya. " kata zane dengan tersenyum.
"jika kau tidak mau dianggap kita seperti yang dikatakan oleh anak laki-laki tadi, bagaimana kalau kita menjaga jarak aman. " kata zane.
"seperti di SMP, tidak, aku sangat takut untuk berangkat dan pulang sekolah sendirian karena melihat banyak anak laki-laki yang ingin menguntit ku dari belakang, aku tidak mau hal itu terjadi lagi, untuk itu tolong temani aku sampai di kelas dan kita pulang bersama. " kata Yuki dengan khawatir.
"baiklah, jika itu mau mu, ayo kita kembali ke kelas. " kata zane sambil mengajak Yuki pergi ke kelas.
sesampainya di kelas, Yuki disambut oleh teman temannya dulu di SMP.
"Yuki, akhirnya kamu datang juga dan itu zane kan. " kata salah satu teman Yuki yang bernama Nia.
"apakah kalian sudah... " bisik salah satu teman Yuki yang bernama kina.
"tidak kok, kami masih teman. " kata Yuki.
"baiklah, Yuki, kalau begitu aku akan pergi ke meja ku dulu. " kata zane sambil pergi ke tempat duduknya.
"ya, baiklah, terimakasih sudah mengantarku." kata Yuki dengan tersenyum senang.
"kau beruntung bisa mempunyai sahabat dekat seperti zane, dia baik hati dan ramah, kau masih ingat kan kisahnya dulu dia hanya mempunyai 3 teman laki-laki di SMP dia selalu saja dijauhi oleh teman temannya karena dia satu-satu nya orang yang mau berteman dekat denganmu. " kata teman dekat Yuki dulu di SMP yang bernama Lena.
"ya, begitulah, dia. " kata Yuki dengan murung.
"apakah kau tidak akan mengatakan perasaan mu padanya. " kata Lena.
"tidak untuk saat ini, aku harus menunggu pada saat waktu yang tepat. " kata Yuki pelan.
setelah berbicara begitu lama, ada guru yang datang ke kelas mereka.
"halo anak-anak, aku adalah guru yang akan mengajar di kelas kalian, panggil saja aku mira sensei, salam kenal. " kata guru itu.
setelah guru itu menerangkan dan berbicara panjang di kelas, akhirnya bel waktu pulang berbunyi, zane dan Yuki pun pulang bersama, ditengah perjalanan Yuki bertanya kepada zane.
"hey, zane.... " ucap Yuki yang hampir mengungkapkan perasaannya.
"ada apa Yuki. " tanya zane dengan heran.
"emh, tidak ada apa-apa. " kata Yuki dengan tersenyum.
mereka berdua pun akhirnya sampai di rumah mereka masih masing.
(untuk saat ini aku belum bisa menyatakan perasaanku padanya, semoga ada waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.) kata terakhir Yuki dalam hati saat membuka pintu rumahnya.