
Rafa memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih lama di luar kantor, tanpa bersedia ia bertatap muka kembali dengan Robby. Rencana awal untuk ke proyek bersama Vino pun diubah, mengajak Vanya dan Alya turut serta.
Padahal, awalnya Rafa ingin meminta kedua perempuan dalam timnya itu tinggal di kantor, mengerjakan laporan yang semalam terbengkalai. Mau apa lagi, Rafa tidak bisa mengabaikan amanah yang diserahkan padanya, agar menjauhkan Vanya dari Robby.
Kini, keempatnya menyisir jalanan menuju proyek, yang hanya membutuhkan sekitar empat puluh lima menit untuk sampai. Kali ini, Vanya yang dibiarkan mengemudi, dengan Rafa menemani di dekatnya. Bukan karena ingin dekat, namun ia sedang berusaha menghentikan perdebatan antara Vino dan Vanya yang terus berlangsung sedari makan siang tadi.
"Kamu masih laper?" tanya Rafa, menoleh pada perempuan di balik kemudi.
"Ya iya, orang aku gak makan nasi. Tadi kan aku pengen makan rujak sama nasi dua porsi, malah diajak makan pasta. Aku tuh gak suka makanan kayak gitu, lidahku merakyat!" Vanya menoleh ketus, tangan belum berhenti menyapu perut bernyanyi.
"Untung-untungan masih dibayarin makan! Protes aja!" Vino menyambar dari belakang.
"Lanjutin aja! Berdua aku tendang dari sini, baru tau rasa!" tekan Rafa, sebelum keributan terjadi.
Vanya memajukan bibir sempurna, mengomel kesal atas keinginan lidah yang tak bisa dipuaskan olehnya. Rafa melirik, telinga jelas merekam setiap alunan alphabet dari bibir bervolume Vanya.
Itu berlangsung hingga lokasi proyek, di mana mobil harus dihentikan pada lahan tersedia. Vanya segera turun, perut terlalu penuh untuk gas segera dikeluarkan. Rafa mengamati dari dalam sembari mengenakan topi. Kedua alisnya mengerut kala menatap perempuan di samping pintu itu menekan perut, dengan kedua mata terpejam.
"Kentut itu pasti! Biasaan banget kalau makan apa-apa selalu buang gas!" omel Rafa pelan, sebelum akhirnya diusik oleh dua orang di belakang.
"Biasa ae loh, Vin!" bentak Alya, usai lengan dipukul oleh lelaki bertopi hitam yang duduk bersamanya di baris kedua.
"HP terus! Makanya gak usah pacaran, ujungnya nyita waktu! Turun sana loh, waktunya kerja bukan pacaran!"
"Siapa pacaran?" Rafa langsung menoleh, kedua orang di belakang membulatkan mata seraya menelan saliva.
"Eng—enggak ada, Master. Ini aku chat sama mama kok, nanyain kapan aku pulang ke rumah." Alya menerangkan gagap.
"Kalau ada yang pacaran, mending keluar dari tim, sebelum aku yang pecat. Berani bohong, sama aja kalian nyari masalah sendiri!" tegas Rafa, lalu turun mendahului.
Alya melirik Vino tajam, merapatkan gigi dan siap menerkam hidup-hidup. Lelaki itu pun lekas pergi, membanting pintu dan berlari mengejar Rafa yang sudah melenggang di bawah terik matahari.
Rafa berhenti, menoleh ke arah Vino. "Gosip apaan? Kenapa aku gak pernah denger?"
"Mm, itu ... banyak yang bilang kalau pak Robby tuh mantannya si Vanya, dan sekarang lagi pengen balikan. Makanya semua kelakuan Vanya yang dianggap minus sama orang kantor, terus aja dimaklumin sama pak Robby." Vino menerangkan. "Nih, kayak Vanya yang selalu ketiduran, pak Robby masih aja maklum. Padahal, dulu ada karyawan yang gak sengaja ketiduran di meja kerja, langsung dipecat."
Rafa menghela napas panjang. "Ada alasan lain, kenapa Anya gak akan pernah dipecat dari kantor. Itu gak ada urusannya sama si Robby. Jangan sampai Anya denger soal ini."
Vino terdiam mencerna kalimat masternya, mulai berpikir dalam kepala yang dikembangkan bersama dugaan-dugaan. "Vanya yang punya kantor? Vanya istrinya pak Robby, atau dia pemegang saham terbanyak?"
"Dia buat makan aja Senin Kamis, mana mungkin kalau dia yang punya perusahaan?!" ujar Rafa. "Berhenti mikir, gak ada gunanya juga itu otak dibuat kerja!" imbuhnya, menghilang segera tanpa jawaban berarti.
Vino masih saja memikirkan tentang Vanya—perempuan yang sekarang berdiri bersama seorang pria, menutupi kepala dengan kedua telapak tangan. "Iya juga, sih. Gak mungkin kalau Vanya yang punya perusahaan, apa punya saham. Tapi, kenapa aku jadi penasaran sama keluarganya Vanya, ya? Apa dia ada hubungan darah sama keluarga pak Robby?" pikir keras Vino.
Lelaki itu menggelengkan kepala, berusaha mengusir apa yang terus bertumbuhan dalam kepala, dan siap bersarang untuk berkembang biak. Namun, nyatanya itu tidaklah mudah. Terlebih, pikir tentang hubungan Rafa juga Vanya, yang semalaman terus dibahas oleh Alya.
Apa lagi, sekarang kedua matanya harus merekam jelas sikap Rafa, yang berdiri di balik tubuh Vanya, dan langsung memindahkan topi putih miliknya ke atas kepala perempuan tampak kepanasan tersebut. Itu jelas menambah curiga Vino, setelah pembelaan di kantor yang masih jelas terngiang di telinga.
Ya, Rafa memang memakaikan topinya pada ujung kepala Vanya, begitu ia berhasil mendekat. Vanya terkejut menoleh, begitu pula dengan mandor proyek. Vanya menatap wajah Rafa, memasang senyum pada lelaki yang tak menatapnya sama sekali, dan sibuk berbincang membahas proyek.
"Nyari tempat duduk sana."
"Ih, siang-siang malah ngajak mojok. Entar malem aja, kita bisa tidur bareng." Anya mengatupkan bibir menahan senyum, kedua mata mengerjap. Mandor membuka lebar mata dan mulut, pergerakan biji mata dibuat pelan ke arah dua orang di dekatnya.
"Oh, boleh! Asal kamu pakai lingerie!" jawab Rafa, semakin melebar mata dan mulut mandor.
"Hahaha, gak usah pakai apa-apa juga mau kok." Vanya menunjukkan wajah malu-malu, menutupi bibir dengan kedua telapak tangan.
"Aku pegang omonganmu kamu, Anya!" tekan Rafa serius, menyentak Vanya hingga pupil membengkak.