Me VS Master

Me VS Master
Amarah Valen



"Hehehe, Alya ... ini uang kamu, bukan?" Vanya cengengesan, mengintip dari samping meja menunjukkan uang biru terlipat. Dua orang dalam ruangan membola, tidak dengan Rafa yang hanya menghela napas dan melirik. "Apa punya master, ya? Kan tadi berdiri di sini."


"Ka—Kamu gak pingsan?" tanya Alya juga Vino.


Vanya berdiri, membersihkan kedua lututnya. "Mau ngapain pingsan? Orang aku liat ada uang, makanya aku jongkok buat ambil."


"He?!" dua orang di depan meja Rafa itu saling tatap, menyingsing bibir ke atas. "A—aku pikir pingsan gara-gara ...." Alya menggantung suara, jari menunjuk pada atasan serta temannya.


Vanya mengikuti gerak jari Alya, kemudian tertawa kala ia memahami apa dimaksudkan oleh perempuan gemar mengikat rambut ekor kuda tersebut.


"Hahaha, dicium?! Ya, kali aku pingsan gara-gara dicium sama master. Kaget doang tadi, gak sampai pingsan. Lemah banget! Aku nih udah kebal, tiap hari dibentak, dilempar, dimarahin. Cuman gitu doang sih, gak ada masalah. Tau sendiri, master kalau jelasin apa-apa sukanya langsung praktek. Tadi tuh, aku dijelasin soal bedanya dicium sama ciuman, makanya master langsung praktek, soalnya aku susah nangkep kalau omongan doang. Gitu!" Vanya menjelaskan panjang lebar.


Vino dan Alya membentuk garis di antara kedua alis, perlahan melihat ke arah Rafa. Terlihat jelas perubahan ekspresi wajah dari lelaki berambut hitam pekat tersebut, mengurut kening dan mulai terpejam.


"Ini uang siapa kok?! Ditanya diem aja semua!" sambar Vanya, masih menanti jawaban.


Semua hening, Vanya mengabsen wajah-wajah di sekitarnya, lalu menyeringai lebar. "Gak ada yang punya? Berarti rezekiku dong!" Mata berbinar ditunjukkan, melebarkan uang di depan mata.


"Hahaha, akhirnya aku bisa makan siang pakai rujak sama nasi dua porsi! Hahaha, keberuntungan emang selalu datang tepat waktu!" Vanya mencium lembar uang di tangan, kemudian berlari menuju pintu kaca.


Perempuan berusia dua puluh enam tahun itu melompat kegirangan, tanpa melepaskan pandang dari uang dianggapnya sebagai penyelamat kelaparan. Namun, semua berubah dalam hitungan detik saja, kala pintu kaca hendak dibuka justru terbuka lebih dulu.


Bruak! Benturan kencang diterima oleh Vanya tepat pada kening, menyentak ketiga orang sedari tadi memperhatikan heran padanya. Rafa berdiri dengan segera, Vanya membungkuk seraya menyapu kening dan mengeluh kesakitan.


"Sayang, kita jadi makan siang bareng, kan?!" suara lain terdengar, mengerat gigi Vanya seketika dan memukul pintu kaca di dekatnya.


"Aduh!" pekik perempuan baru saja memasuki ruangan, keningnya terbentur pintu sama. "Apaan sih, Nya?! Sakit, tau! Kamu mau tanggung jawab kalau muka aku jadi penyok?!"


"Eh, Mak Lampir! Ente kira nih kening kagak sakit, huh?! Sakit! Buka pintu tuh liat-liat, kagak usah pakai ngomel!" maki Vanya. "Dateng-dateng manggil sayang ... sayang muka ente mirip comberan?!"


"Ente ... ente kambing apa ente ayam?" gumam Alya menahan tawa.


"Sate!" sembur Vino, mendorong kencang lengan Alya—perempuan yang justru tertawa, meski tangan menyapu lengan.


"Rafa, kamu mau diem aja aku diginiin sama anak tim, Kamu?! Aku ini calon is—"


"Aduh!" keluh Vanya menyerobot perkataan Valen, terdorong tubuh ke belakang membentur dada Rafa. "Malah didorong lagi!" imbuhnya, Valen kebingungan.


"Mau berantem?! Ayo! Kagak ada yang takut sama ente, Lampir!" Vanya menyingsing lengan pakaian. "Biarin, Master! Gak usah dipegangin! Orang kayak gini emang harus dikasih pelajaran!" imbuhnya, mengibas-ngibaskan lengan kiri.


"Gak ada yang megangin!" jengkel Rafa mendorong punggung Vanya bertenaga. Vino dan Alya terbahak lepas, melihat teman mereka hampir terjungkal.


"Kok didorong, loh?" Vanya menoleh ke arah Rafa. "Barusan aja dicium-cium, sekarang ada lainnya malah didorong."


"Oh, iyes dong! Aku tadi tuh diusap-usap wajahnya, terus dicium lembuuuuuuut banget. Mana dipeluk-peluk lagi. Kayak gini."


Vanya mendekati Rafa, menarik pakaian lelaki tengah tercengang itu agar posisi tubuh sedikit membungkuk. Pipi dikecup lebih dulu oleh Vanya, berganti pada bibir lelaki yang seolah berada di tengah sadar dan tidak.


Rafa tidak berkedip sama sekali, menuruti saja apa dilakukan oleh perempuan yang berganti memeluk dirinya. "Tenang aja, aku gak akan pernah ninggalin kamu kok. Cinta ini, sehidup semati untukmu. Aku hidup, dan kamu yang mati, biar aku bisa cari pengganti yang lebih seksi." Vanya berucap, membelai dada Rafa berulang.


"Kita akan menikah, nanti sore kalau tidak ada angin kencang." Vanya menaikkan pandangan, membuat wajah terlihat sungguh-sungguh dan memaksa ketulusan menyertai parasnya.


Rafa, Vino dan Alya ternganga. Namun, tidak dengan Valen yang sudah siap meluapkan kecemburuan dalam amarah. "VANYA!" teriaknya, menarik pundak Vanya dengan tangan kanan terangkat tinggi.


Vanya melebarkan kedua mata sempurna, cepat ia melepaskan pelukan pada dada bidang Rafa, berpindah ke balik tubuh dan mendorong ketua timnya hingga wajah harus disapa oleh telapak tangan Valen.


Plak! Tamparan kencang mendarat pada pipi kiri Rafa, terkejut hebat Vino, Alya dan Vanya hingga melebarkan mata serta mulut.


"Ra—Rafa ... a—aku ...." Valen kebingungan, tertahan tangan seolah membeku usai melayangkan tamparan kuat.


"Wah, Valen! Kamu nampar calon suami kamu sendiri? Ini udah kelewatan." Vanya menggeleng. "Master, cewek kayak gini yang mau master nikahin? Bisa-bisa KDRT dan master dicincang pas malam pertama."


"Diam!" berang Valen menunjuk wajah Vanya. "Ini semua gara-gara, Kamu! Sini kamu, Anya!" susulnya, meluruskan tangan ke ujung kepala Vanya dan menjangkau rambut untuk dijambak, meluapkan rasa kesal dirasakan.


"Aku gak akan biarin kamu lolos gitu aja, setelah semua masalah yang kamu kasih ke aku, Anya!" berang Valen. "Berhenti rusak hubunganku sama Rafa, karena kamu gak pantes buat dapetin dia!"


"Hahaha, pantes atau gak, juga bukan kamu yang nentuin! Kalau master cintanya sama aku, gimana?! Kalau master maunya nikah sama aku, gimana?n Kamu bisa apa kalau udah kayak gitu?! Hahaha!" ledek Vanya sembari mengolok-olok dari kejauhan.


"Mimpi jangan ketinggian, ada juga kamu bakalan gila!"


"Itu kenyataan sih kayaknya." Alya berbisik lirih, Valen masih mampu mendengar dan menoleh bengis ke arahnya.


"Kenyataan?! Maksudnya?!" mengerut alis Valen pada Alya. "Apa mereka beneran ada sesuatu? Kamu tau kalah mereka punya hubungan?"


"Apaan, orang aku gak ngomong apa-apa. Sana kejar si Vanya, tanyain udah ngapain aja sama master. Kan aku gak ikut jalanin, mana aku tau."


"Alya!" seru Vino, mencolek sisi paha Alya.


"Kan bener, aku gak ikut jalanin. Cuma mereka beddua sama Tuhan yang tau semuanya, kita kan cuma ngeliatin terus nilai sendiri."


"Terserah!"


"Hahaha, panas gak, Len?! Bener kok yang diomongin Alya! Hahaha!"


"Anyaaaaaaaaaa!"