Me VS Master

Me VS Master
Biarkan Saja



Beberapa jam kemudian setelah apa disampaikan oleh Fathan, semua keceriaan dipalsukan oleh Vanya pun, tak lagi mampu dilakukan sama. Kegelisahan menyelimuti tanpa rekayasa, ketakutan serta kecemasan, menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya.


Apa lagi, selepas untaian kata dari Rafa sewaktu di kamar. Tentang kesedihan juga kehancuran, yang sudah pasti tak akan pernah sanggup ditanggung oleh Vanya, jikalau semua terjadi pada keluarganya.


Kini, perempuan yang memilih hening sedari kedatangan kakaknya itu, sudah menempati sebuah kursi di bar tempat Ricko memandu musik. Vanya duduk dihampiri lelaki pemilik piercing pada telinga kiri, membawakan segelas cocktail.


“Diem aja, katanya mau party.” Lelaki berlesung pipi terhias anting itu menyapa. “Turun.”


“Bawain agak berat, dong. Lagi sumpek ini.”


“Gila, bisa dibantai bokap entar! Gak ada, udah ini aja paling ringan.”


“Please! Aku gak bakalan bilang ke papa, kok.”


“Ada Fathan sama Rafa, mereka yang bakalan bocor. Gak ada!”


“Udah kasih saja, aku yang bayar buat dia!” Terdengar suara Fathan meninggi. Vanya dan Richo menoleh, pada lelaki berkaus putih over size yang mendekat dengan Rafa.


“Gak usah ngaco!” protes Rafa langsung.


“Aku butuh cari sesuatu, kamu juga butuh itu. Jadi, biarin aja Anya mabuk kali ini, kita bisa pancing buat dia ngaku semuanya. Aku yang tanggung jawab ke orang rumah.” Fathan berbisik, meski cukup nyaring untuk mengalahkan suara musik.


“Dia belum makan!” coba Rafa mengingatkan, bahwa tadi memang Vanya tak memasukkan apa-apa dalam perutnya ketika makan malam bersama.


Fathan tidak menggubris, hanya menyenggol lengan Rafa dan meninggalkan untuk duduk di dekat Vanya. “R, biasanya!” ucapnya, pada bartender.


“Ketinggian, gila!” tegur Richo, melotot dan memukul punggung Fathan.


“18, 20!” seru Rafa pada bartender.


“Stres kan masalah tunangan? Hajar aja malam ini, asal sama aku, gak masalah!” ucap lelaki itu pada adiknya.


“Than!” kencang Ricko dan Rafa.


Fathan tidak menggubris, ingin sekali menciptakan peluang kejujuran atas apa yang sangat ingin diketahui. Membuat adiknya mabuk, mungkin menjadi jalan terakhir yang dipilih, karena cara apa pun tak mampu membuat Vanya membuka suara.


Bartender menyodorkan minuman dipesan, Vanya menelisik ke arah sang kakak, yang memberinya kedua alis terangkat dengan manik mata tertuju pada gelas sejenak. Seakan, lelaki itu tengah memberi izin sekali lagi, atau sekedar memberi perintah untuk adiknya segera menenggak.


Rafa dan Richo saling menatap, sebelum akhirnya pandangan berlabuh pada Vanya yang terlihat ragu. Ingin mencegah, namun isyarat Fathan sudah cukup memberi larangan tegas. Lelaki di samping Vanya itu membeliak tajam, mengeratkan gigi pada kedua orang di sisi kanan sang adik.


Perempuan melengkapi penampilan dengan ripped jeans panjang membentuk kaki, serta halter top itu mengusir banyak keraguan, lalu mengambil gelas dan meluncurkan pada tenggorkan, dalam sekali tenggak.


Rafa terus menelisik wajah Vanya, dan Fathan memberikan gelas lain berisi minuman sama. Richo sudah menggeleng untuk melarang, tetap saja lelaki yang memiliki tujuan lain itu, mencekoki sang adik.


Jeda diberikan, dan pembicaraan pun mulai dilakukan. Sederhana, namun sedikit memberi pancingan. Richo harus pergi, karena sudah harusnya ia melakukan pekerjaan. Sejenak lelaki yang memang masih berstatus keluarga dengan Vanya itu, meminta Rafa agar tak pernah pergi.


Rafa duduk pada kursi yang tadi ditempati oleh Richo, memperhatikan wajah Vanya dengan tatapan bersalah. Perempuan bermake up tipis itu melebarkan senyuman, kemudian turun dari kursinya.


Keseimbangan langsung tak dimiliki, dan memang benar seperti apa perkiraan dari Fathan, jika adiknya tidak akan pernah sanggup menahan lebih lama reaksi alkohol berkadar tinggi, yang sengaja dipilihkan seperti kebiasaan dirinya.


“Anya!” seru Rafa, refleks tangan menahan pinggang Vanya, agar tak terjatuh.


“Master!” teriaknya. “Kenapa master terus aja nyium aku?! Master terus nyentuh aku seenaknya! Kenapa?!” ujar Vanya kencang, mampu mengalahkan suara Richo yang mulai menyambut setiap orang di lantai dansa.


Fathan terkejut bukan main, matanya membola ke arah Rafa—lelaki yang mengubah wajah menjadi cemas, kala tahu tatapan tertuju padanya. Rafa pun menelan saliva dalam-dalam, menggeser biji mata ke sisi lain, menghindari pandangan Fathan yang semakin dipertajam.