
"Hahaha, aku ikut!" tawa Vanya, membuka pintu ruangan, dan memasukkan kepala. "Dapet uang saku kan, Master? Dapet, dong?" imbuhnya, menatap lelaki yang sempat dibuat terkejut.
Ya, Rafa memang terkejut akan kehadiran Vanya dengan tawanya. Begitu pula Vino, Alya dan Juju, yang mulai berpikir tak jauh berbeda. Memang gila kalau mereka berpikir jika Vanya terdampak perbuatan Rafa, hingga mules atau apa saja. Nyatanya, perempuan yang entah pergi ke mana itu, bersikap seolah tadi hanyalah sebuah mimpi sesaat.
"Dari mana?" tegur Rafa.
"Hehehe, barusan ada perlu. Biasa, minta izin dulu buat pergi. Masalah pribadi, kan gak harus dilakuin di sini juga." Vanya menjawab, seraya berjalan ke arah mejanya.
Kecurigaan menghinggapi Vino, yang sempat menatap bayang arah kepergian Vanya. Namun, itu tidak berlaku pada Rafa, yang seolah tahu izin dimaksudkan untuk apa, dan ditujukan pada siapa. Lelaki itu membuka laci kerja, mengambil empat amplop coklat berukuran persegi panjang.
"Nih!" serunya, melemparkan lebih dulu amplop pada Vino, Alya, Juju dan Vanya. "Jangan jadiin itu bonus, karena gak bakalan ada terus!"
Keempatnya membuka amplop, di dalamnya terdapat lembaran uang berwarna biru cukup tebal. Mata berbinar-binar, wajah terpasang ceria dari keempatnya beriringan.
"Mm, ini gak ada transfer aja, Master?" Vanya sedikit ragu dengan pertanyaan.
"Gak ada! Kalau gak mau, ya udah! Balikin sini!" Rafa mengulurkan tangan kanan tegas, Vanya menyembunyikan amplop di atas pangkuan.
"Hehehe, enak aja!" ucap perempuan itu sigap. "Aku tuh Biasaan cepet habis kalau bawa uang cash, jadi nanya doang. Tapi, gak apa-apa lah, lumayan bisa beli sepatu incaran. Hahaha! Otewe mall, pulang kerja!"
"Aku ikuuuut!" Alya dan Juju berseru semangat.
"Kita seneng-seneng hari ini! Dugem, telfon Richo!" timpal Alya.
"Wah, iya. Tuh anak ada agenda nih malem, mayan minta tiket gratis! Hahaha, dapet cocktail juga sepuasnya!" teringat Vanya.
"Buruan ... buruan telfon! Kita beli baju dulu, dandan cantik banget, terus kita dugem!" ucap Alya.
Vanya bergegas mengambil benda pipih miliknya. Belum sampai nomor ditekan, sebuah pena sudah menyambar dirinya, berganti dengan Alya.
"Master, loh!" protes Vanya, punggung tangan terasa sakit akibat ujung pena yang terjun bebas barusan.
"Banyak mimpi! Gak ada acara dugem berdua!" sambar Rafa. "Kalau mau dugem, semua pergi!"
"Halah, bilang aja suka gratisan! Pengen nyari cewek, kan?" tunjuk Alya.
"Lumayan, orang gak pernah boleh gara-gara jadi wakil." Vino bergumam.
"Urus itu juga, Vin! Habis dari kafe, kita dugem! Gak ada acara mabuk, inget itu! Minum dikit gak masalah, asal gak ada cowok lain! Utama kalian berdua nih, awas aja keganjenan! Aku bakal laporin semua ulah kalian ke orang rumah!" Rafa menunjuk Vanya dan Alya menggunakan pena.
"Iya ... gak usah diancem gitu." Mengerucut bibir keduanya.
Semua ribut sendiri, menyusun rencana untuk bersenang-senang dengan uang yang baru saja dibagikan. Rafa mendapatkan keuntungan yang tak harus diceritakan, dari kepergiannya bersama ketua tim lain. Masing+masing dari mereka pun, telah disetujui untuk libur dua hari, memanjakan anak tim sebelum pekerjaan lanjutan. Bahkan, hari ini pun semua dibiarkan untuk kembali lebih awal, seperti tuntutan para ketua tim di awal.
"Diem aja, Ju! Gak ikutan? Mikir bayar utang?" tegus Vanya, tak mendengar suara Juju sama sekali.
"Aku lagi mikir, ini amplop kenapa tebelnya beda, ya? Perhatiin deh, sama yang di sana!" sahut Juju, mengarahkan pandangan dengan apa di atas meja masternya.
Semua mengarahkan biji mata ke pemandangan sama, di mana Rafa langsung membuka dan mengeluarkan tumpukan uang. "Mau ini?" ujar lelaki itu memainkan alis, semua mengangguk berulang tanpa meredupkan pandangan.
"Hahaha, mimpi!" ledek Rafa. "Beda resiko kerja, beda pendapatan! Terima gaji sesuai kinerja masing-masing, gak usah lirik punya yang lain, ujungnya gak bisa bersyukur! Paham?!"
Tak ada yang menjawab, selain saliva meluncur juga mata berkedip-kedip hijau.
"Pulang kerja kita ke mall, belanja keperluan di basecamp. Motor aku titipin kantor, kita pergi sama-sama!"
"Siap!" kompak semuanya.
"Lanjut kerja, empat jam lagi kita pulang!"
Rafa menurunkan titah, semua bergegas melaksanakan dengan keseriusan dikumpulkan. Ya, meski Vanya terngiang akan sesuatu hal sekarang. Tentang hadirnya di ruangan Robby, dan meminta izin pergi. Bukan atas ekspresi terkesan acuh dari lelaki tengah memeriksa banyak laporan, namun akan tanya diberikan.
"Vanya, kamu cinta sama Rafa? Kamu punya hubungan sama dia?" Itulah tanya yang kini terngiang, tanya yang diajukan Robby kala Vanya hendak pergi dari ruangannya tadi.