Me VS Master

Me VS Master
Dua Hari Saja



“Orang yang ngejalanin apa-apa cuma setengah hati, gak akan pernah jadi terbiasa. Apa lagi, kamu yang gak pakai hati sama sekali. Ada juga, kamu bakalan kesiksa dan ngerasa hidup di neraka, mati mengenaskan, bukan terbiasa sama keadaan. Paham?”


“Master loh, masa iya aku didoain mati mengenaskan, sih?”


“Itu gambaran masa depanmu, bukan doa. Lagi juga, pernikahan bukan mainan, di mana kamu bisa coba sama yang ini, terus pisah, coba sama yang lain. Atau parahnya, kamu nikah sama orang yang kamu gak mau, terpaksa ngejalanin, dan belum tentu bakalan bisa cinta.”


“Tau dari mana kalau aku gak bakalan jatuh cinta?”


“Kamu bukan orang yang gampang jatuh cinta, Anya. Kalaupun kamu deket sama cowok, keliatan ngasih harapan ke mereka, belum tentu kalau kamu beneran ngasih harapan.” Rafa menjabarkan yakin.


“Kamu juga orang yang cuma bakalan jatuh cinta satu kali, abis itu nutup rapat hati dan gak pernah mau lagi jatuh cinta. Bener, gak?”


“Hahaha, master lama-lama kayak dukun aja.”


“Iya, gak?!” tanya Rafa menegaskan, Vanya tersenyum menggaruk kepala.


“Aku itu ngerti gimana kamu, Anya. Pas kamu udah cinta sama orang, jalanin hubungan sama orang itu, terus kamu putus ... ya udah, kamu gak akan pernah cari gantinya, sampai kapan pun.”


“Saran aku, jangan pernah jadiin alasan balas budi ke orang tua, sebagai jalan yang kamu benerin buat nikah sama Robby.”


“Percaya, orang tua kamu gak akan pernah seneng kalau tau itu semua. Niat kamu nurut, cuma bakal bikin mereka terluka lebih parah, dari apa yang bakalan kamu rasain entar.”


“Inget, Anya. Kebahagiaan orang tua itu, dari anak-anaknya. Pas mereka bisa ngeliat anak-anaknya sukses, hidup tenang bahagia, bukan cuma kepalsuan aja.”


“Kamu pikir, orang tua terlalu bodoh buat dibohongin? Mereka gak akan pernah tahu, kalau kamu cuma sandiwara bahagia hidup sama Robby?”


“Gak akan pernah! Mereka punya ikatan batin sama anak, dan pasti tahu kalau anaknya gak baik-baik aja.”


“Keluarga kamu juga bukan orang yang egois, kok. Mereka bakalan bisa ngerti, asal kamu ngomong jujur. Kuncinya cuma satu, berani ngomong tanpa kebohongan!”


Rafa menyuarakan banyak nasihat, juga segala apa diketahui tentang diri Vanya. Setidaknya, semua itu tak bisa disangkal, oleh perempuan yang hanya diam mendengarkan. Semua memang kebenaran, begitu pula tentang diri yang tak lagi ingin mencinta, sebanyak dua kali atau lebih.


Vanya hening menyangga dagu pada lengan bersandar di ranjang. Sampai ulasan senyum diciptakan tiba-tiba, dan berhasil membuat Rafa menautkan kedua alisnya curiga.


“Perasaan kenapa berubah gak enak kayak gini?” gumam Rafa, beralih posisi terlentang menjadi memunggungi.


“Master ilo, masa iya aku dikasih bank kotoran, sih?! Gak sopan!” protes Vanya.


“Bodo amat. Merinding liat senyummu barusan. Gak pernah ada baiknya, kalau kamu udah senyum kayak gitu, Anya!”


“Hehehe, kali ini baik kok. Beneran baik banget.” Vanya cengengesan, Rafa menoleh tetap dengan raut wajah curiga.


“Hehehe, master ... pacaran sama aku, yuk. Dua hariiiii aja, gak usah lama-lama.” Perempuan tetap duduk di atas lantai itu menyeringai, sontak saja Rafa mengacak-acak rambut dan memunggungi lagi. “Ayo a, Master. Kan gak masalah kalau cuma dua hari. Master aja pernah pacaran cuma tiga jam, kan?”


“Siapa bilang?!” sarkas Rafa menoleh lagi.


“Ih, itu udah nyebar ke mana-mana. Makanya, master dibilang playboy kelas kakap. Itu, ceweknya masih galau-galau sendiri, gak tahu kenapa tiba-tiba diputusin, padahal baru jadian.”


“Eh, aku ini gak pernah mutusin siapa-siapa, apa lagi cuma tiga jam. Kalau yang dimaksud si Alana, itu emang aku usir dulu, gara-gara berani angkat telfon di HP ku. Lagian, kita gak pernah jadian, dia aja yang nyebar kayak gitu!”


“Hahaha, kasusnya sama kayak Valen, dong? Gak pernah jadian, tapi jalan. Hahaha!” tawa Vanya, Rafa berubah malas seketika.