
Kelimanya menuntaskan belanja bersama, meski lebih lambat dari apa diperkirakan oleh Rafa, yang bisa menghabiskan cukup tiga jam saja. Semua berasal dari Vanya, yang mendekam sangat lama di tempat penjualan sepatu. Apa diinginkan sudah tidak dijual lagi, karena merupakan edisi terbatas. Alhasil, perempuan itu mendapatkan amarah dari masternya, akibat selalu menumbuhkan penyesalan.
Mereka kembali ke rumah, dari hari sudah menggelap. Terpaksa, acara ke kafe pun dibatalkan, dan meminta makanan untuk dikirim ke basecamp. Untung saja kafe tadi dipesan oleh Vino, adalah milik kawan baik Rafa, jadi tidak menjadi soal ketika harus dibatalkan mejanya. Mau bagaimana lagi, mereka tiba di rumah sudah hampir pukul setengah delapan, karena berbelanja pakaian yang juga sangat menyita waktu lebih banyak tadi.
"Kalian bertiga ini, beresin sana loh belanjaan. Malah rebahan di sini!" tegur Rafa, pada ketiga orang sudah terkapar di atas karpet. "Belanja gak tau waktu, makan dibanyakin. Ujungnya, apa? Bangun aja gak kuat!"
"Master, makanannya kapan dateng?" sahut Juju mengusap perut.
"Ampun, baru makan habis satu gentong, masih nanya makan!" Rafa terheran. "Gak tau!" susulnya. "Anya, bantuin aku ngemas oleh-oleh di kamar!"
"Capek, loh. Nanti aja gak bisa?" lemas Vanya.
"Gak bisa, sopir habis ini ambil kesini. Buruan!" Rafa pergi lebih dulu.
"Duh, kah!" jengkel Vanya, menendang kuat kedua kaki. "Kalau makanannya nyampek, jangan dimakan dulu. Tungguin aku!"
"Iya ...." Juju dan Vanya menjawab panjang, melirik kepergian temannya yang terus membanting kaki. "Nguping a, Al?"
"Ih, gak mau! Resiko dipecat jauh lebih besar, coba aja sendiri!"
"Duh, angel men kerja sama iku loh!" jengkel Juju, mendorong punggung kawan yang memunggungi dirinya, untuk bermain ponsel.
"Geser, Ju! Aku ngantuk, mau tidur bentar. Bangunin lima belas menit lagi." Vino baru masuk, langsung menyusul berbaring di karpet sama.
"Mandi sana, loh! Dari mana-mana langsung tidur, setanen awakmu engkok!" protes Juju, namun tetap bergeser tubuh dan berbagi bantal.
"Yo, kene! Karo pacul pisan!" sarkas Juju. "Arek kok ngalem temen, turu kari turu ae kok rebyek men!" omelnya, tapi tetap saja bersedia mengusap rambut Vino, membantu lelaki itu terlelap.
Alya hanya melirik, kebiasaan itu bukan hal baru. Jika bukan Juju, Alya, sudah pasti Rafa atau Vanya yang menjadi sasaran Vino, karena memang tak pernah bisa tidur tanpa ada yang mengusap rambut, jika tak ada guling kesayangannya dari kecil.
Di atas, Vanya sudah menempati kamar, bersama lelaki yang membongkar koper untuk mengambil beberapa barang. Vanya duduk di atas karpet coklat, menyandarkan punggung pada tempat tidur.
"Nih, udah ada nama-namanya, tinggal kami kemas aja pakai tas itu." Rafa menyodorkan beberapa barang. "Ini buat, Kamu!" imbuhnya, memberikan sebuah kotak hitam.
"Aku alergi perhiasan, gak usah dikasih."
"Siapa yang ngasih perhiasan? Itu gantungan kunci, biar kunci rumah gak ilang terus!" tegas lelaki sudah berbaring di ranjang tersebut.
"Hahaha, khayalanku ketinggian emang! Mana mungkin orang kayak dia ngasih perhiasan." Vanya membuka kotak diberikan padanya, benar hanya gantungan kunci di dalam. "Lumayan, dari pada beli."
Rafa melirik perempuan tengah menyimpan gantungan kunci untuknya, dan memulai untuk mengemas beberapa barang lain. "Kamu beneran mau nikah sama Robby? Kamu yakin?"
Vanya menoleh, meletakkan lengan kiri di atas tempat tidur. "Master, aku tuh kalau bisa milih, gak bakalan mau nikah sampai kapan pun. Aku tuh bukan orang yang percaya sama pernikahan. Tapi, karena bakti ke orang tua, aku terpaksa nerima. Seenggaknya, aku gak bisa balas apa-apa sama semua yang dilakuin mama sama papa, dari aku belum lahir." Terangnya, berubah sendu kala berbincang tentang orang tua.
"Terpaksa? Berarti, kamu gak tertarik sama sekali ke Robby?" Kedua alis Rafa bertautan, Vanya meraup banyak udara dan membuang kasar.
Sekedar gelengan kepala diberikan, oleh perempuan yang juga melengkungkan bibir ke bawah tersebut. "Tapi, semua juga bakalan jadi biasa kok, kalau udah terbiasa. Cuma masalah waktu aja." Jawaban sendu diberikan, sembari memaksakan garis senyuman.