
"Gak ada ngomong apa-apa, cuman mau ajak makan siang aja tadi. Rafa udah cegah kok, ajak Anya ke proyek." Lelaki itu menerangkan. "Mendingan, papa ngomong ke mama buat batalin perjodohan Anya sama Robby."
"Udah berulang kali, tapi tetep aja mama gak mau. Kayaknya emang harus pakai cara keras, karena papa gak mau kalau sampai Anya jatuh ke tangan orang kayak Robby!"
"Papa mau nunjukin bukti ke mama, atau keras kayak gimana? Udah tua, gak usah pakai ribut-ribut, malu sama anak. Bentar lagi udah mau punya cucu juga."
"Tua ... tua. Masih muda ini, gak ada keriput sama sekali!" David menunjukkan wajahnya.
"Gak ada keriput, orang dokternya mahal. Itu gak bakalan bisa nutup usia selamanya, tua itu udah pasti."
"Aduh, kurang ajar banget!" David melotot. "Cucu dari mana? Anak dua, gak ada yang mau nikah. Dapat cucu dari mana?"
"Ya entar kan nikah, itu baru dapat cucu. Masa iya mau minta cucu dari aku sama Anya sekarang, sih?"
"Hahaha!" tawa pria berkacamata tersebut. "Berani aja kamu deketin Anya, papa giling bareng semen! Telfon mama kamu sana, udah nyariin tiap hari!" Wajah berubah tegas, melenggang pergi ke dalam rumah.
"Mama yang mana?" teriak Rafa.
"Yang ngelahirin kamu dulu!" sahut David, terus melangkah pergi.
Rafa menghela napas di depan, mengantongi kedua tangan dalam saku celana, beralih menatap ke sisi kanan terdapat mobil David terparkir. Berpindah pengamatan pada pagar rumah, wajah berubah dingin seperti biasa.
Rumah yang sengaja dibeli untuk keperluan pekerjaan itu, kini pun diamati oleh Rafa. Helaan napas panjang disempurnakan, lalu menunduk memejamkan kedua mata. "Kalau aja aku tau bakal kayak gini, mungkin ...." Rafa menggantung irama pelannya.
Di dalam rumah,Vanya sedang bersama Vino, Alya dan juga Juju. keempatnya menyantap kerupuk sambal bersama, sembari berbincang dan mengingatkan Vanya pada suatu hal. Perempuan itu pun menghentikan senam rongga mulut, menatap pada Vino yang terus sibuk mengunyah.
"Master putus sama si mak lampir, Vin?!" penasaran Vanya.
"Mak lampir, siapa? Valen?" celetuk Juju tiba-tiba.
"Siapa lagi monsternya kantor, kalau bukan dia?! Tadi berantem, dia marah-marah di ruangan." Alya menjawab segera.
"Orang putus tuh, kalau udah jadian. Valen sama master gak pernah jadian selama ini. Si kerempeng itu aja yang salah ngartiin!" terang Juju, menyentak perhatian ketiganya.
"Maksudnya?!" seru Vino, Vanya dan Alya memajukan tubuh ke arah Juju.
"Nih, kita kan ada lima tim, dan master wajib deket sama ketua tim masing-masing, biar kerjaan juga bisa lancar. Nah, kapan lalu tuh master pernah boncengin tuh si ketela rambat, karena dia mau naik taksi udah kemalaman, master sebagai cowok gentle gak bakalan biarin, dong? Dari situ, si kulit singkong itu salah paham, dikira master suka sama dia." Juju bercerita.
"Aku nih nyimak informasi, bukan tukang gosip! Beda!" protes Vino.
"Tapi, master mau aja dideketin sama dia." Alya berkomentar.
"Jelas, lah! Orang master ada tujuan lain kok buat deket sama daun pintu itu!" sambar Juju, saling tatap Vino juga Alya.
"Apaan?!" tanya keduanya makin penasaran.
"Aku keceplosan, jadi gak aku jawab."
"Ampun, Ju! Mbencekno!" maki Vino.
Juju menyipitkan kedua mata, tangan meraih lagi kerupuk berwarna merah muda dari toples tadi sengaja dibawa. Sambal gula di depan Vanya ditarik, namun ada yang lebih menarik, yaitu sikap diam dari perempuan yang hanya memegang kerupuk, tanpa memasukkan dalam mulut.
Juju menaikkan alis ke arah Vino dan Alya, memberitahukan tentang ekspresi dari perempuan yang duduk di antara mereka. Keduanya pun menelisik paras sama, di mana Alya langsung memukul samar punggung Vanya, dan berhasil mengejutkan.
"Aduh! Apa sih, Al?! Panas banget ini loh!" protes Vanya, menegakkan tubuh dan berusaha menjangkau kulit pedas dengan tangan.
"Ngelamun aja! Kesambet baru tau rasa!"
"Aku nih lagi mikir. Kita tadi kan bahas si mak lampir itu, kan? Terus, Juju malah ngomongin soal ketela, kulit singkong, tape sama siapa lagi tuh? Lupa. Emang, master deket sama banyak cewek, gitu? Orang kantor juga? Ketua tim beda divisi?"
Vanya bertanya tanpa pemahaman sama sekali, menyertakan kebingungan melalui ekspresi berpikir. Alya, Vino dan Juju malah melebarkan lubang hidung bersama, mengambil makanan dan pergi dari dapur tanpa penjelasan, atau sekedar jawaban ringan.
"Kok malah ditinggalin, sih?! aku serius nanya ini!" teriak Vanya.
"Bodo amat!" serempak ketiganya, keluar dari dapur.
"Ditanyain, malah paduan suara! Ngeselin banget emang!" gerutu Vanya, melahap kasar kerupuk di tangan.
Ia meraba-raba meja untuk mengambil lagi kerupuk terasa asin namun nikmat bagi lidahnya. Namun, hanya dingin marmer yang sanggup disentuh, menyadarkan Vanya bahwa makanan sudah tidak ada lagi di hadapannya. "Nah, tadi masih banyak. Kenapa udah gak ada?!" pikir Vanya, menoleh ke sana dan kemari.
"Tadi di sini, aku makan. Aku ambil satu, aku cocok sambal, terus ambil lagi. Sekarang kok gak ada?" ucapnya lagi, memperagakan ketika tangan mengambil kerupuk, sampai alur masuk dalam mulut. "Kok aneh?" pikirnya, menaikkan biji mata ke langit-langit ruangan.