
Keesokan hari, semua telah bersiap dengan pakaian rapi masing-masing. Begitu pula dengan Rafa dan Vanya, dua orang yang tertidur terpisah semalam. Vino membangunkan masternya, karena merasa tak ada kenyamanan dari pemilik tubuh tinggi itu, tidur di atas sofa.
Sejenak Rafa menatap paras lelap Vanya, sebelum akhirnya memindahkan ke kamar, yang ditempati bersama Alya dan Juju. Ada dua ranjang di kamar memiliki keluasan lebih dari dua kamar lainnya itu, hingga tak perlu engap bagi ketiganya mengarungi mimpi.
Pagi ini, Rafa memindahkan barang-barangnya ke kendaraan lebih dulu, seperti apa dilakukan biasanya. Akan tetapi, yang tak biasa adalah pemandangan mencolok mata, dari seseorang yang baru saja menggiring kendaraan putih memasuki halaman.
Rafa menghela napas panjang, cukup mengenal siapa pemilik mobil memiliki nomor unik tersebut. Tubuh membungkuk di samping mobil dengan pintu terbuka, ditegakkan oleh Rafa dan langsung bertolak pinggang. Mata tak henti menelisik ke arah Robby—seseorang yang baru saja turun dan membalas tatapan.
"Apaan lagi sekarang?" gumam Rafa, membanting pintu mobilnya dan menghampiri Robby.
Lebar ayunan kaki diciptakan oleh lelaki berkaus putih over size tersebut, berhenti tepat di depan sang atasan yang menyuguhkan senyum. Itu terlihat sangat menyebalkan bagi kedua mata Rafa, hingga sangat ingin ia menendang.
"Sengaja aku gak pakai fasilitas kantor, dan beli rumah sendiri, biar sampah kayak kamu gak seenak jidat buat dateng!" sambar Rafa. "Seenggaknya, bertamu juga harus punya izin yang punya rumah!" timpal lelaki bertopi putih itu.
Robby tersenyum simpul, berpindah tubuh bersandar pada kap mobil, menyilangkan kaki santai di atas paving. "Aku dateng buat jemput calon istri!" tekan lelaki berkaus putih dilapisi blazer hitam, tertarik sampai bawah siku tersebut.
Rafa tersenyum menghina. Pemilik tato penuh pada lengan kiri itu, menoleh ke sisi lain. "Baru calon aja bangga."
"Penting kan, calon. Dari pada seseorang, yang bisanya cuma sembunyi-sembunyi." Robby memberi tatapan meremehkan. "Kencan sana sini, tapi hati udah dikunci buat yang lain. Gak ngerasa salah mainin cewek sebanyak itu, cuma buat nutupin perasaan sendiri?"
"Oh ya? Terus, gimana sama kamu yang juga mainin cewek lain, dan malah jadiin Anya calon istri? Kamu pikir, itu lebih baik?" balas Rafa. "Harus aku ngasih tau Anya semuanya?"
"Silakan. Aku juga bakal bongkar semua rahasia kamu ke dia." Robby mengangkat kedua pundak, bersamaan senyum terurai tenang.
"Banci bakal tetep jadi banci, mau sampai kapan pun!" Alis kiri Rafa terangkat, menarik bibir pada sisi sama dan memandang sangat tenang. "Sekali kamu ngebongkar, semua bakalan kebongkar tanpa bisa kamu cegah."
"Sebenernya, siapa yang paling takut buat semua rahasia ith kebongkar? Toh, keluarga Vanya juga udah tau, jadi bukan mustahil kalau dia juga bakalan tau secepatnya. Kita bisa sama-sama liat, gimana reaksinya pas tau semua."
"Jangan pernah gertak aku, Robby!"
"Kenapa? Kamu takut kehilangan Vanya, waktu dia tau semuanya? Kamu takut, dianggap pembohong sama dia? Atau—"
"Diem!" Rafa menunjuk tegas wajah Robby—lelaki yang memahat senyum, dan meletakkan nyaman kedua siku pada kap mobil di belakangnya. "Jangan pernah nyari masalah sama aku, karena aku jauh lebih hancurin kamu, juga smeua yang kamu punya!"
"Bukannya kemarin kamu udah nyoba?" santai Robby, tersentak Rafa dan membuka mata. "Kemarin kamh gak pergi sama Valen, tapi ...."
Robby sengaja mwbggantung perkataan, ujung bibir kanan diangkat samar olehnya. Rafa gelagapan seketika, kedua tangannya pun mengepal. "Jangan pernah ngelakuin apa-apa ke Anya, atau aku bakal ngebernerin semua cara buat ngebalas!" ancamnya, berbalik untuk memasuki basecamp. Robby tersenyum menurunkan pandangan, seperti ada sesuatu kepuasan dilukiskan olehnya.
Belum sampai kaki diayunkan, mata sudah terisi oleh perempuan bercelana jeans panjang, yang berdiri di dekat pilar memperhatikan. Rafa diam menatap, cukup lama sampai ia mengajak kaki berayun pergi, tanpa peduli sudah berapa lama Vanya berdiri, dan apakah mendengar semua atau tidak.
"Gak ada yang peduli." Lelaki bercelana putih panjang itu, melirik dengan kedua alis terangkat.
Rafa tak lagi berkata-kata, dan berlalu. Urung kaki diajak menginjak lantai rumah, lebih memilih untuk memasuki kendaraan, dan menghubungi Vino agar lekas keluar. Vanya memaku kaki, kedua tangan memegangi tali tas ransel biru sudah digendong. Beralih tertunduk manik mata indahnya, alas sepatu kanan digeser-geser di atas paving.
Rafa hening melirik tingkah Vanya dari dalam mobil, lalu menekan klakson agar ketiga yang masih di dalam segera menghampiri. Benar saja, Juju, Vino dan Alya langsung berlari, hingga pintu harus tersumbat tubuh mereka bersama, saling berebut untuk bisa keluar lebih dulu.
"Duh, kah! Gantian, loh!" bentak Juju.
"Vino, nih! Di mana-mana tuh cewek duluan!" imbuh Alya.
"BURUAN!" suara Rafa meledak, ketiganya memaksa tubuh untuk cukup melewati pintu bersama. Mau bagaimana lagi, sudah terlanjur terjepit, dan sama-sama malas maju atau mundur, sekedar memberi ruang pada lainnya.
"Nya, gak naik?" Alya menoleh, Vanya melirik ke arah Robby berada.
"Wadoh, ya pantesan meledak. Orang saingannya ada di depan mata." Juju mulai memahami.
"Buruan apa bonus kepotong tiga puluh persen bulan ini!" ancam Rafa tegas.
"I—iya!" ketiganya kompak, memasuki kendaraan bersamaan.
Vanya masih di tempat sama, Juju dan Alya melambaikan tangan. Vino sudah mulai tancap gas, sampai detik di mana lelaki di sampingnya meminta, agar kaca diturunkan. Rafa memajukan sedikit tubuh, mengintip pada Robby.
"Gak peduli Anya calon istrimu. Tapi, dia tetep anak timku dan terikat kontrak. Sampai kontrak selesai, dia gak bisa pergi dari base camp, atau nikah!" tutur Rafa tegas, tangan kiri memasangkan kacamata hitam dan menepuk pundak Vino, agar menjalankan lagi kendaraan.
Juju, Alya dan Vino terkejut bukan main, setelah mendengar rangkaian alphabet tegas dari master mereka. Perihal Robby, dan juga Vanya yang tak pernah sedikit saja dipikirkan.
Keempatnya meninggalkan base camp, juga lelaki tampan yang berdiri tegak memperhatikan ekor mobil hitam itu perlahan lenyap dari pandangan. "Semua bakal berakhir, sebelum kontrak kerja kalian berakhir. Aku pastikan itu Rafa." Robby tampak begitu yakin.
"Kita berangkat, Pak?" tegur Vanya dari belakang, mengejutkan lelaki yang langsung bertingkah biasa.
"Oke!" Robby menoleh, tersenyum dan mengangkat kedua pundak.
"Aku bisa naik sendiri, kok." Vanya menolak, kala atasan serta jodoh pilihan ibunya itu, hendak memutar untuk membukakan pintu.
Vanya berjalan tanpa semangat, Robby mengetahui jelas hal itu dan membangun lengkungan senyum.