
"Master, tubuhku ini bukan mainan. Kenapa master terus aja mainin tubuhku seenaknya?!" teriak Vanya, mendorong dada Rafa tanpa tenaga.
"Apa aku kelihatan murahan, sampai master bisa mainin aku kayak gitu, huh?! Anya, bukan cewek murahan, Master! Anya cewek cantik yang gak boleh disentuh siapa-siapa!"
"Papa Anya galak, kakak Anya juga galak. Apa lagi mama Anya, dia bahkan bisa bunuh ikan tiap hari! Mama Anya suka robek-robek badan ikan, dikeluarin semua tulangnya! Mama Anya gak punya perasaan! Hahaha! Tapi, Anya sayang mama!" ucapnya, memperagakan cara sang ibu kala membelah ikan dari mencabut sertiap tulang yang ada. Vanya bahkan menghitung dengan jari, kala ia menyebutkan tentang anggota keluarga.
"Master mau dicincang kayak bawang sama mama? Hahaha, master pasti bakalan teriak-teriak minta tolong, sama kayak bawang bombai yang terus aja bikin Anya nangis!" imbuhnya, kali ini menjatuhkan kepala pada pundak Rafa.
Namun, itu tidak lama. Vanya mengangkat cepat kepala, dan tersenyum lebar menatap paras lelaki di depannya. "Master juga kayak bawang Bombay, suka buat Anya nangis!"
"Master blokir nomorku, master gak peduli sama aku, dan master terus aja nyakitin aku! Master, tau? Aku selalu nangis karena master! Aku gak bodoh, kenapa terus dibilang bodoh?! Aku berguna, kenapa dibilang gak berguna?!"
"Master yang bodoh! Master yang gak berguna! Anya benci sama master dan Anya gak pernah suka sama master sama sekali!"
"Tapi ... Anya gak bisa jauh dari master, sebentaaaaaar aja. Anya gak bisa kalau gak liat master, sehariiiii aja. Anya juga gak bisa kalau gak nyium keringat master, sedetikiiiiik aja. Anya suka semuanya, tapi Anya juga benci. Anya harus apa, Master?"
Vanya terus merancu tanpa arahan, membuka semua yang pernah dilakukan oleh Rafa terhadapnya. Fathan semakin tak menyangka, akan perbuatan dari lelaki yang telah menjadi kawannya itu. Peringatan tak kurang&kurang diberikan, namun nyatanya itu tak pernah dihiraukan, oleh lelaki yang bahkan hanya mampu diam mendengarkan sekarang.
Irama musik mengentak, memancing Vanya untuk pergi. Tubuh dilenggok-lenggokan oleh perempuan yang juga mengangkat kedua tangan tinggi, menemui teman-teman timnya untuk bergabung DJ lantai dansa. Suara Ricko terdengar kencang di antara musik dimainkan oleh jemarinya, menggiring seyiap orang di lantai dansa untuk terus mengikuti irama.
Tetiakan demi teriakan terdengar, kala musik yang cukup familier pada telinga tengah dimainkan. Vino, Juju dan Alya sudah lebih dulu hanyut, dalam hentakan irama kencang mendebarkan jiwa. Ketiganya menggila di lantai dansa, ditabrak oleh Vanya yang bahkan tak mengetahui, bahwa mereka adalah kawan satu timnya.
"Mabuk nih orang!" seru Vino, menoleh pada Vanya yang terus berjingkrakan.
"Pegangin, Vin! Bahaya!" teriak Alya, agar suaranya terdengar.
Vino menarik tangan Vanya untuk berada di dekatnya, namun perempuan itu justru rusuh dan memberi tamparan. Vino memeliak kaget, begith pula dengan Juju dan Alya. Namun, tidak terlalu lama, sampai kedua perempuan berpakaian seksi itu terbahak bersama.
"Hahaha! Rasain!" ledek keduanya beriringan.
"Sialan! Udah ditolongin, malah gampar seenaknya!" umpat Vino.
"Vino ganteng, tapi aku gak suka sama kamu, Vino! Kamu seksi, tapi kami gila!" tutur Vanya sembari melukiskan senyuman. "Ricko! Bikin lebih kenceng musiknya! I love you Ricko!" teriaknya sangat kencang, menaikkan kedua tangan ke atas.
"Aduh, mulutmu bau banget, Van!" seru Vino, menyumpat hidung akibat Vanya yang berbicara tepat di depan wajahnya. "Gila, mabuk sampah apa mabuk kotiran sih nih anak?!"
"Waduh, Ju! Akh juga mikir-mikir buat kurang ajar!" jengkel Vino.
"Hahaha, tampangmu mesum, Vin. Pantes dicurigain!' ledek Alya.
"Sialan!" umpat Vino.
Keempatnya tetap berada di tengah kerumunan, membiarkan tubuh terimbas asap, dan telinga terisi oleh teriakan tanpa takaran. Tubuh tak bisa diajak diam, mereka melanjutkan pesta tanpa lagj mencari di mana keberadaan master mereka, yang tadi sempat berpesan agar ketiganya tak berbuat ulah.
Ya, Rafa memang tidak ingin tersandung masalah lagi, hingga peringatan tegas pun diberikan bersama ancaman oemecatan, serta oelaporan pada keluarga masing-masing. Dua hal yang sudab pasti sangat ampuh untuk mengendalikan sikap liat, dari setiap anak buahnya. Semua harus dilakukan, karena jika sampai ada masalah, juga sudah pasti Rafa yang menjadi sasaran utama.
Begith pula dengan sekarang. Rafa harus menjadi sasaran utama darj Robby—lelaki yang menyeretnya keluar dari klub malam. Di depan, Fathan berdiri tepat di depan Rafa, menelisik wajah dari lelaki yang kini merapikan kaus, baru saja fitarik berelebihan oleh Fathan, hanya untuk emnyetet pergi dari bar.
"Jelasin ke aku semuanya, Fa! Bener semua yang diomongin sama Anya, tadi?! Kamu udah nyentuh dia?!" cerca Fathan berang.
"Berapa kali aku harus peringatin kamu, Fa?! Papa sama mama nuga udah sering peringatin kamu, buat gak pernah Deket sama Anya! Tapi, kenapa kamu ngelakuin semua itu ke dia, huh?!"
"Aku emang nyentuh dia, dan itu gak cuma sekali! Semua yang diomongin sama Anya emang bener, dan aku gak akan pernah ngelak soal itu semua, Fathan! Terseeah, kamu mau aduin ini sama bokap, nyokap, atau Robby sekalipun, aku gak peduli! Karena semua yang aku lakuin ke Anya itu gak salah!"
"Salah! Semua jelas salah dan kamh gak harus lakuin semua itu! Anya udah punya calon suami, dan dia udah dijodohin, bahkan saat dia masih kecil! Anya mungkin gak jnget semua itu, karena emang semua terjadi pas dia masih belum ngerti, apa itu dijodohin!" berang Fathan, mengejutkan Rafa dengan sangat hebat.
"Aku bakal ngomongin semua ke bokap, tentang kelakuan kamu ke Anya, Fa! Kita liat aja, apa yang bisa dilakuin sama bokap, setelah tau kalau putri kesayangannya dilecehin kayak gini!"
"Bukan cuma aku yang bakal kamu laaan sekarang, Fa. Tapi, semua keluargaku dan keluaga kamu sendiri! Peringatan buat kamu gak pernah deketin Anya, bukan cuma dari keluargaku, tapi juga keluargamu! Aku harap, kamu gak lupa semua itu, sebelum Anya jadi anak buah kamu, Rafa!"
"Kalau kamu lupa, silakan telfon keluarga kamu sekarang, dan tanya ke mereka!"
"Mulai hari ini, kalian berakhir!" imbuhnya, masuk ke dalam meninggalkan lelaki tengah mematung kaget.
Rafa memang tetap berada pada posisinya, tanpa pergerakan. Biji mata pun tak bergeser sama sekali, usai ketegasan diberikan oleh Fathan terhadapnya. Entah apa yang akan terjadi setelah hari ini, usai segala apa dikatakan oleh Vanya, tentang perbuatan yang memang tak bisa dibenarkan.
...TAMAT SEASON SATU...