Me VS Master

Me VS Master
Kata Menyakitkan



“Bener semua yang diomongin sama dia, Rafa? Kamu tidur sama Anya?” cerca Valen, menoleh pada lelaki masih berdiri di ujung anak tangga.


Perempuan dengan bibir bergetar itu berdiri, mengayunkan langkah pelan mendekati anak tangga. “Apa ini alesan kamu gak jawab telfonku dari semalem?” imbuhnya. “Kamu tau berapa lama aku nungguin balasan dari kamu, Fa? Aku bahkan udah kayak orang gila karena terus mikirin kamu, Rafa!” meninggi suara Valen.


“Jelasin ke aku, jangan cuma diem aja!” semakin kencang suara dari perempuan telah membendung air mata tersebut.


"Apa belum cukup semua yang aku kasih ke kamu selama ini, sampai kamu tega kgianatin aku sama cewek kayak dia, Fa?!"


"Aku bahkan rela jadi kayak orang bodoh, terus ngejar kamu tanpa pernah punya malu, merhatiin kamu padahal gak pernah dihiraukan, apa semuanya gak cukup?! Kenapa?!"


Rafa menarik dalam napas, tertunduk sejenak dan membasahi bibir merah alaminya. Kaki digerakkan menuruni anak tangga, diiringi tatapan dari ketiga anak timnya yang masih menempati dingin lantai.


“Semua gak kayak yang kamu pikirin.” Rafa berucap. “Aku lembur sama Anya, dan ketiduran. Udah ... gak ada apa-apa lagi, sampai aku harus jelasin panjang ke kamu, kan?”


“Lembur? Kamu pikir, aku bakalan percaya kalau dua orang di dalam satu kamar, cuma lembur tanpa ngelakuin apa-apa?! Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongin!”


“Terserah, mau percaya atau enggak. Buktinya, kita juga pernah satu kamar, tapi aku sama sekali gak nyentuh kamu, kan? Mustahil kalau aku sama Anya juga kayak gitu?” tutur Rafa.


Perlahan mata Vino, Alya dan Juju bertemu, setelah mendengar apa yang tak pernah diketahui. Mulut ketiganya pun membentuk huruf ‘O’ bersamaan, sebelum akhirnya digerakkan mengucap sesuatu tanpa suara.


“Ini ada apaan, sih? Berisik banget udah kayak pasar. Gak tau apa kalau aku lagi tidur?” Suara Vanya mulai terdengar, semua menatap ke arahnya.


Vanya terusik dan keluar dari kamar, menggaruk kepala serta menyipitkan kedua mata. Rambut berantakan dibiarkan olehnya, menuruni anak tangga malas sembari mengucek-ngucek mata, juga menguap lebar.


Napas Valen memburu, jantungnya tak beraturan akan rasa amarah yang tiba-tiba memuncak, ketika mata harus terisi oleh paras Vanya. Langsung saja perempuan tengah dilanda kecemburuan hebat itu menaiki anak tangga, tanpa kata dan menjambak rambut Vanya sekuat tenaga.


“Aaaaaa! Sakit!” pekik Vanya, memegangi pergelangan Valen.


“Ini gak ada apa-apanya dibanding sakit hatiku sekarang!” kelakar Valen, menarik Vanya layakanya binatang.


“Lepasin! Rambutku rontok semua!” teriak Vanya.


“Valen, lepas!” tegas Rafa.


Valen tidak peduli dan terus menyeret. Bahkan ketika tangan Rafa mencegah pun, dihempaskan kasar oleh perempuan yang hanya tahu tentang meluapkan kekesalan.


Begitu kasar tangan Valen melemparkan tubuh Vanya, menabrak dua orang yang hendak datang menolong dan menghentikan keributan. Vanya terhempas di atas tubuh Juju dan Alya, yang sudah lebih dulu mendaratkan punggung ke lantai.


“Aduh, pinggangku!” keluh Anya.


“Mak, boyokku njebrot!” Juju turut mengeluh sakit.


“Aduh, kepalaku. Rambutku ....” Vanya pun tak kalah menyuarakan keluhan.


“Kamu udah gila?! Anya bukan barang yang bisa kamu buang kayak gitu!” murka Rafa.


“Kenapa?! Kamu belain dia sekarang?!” balas Valen. “Dia pantes dapetin itu, bahkan lebih! Aku gak akan pernah diem, pas ada yang ngerebut kamu dari aku, Rafa!”


“Kamu lebih milih perempuan kayak gitu dari pada aku, Rafa?! Buka mata kamu sekarang! Liat kayak gimana dia, yang bahkan gak pantes buat ditolongin!” menggebu-gebu suara Valen.


“Gak ada yang milih siapa-siapa! Pantes atau gak, tetep aja di—“ suara Rafa terpenggal, kala ada suara lain merasuki telinga.


“Eh, Juju, Alya. Aku kayak lagi surfing kalau gini. Hahaha!” suara Vanya memenggal sanggahan ingin diberikan oleh Rafa. Perempuan itu melebarkan kedua tangan, menggerakkan tubuh ke kanan dan kiri sembari bersuara layaknya angin berembus.


“Hahaha, tapi kenapa papannya bergelombang, ya? Miring ke kiri, Al. Ganjalanmu jomplang sama Juju, loh.”


“Untumu, Nya! Tangio, abot awakmu!” ujar Juju.


“Nya, ampun ... bangun!” timpal Alya.


“Hahaha, empuk badanmu, Ju. Sumpah, gendut banget!” tutur Vanya.


“Aduh, kok ya sempet-sempetnya!” Vino berseru, menarik tangan Vanya agar berdiri.


“Sakit loh, Vin. Lemah lembut dikit gitu loh sama cewek. Pantesan Alya nolak kamu bolak-balik, orang kasar!” Vanya memegangi pergelangan tangannya.


“Kapan aku ditolak? Nembak aja gak pernah!” sanggah Vino. “Orang keadaan lagi kayak gini, masih sempet aja usil! Liatin itu berdua, udah kayak katak kelindes ban!”


“Hahaha, sendirinya juga masih ngehina.” Vanya justru tertawa.


“Kebangeten emang berdua!” Alya dan Juju bangkit, kompak memegangi pinggang masing-masing.


Rafa menghela napas, beriringan dengan tertutupnya kedua mata, akan kelakuan dari anak timnya yang tak bisa diterjemahkan seperti apa otaknya. Valen menggeleng, senyum menghina ditunjukkan olehnya.


“Cewek kayak gitu yang kamu pilih, Fa? Aku bener-bener gak bisa percaya ini.” Valen tetap menggeleng, kemudian menoleh pada lelaki yang turut menoleh padanya.


“Jaga omongan kamu, Valen.”


“Kenapa? Bukannya kamu selalu ngebelain dia, karena emang kamu cinta sama dia, Fa?! Kamu bahkan rela ngelawan pak Robby demi dia, itu karena kamu emang cinta sama Vanya!”


“Aku gak cinta sama Vanya! Gak mungkin aku cinta sama cewek lemot kayak dia!” tangkis Rafa menggelegar. “Aku ngebelain dia, karena emang itu udah kewajibanku sebagai ketua tim!”


“Aku ngelawan Robby, bukan karena dia! Tapi, karena aku gak mau punya atasan yang bodoh kayak Anya! Kalau Robby nikah sama Anya, udah pasti dia juga bakalan sok merintah di kantor, dan aku gak mau!” susul lelaki bersuara berat tersebut.


“Jangankan buat cinta sama dia, Valen! Aku tinggal satu rumah sama dia juga terpaksa, karena urusan pekerjaan! Kalau bisa, aku bakal usir dia jauh dari hidupku, karena emang aku gak pernah suka sama dia, dari awal ketemu!”


Rafa terus meninggikan nada, mencengangkan bagi telinga empat orang di atas lantai. Vino, Alya, Juju dan Vanya, sungguh tak pernah menyangka bahwa semua kata menyakitkan itu, akan disuarakan lantang oleh master mereka.


Terlebih Vanya, perempuan yang hanya bisa diam mencerna setiap kalimat menarik namanya. Vanya berdiri, menyuguhkan senyum palsu. “Makasih banyak, Master. Vanya tersenyum, pergi ke belakang.


“Vanya!” seru Juju dan Alya, lekas mengejar.


Rafa gagu, bibirnya bergerak, tapi suara tercekat dalam tenggorokan. Kaki hendak melangkah, namun tertahan bersama kedua tangan mengepal, juga rahang mengeras.