Me VS Master

Me VS Master
Bukan Level



Vanya pergi ke dapur, mengambil gelas bening tinggi, dan mengisinya dengan air putih. Juju dan Alya menelisik wajah sendu Vanya dari depan ruangan beraroma masakan tersebut.


Sejenak mata saling bertemu, sebelum akhirnya kaki berlanjut melangkah, menghampiri seseorang yang telah duduk menenggak minuman dingin. Vanya melihat kehadiran keduanya, ia berhenti membasahi tenggorokan dan memberikan senyuman.


“Udah aku buatin kopi, loh. Ini juga aku udah masakin nasi merah.” Juju membuka kata. “Apa mau digoreng aja nasinya, campur telur?”


“Aku ambilin kopinya, ya?” timpal Alya.


“Gak usah. Aku tugas piket hari ini, entar ketiduran kalau kenyang.” Vanya tersenyum memamerkan gigi putih. “Ini aja cukup, kok.”


Vanya menggiring lagi sisa air putih dari gelas, dalam tenggorokan. Dia berdiri, dan mengisi lagi gelas, diiringi perhatian dua kawannya. “Aku nyuci baju dulu di atas, dari pada gak kelar-kelar entar. Punya kalian anterin ke sana aja.”


Perempuan yang tak sanggup memaksa mata untuk menunjukkan ceria layaknya bibir itu, meninggalkan dapur tanpa menunggu jawaban. Keduanya yang telah ditinggalkan, kembali menyatukan pandangan, dan kali ini dilengkapi dengan kesenduan dari ekspresi masing-masing.


Vanya berpapasan dengan Vino, karena lelaki itu sengaja menghampiri untuk mencari tahu keadaan. Namun, rasanya tak perlu baginya mencerna lebih, karena kemurungan sudah mampu ditangkap sangat jelas.


“Mau ke mana?” tegur Vino.


“Nyuci baju, lah. Masa iya nyuci otak?” asal Vanya. “Anterin pakaianmu ke atas, aku males naik turun.”


“Aku aja yang piket hari ini. Kita tukeran.”


“Ih, ogah! Hari minggu jatahku perawatan.” Vanya menjulurkan lidah, kemudian pergi.


Vino menoleh dan mengabsen punggung kawannya. Oksigen ditarik menuju paru-paru serakah, melemparkan karbondioksida, seraya meletakkan kedua tangan pada pinggang. “Mau boong bagaimana juga, tetap aja kamu gak bisa beneran boong.”


“Hm, master emang udah keterlaluan banget bacotnya.” Vino menggeleng. “Siapa yang gak tau sih kalau Vanya lemot, otaknya cuma bisa kerja satu persen doang? Semua juga tau. Tapi, gak harus dijelasin juga.”


“Gak semua mesti diomongin, apa lagi tahu kalau itu bakal nyakitin. Kusumpahin jatuh cinta sama Vanya, biar kapok!” gumam lelaki itu lagi.


“Dosa gak ya, nyumpahin orang? Gak ah! Asal orangnya gak denger, dosanya gak jadi. Kan gak nyakitin siapa-siapa?” Vino menaikkan kedua pundak, melengkungkan bibir ke bawah.


Kala Vino sibuk bergumam, hingga memutuskan ke dapur untuk melihat persiapan sarapan, di atas Vanya sudah mondar-mandir di depan pintu kamar Rafa. Bukan ingin berbicara, namun ia ingin mengambil ponselnya untuk mendengarkan lagu.


Vanya mengembuskan napas kasar, membulatkan tekad untuk mengangkat tangan kanan, dan mengetuk pintu di depannya. Akan tetapi, belum sampai jemari berbenturan dengan pintu, sudah lebih dulu ada yang membuka. Sebuah wajah pun muncul, sukses hebat membuat Vanya malas.


"Mau ngapain lagi? Gak tau malu ya, masih gatel sama orang yang jelas-jelas gak pernah suka sama, Kamu?!" tegur wanita dengan handuk melilit kepala.


"Kamu merintah aku?" Valen menunjuk wajahnya sendiri. "Kamu itu bawahan, gak ada hak main perintah!"


"Terus? Aku harus masuk dan godain cowok kamu, gitu? Ya kali cowok kamu beneran gak tertarik, kalau dia tertarik?"


"Ngipi!" tekan Valen. "Rafa gak akan pernah suka sama orang kayak lidi berdiri!"


"Hahaha, gak sadar diri!" tawa Vanya. "Gak usah kepedean, dia juga belum tentu cinta sama kamu, Nenek Lampir. Buktinya, dia gak nikahin kamu dan cuma jadiin kamu pacar. Orang yang serius cinta, bakal nikahin tanpa pernah mau pacaran. Minta dinikahin sana, buat buktiin kalau dia emang beneran cinta, gak cuma mainin aja!"


"HP, Kamu." Rafa tiba-tiba keluar, menyodorkan ponsel Vanya.


"Nah, ini orangnya! Sana gih minta dinikahin. Minimal, minta kenalin ke keluarganya, biar ada jaminan kalau dia beneran cinta." Vanya berucap lagi. "Jadi cewek bodoh banget, pacaran cuma disembunyiin aja mau."


Vanya melenggang pergi, Valen menarik kerah kausnya untuk menghentikan. "Kamu mau aku nunjukin kalau Rafa emang cinta sama aku?" ujarnya, tapi tidak terlalu dipedulikan oleh Vanya—perempuan yang justru menatap layar ponsel menyala.


"Liat ini, aku bakal buk—" suara Valen terpotong, bibir ditangkul oleh jemari berkumpul Vanya, layaknya orang ingin makan tanpa sendok.


"Iya Ma?" kata Anya, menjawab panggilan masuk.


"Dari mana aja sih, ditelfon udah tiga kali gak dijawab!" sambar wanita di ujung panggilan.


"Dari bawah. Apaan?"


"Entar malem makan malam. Kamu udah janji mau dikenalin sama jodoh pilihan mama. Pakai dress, dandan yang cantik."


"Iya, gak lupa. Tapi, nanti kalau jodoh yang dipilih mama jelek, minta operasi plastik dulu. Kalau ganteng, langsung nikah aja, gak usah banyak proses." Vanya berhasil membuat mata Rafa terbuka, kala mendnegar. "Dress nya beliin dulu ya, aku gak punya. Kalau dandan cantik, ada Juju sama Alya yang bantuin. Tenang aja."


Vanya terus berbincang dengan wanita yang sudah melahirkannya, memunculkan pemikiran dalam benak Rafa yang terus memasang lebar telinga. Begitu pula dengan Valen, yang bahkan tak terlalu menyadari, bahwa bibirnya masih tertahan oleh lima jemari kanan Vanya.


"Ngomong apaan tadi?" Perempuan sudah menutup telepon itu, menoleh ke arah Valen. "Ih, gila. Mulutmu kayak biawak!" imbuhnya, melepaskan bibir Valen dan mengusap-usap tangan pada pakaiannya.


"Aku bisa bukti—"


"Ah, mau buktiin kalau reinkarnasi gas elpiji ini cinta sama kamu, gitu? Kalau dibikinin anak aja sih, kucing kampung juga bisa. Mereka bikin tanpa cinta, sodok sana sini seenaknya. Dah, ya. Mau nyuci baju, dari pada kena racun!" penggal Vanya, menarik Rafa dan menekankan kalimat racun.


"Ah, satu lagi. Gak usah khawatir aku bakalan punya hubungan sama dia, bukan levelku apa keluargaku. Biarpun aku lemot, seenggaknya udah banyak cowok yang antri buat dapetin aku! Gini-gini, aku juga udah punya calon suami. Jadi, tenang aja. Aku gak bakalan tertarik sama cowok modelan gini! Bukan level!" tajam Vanya menatap Rafa, lagi-laki ia menekan kalimat padanya yang memperhatikan tanpa sanggahan.