Me VS Master

Me VS Master
Keterkejutan Vanya



Vanya berpamitan pada dua kawan yang sudah membantunya bersiap, tanpa melupakan Vino yang cukup ternganga melihat penampilan, tak pernah disaksikan sebelumnya. Rambut poni depan Vanya, cukup menarik perhatian lebih dari mata dipenuhi kekaguman Vino, selain dress pendek putih yang menonjolkan bagian pundak, serta paha.


Perempuan itu pergi berdua dengan sang ibunda, terus saja merasa tak nyaman dengan penampilan sempat ditolak. Terlebih, gulungan rambut di belakang, serta poni yang menyisakan helaian-helaian semakin memanjang pada kedua sisi. Belum lagi, bentuk rok sedikit mengembang dipilihkan oleh ibunya, serta warna yang paling anti dipakai.


"Udah biarin aja! Dari tadi dipegang-pegang, rusak malah keteteran mama benerin!"


"Rambutku ini loh, udah kayak penjual jamu aja. Ini juga, rok apa parabola sih, Ma? Bentuknya bisa kayak corong minyak gini!"


"Cerewet! Udah diem, duduk yang tenang, gak usah banyak protes!" peringat tegas Livia. "Udah bener pakai heels, malah ganti sepatu Kamu mau makan malam, apa main bola sebenernya?! Gak ada feminim sama sekali!"


"Dari pada aku gak bisa jalan dan bikin malu, mending aku pakai ini." Vanya mengangkat sepatu kets putih dipilihnya tadi. "Nyaman pakai celana jeans sama kaos, loh! Gatel-gatel badanku pakai gaun gini. Mana pundak dibuka-buka, masuk angin gimana hayo, Ma? Lagian, kalau papa tau aku pakai kayak gini, bisa diiket di knalpot, terus ditarik keliling kota."


"Ish!" Livia berang, memukul lengan putrinya kencang. "Ini nih, kalau anak cewek sering diajak main catur sama nonton bola! Ujungnya lupa sama kodratnya!"


"Dari kecil pakai topi sama celana, giliran pakai rok udah gatel-gatel! Itu duduk dirapetin gitu loh pahanya! Udah pakai rok, duduk kayak orang mau ngajak berantem aja! Sekalian diangkat tuh kaki, biar kayak orang di warung!"


"Cewek kok ya modelnya kayak gini! Diri tuh dirawat, Anya! Rambut gak dicuci tiga hari, kok ya betah banget! Beli make up, beli skincare, kalau perlu ke dokter sana perawatan! Muka udah kayak aspal jalan, kasar gak karuan! Tuh tangan kamu, liat! Itu tangan manusia apa sisik ikan?! Jorok banget!"


"Haduh, Mama. Aku gak boleh cerewet, tapi sendirinya lebih panjang lagi, ngalah-ngalahin gerbong kereta tabrakan!" ujar Vanya.


"Aku gak cuci rambut, juga bukan mauku sendiri. Itu shampo udah gak bisa berbusa, Ma. Lotionku juga udah gak ada penghuninya, apa lagi pelembab wajah."


"Shampo sama kondisioner udah diisi air berapa kali, masih minta berbusa?! Lotion sama pelembab sampai digunting jadi berapa bagian, mau ada penghuninya dari mana?! Ampun, Anya!"


"Hahaha, selama aku isi air masih bisa ada busanya, ya aku isi lagi. Sayang juga kan, kalau langsung dibuang. Hidup itu harus hemat, Ma."


"Ngebanding-bandingin anak tuh gak baik, ngerusak mental, nurunin kepercayaan diri. Lagi juga, kalau dibandingin sama kakak, aku gak mampu. Dia mau beli motor aja, udah kayak mau beli permen di warung. Lah, aku? Beli permen aja, udah kayak orang mau beli motor."


"Terus ... terus ...." Livia melirik tajam. "Sendirinya yang mau kerja sama Rafa, malah ngeluh sekarang. Kamu tuh kalau suka sama Rafa, ya bilang! Jangan malah jadi bawahan kayak gini, nyusahin diri sendiri!"


"Idih, siapa yang suka sama dedemit model gitu? Dikasih gratis juga aku gak mau! Galak, gak punya perasaan, suka merintah pakai waktu yang gak diukur dulu, sama banyak lagi buruknya! Kalau aku gak mentingin gaji sama bonus, udah aku racun dari lama! Hidup orang modelan gitu, demennya mancing kejiwaan tiap detik!"


"Udah ... udah!" Livia melambai-lambaikan tangan, tanpa menoleh pada perempuan di sampingnya. "Capek urusin kalian berdua."


Vanya memajukan bibir sempurna, membanting punggung ke sandaran. Mobil sedari tadi melaju dengan kecepatan lumayan, telah berhasil mengantarkan mereka ke sebuah restoran. Itu memang tak terlalu jauh dari basecamp yang ada di pusat kota, sengaja David memilih, karena tahu peraturan tim dari putrinya.


Sopir turun membukakan pintu, tanpa membiarkan penjaga restoran yang melakukan. Vanya turun bergandengan dengan ibunya, memasuki ruangan luas, dipenuhi alunan piano menenangkan jiwa. Lampu-lampu redup terhias cantik bergelantungan di ruangan, menambah kesan romantis tersendiri.


Pelayan mengantarkan mereka, pada sebuah meja telah ditempati tiga orang sedari lima menit lalu. David, Fathan dan Robby berdiri, memasang senyum beriringan, tatkala melihat kehadiran Vanya juga Livia. Namun, senyum diberikan justru menghentikan langkah Vanya, menahan pula lengan sang ibu agar terhenti.


"Pan Robby ngapain di sini, Ma?" Vanya bingung, dia menoleh pada wanita cantik berbalut dress nude di sampingnya.


"Dia jodoh yang mama pilih lah, apa lagi?" santai Livia, mengejutkan Vanya hingga pupil mata membesar.


"A—apa?!" gagak Vanya saking kagetnya. "Ma—maksud mama, aku sama pak Robby ... kami ...."


Vanya tak kuasa menyemburkan kata, walau semua telah tersusun dalam kepala. Ia sibuk menatap ibu serta kakak dan papanya, berganti pada wajah segar lelaki yang selalu menjadi incaran para kaum hawa di perusahaan—Robby.


"Ini gak mungkin ...." lirih Vanya, bergeleng pelan.