Me VS Master

Me VS Master
Apes Bertubi



Vanya tetap menjalani acara makan malam bersama Robby, serta keluarganya. Jarum-jarum jam dibiarkan mengelilingi angka, kelimanya tetap memanjakan perut sembari melakukan pembahasan santai, yang turut menyisipkan keseriusan.


Tentang apa tujuan dari acara makan malam dan berkumpulnya keluarga, di mana orang tua Robby pun menyusul tak lama setelah acara makan malam dilangsungkan. Semula, mereka telah mengatakan jika tidak bisa hadir, karena suatu hal. Namun, tiba-tiba saja menyusul tanpa pemberitahuan lebih dulu.


Pujian tak lepas diurai pada Vanya—perempuan yang untuk kali pertama berdandan feminim, dengan riasan melengkapi paras cantiknya. Meski, awalnya Fathan dan David memprotes pada Livia, akan gaun disebut keduanya terlalu menunjukkan kulit. Maklum saja, papa serta kakak Vanya termasuk orang yang sangat protektif, lebih-lebih masalah pakaian serta pergaulan.


Keakraban dibangun antar dua keluarga yang sudah mengenal cukup lama. Hal-hal baru pun, cukup menarik bagi mata Robby tentang diri Vanya, begitu pula sebaliknya. Bahkan, keduanya lebih sering bercanda, tanpa lagi ada status antar atasan juga bawahan. Sama seperti sekarang, di mana Robby bersedia mengemudi sendiri kendaraan pribadinya, mengantarkan Vanya kembali.


Mobil putih memiliki body gagah itu melewati pagar, mengejutkan seseorang yang sedari tadi sibuk mondar-mandiri di halaman. Siapa lagi jika bukan Rafa, lelaki yang tak memiliki ketenangan, meski hanya satu persen saja. Kaki Rafa berhenti, matanya membeliak menatap sorot lampu mulai redu di sisi kanan.


"Mampus!" umpatnya, kebingungan harus ke mana.


Ke kanan dan kiri, semua diurungkan olehnya. Hingga pada akhirnya memutuskan berbalik, sesegera mungkin menaiki anak tangga pada teras. Saking gugupnya dan takut ketahuan, Rafa tidak memperhatikan langkah. Lelaki bercelana pendek di atas lutut itu, terpeleset ketika hendak menapaki anak tangga kedua.


"Aduh!" pekiknya mengusap lutut. "Gak bisa apa minggir bentar aja?! Udah tau orang mau lewat, malah ngalangin jalan!" imbuhnya, memukul anak tangga.


Meringis kesakitan akibat lutut membentur kuat, Rafa terpaksa menghentikan omelan, tatkala suara mesin mobil sudah terlalu dekat ditangkap telinga. Bingung sampai melebarkan mata dan menelan saliva, Rafa ingin berdiri dan mengurungkan cepat.


"Kalau aku berdiri, pasti ketauan. Udah lah!" ucap lelaki berkaus oblong hitam tersebut, memutuskan untuk merangkak saja.


Cepat gerakan diciptakan oleh lutut serta kedua telapak tangan, menembus pintu hanya terbuka sedikit. Rafa mendorong pintu setelah berhasil masuk, berdiri di baliknya dan mengintip. Robby terlihat turun lebih dulu, memutar langkah membukakan pintu untuk Vanya. Gigi seketika dirapatkan oleh Rafa, geram melihat tingkah pola dari seseorang yang juga ditangkap menyuguhkan senyuman.


"Gak guna banget ngelakuin kayak gitu! Dia sopir, atau apa?! Berlebihan!" umpat Rafa, seraya menggenggam ujung pintu.


Umpatan demi umpatan terus saja disuarakan, terlebih ketika Vanya turun dan membalas senyuman, pada lelaki yang melengkapi penampilan dengan kaus serta jaket putih tersingsing sampai lengan. Keduanya berdiri di depan mobil masih dibiarkan menyala mesinnya, Robby menelisik rumah yang dirasakan ada pergerakan pada pintu.


"Kenapa senyum, Pak?" tanya Vanya heran, menoleh pada apa diperhatikan oleh lawan bicaranya.


"Ah, enggak ada." Robby menggeleng, tanpa memudarkan senyuman. "Kamu cepet tidur, jangan lembur lagi. Besok pagi aku jemput, ya?" timpalnya lembut, menyentuh ujung kepala Vanya.


"Tenang aja, gak akan ada yang berani. Kalau ada yang bikin rumor soal kita yang deket, itu malah bagus, kan?"


"Hehehe, iya juga." Vanya mengernyitkan hidung, Robby gemas dan mencubit hidung mancung itu samar.


"Aku harap, kamu gak lupa sama semua yang udah kita bahas tadi. Gak boleh ada rahasia, dan kita bakal lebih sering barengan. Inget, kan?"


"Iya, aku inget." Vanya mengangguk. "Mendingan, sekarang bapak pulang, udah malem. Nanti kabarin aja kalau udah sampai rumah."


Robby tersenyum, dia mengangguk. Hari memang sudah cukup malam, ia memeluk Vanya dan berpamitan pergi. Tentu saja, itu semakin menambah kesal Rafa yang masih setia mengintip, dan juga mengomentari sikap keduanya. Bak remaja tengah dilanda asmara, itu menjijikkan bagi penglihatan Rafa, yang ingin sekali menghampiri dan mengusir keduanya jauh.


Vanya masih berdiri menantikan kendaraan Robby lenyap dari pandangan. Tangan melambai, mengiringi mobil mewah itu mundur. Vanya mengembuskan napas panjang nan kasar, menurunkan kedua pundak kala Robby tak lagi mampu ditangkap kedua mata. Namun, itu tak berlangsung lama. Karena uraian senyum ditunjukkan, beriringan kedua pundak terangkat.


Riang kaki melangkah menapaki tiga anak tangga pada teras dengan sedikit melompat-lompat. Jemari kanan memutar-mutar tas tangan, memunculkan pemikiran pada benak Rafa yang mulai menurunkan pandangan sekarang. Tentang sikap Vanya yang jauh berbeda dari apa dibayangkan sebelumnya, ketika perempuan itu tahu dengan siapa dijodohkan.


"Aduh!" Rafa tiba-tiba memekik hebat, menghentikan kerja otak dan mulai meringis kesakitan, dengan tangan menyapu kening. Ya, Vanya mendorong pintu tanpa kira-kira, membentur kencang kening serta hidung Rafa bersamaan, hingga lelaki itu harus berjalan mundur sembari membungkuk.


"Ma—Master, kenapa?" gagap Vanya, setelah dibuat kaget akan suara berat menggelegar.


"Kenapa, apanya?! Masuk tuh liat-liat, gak asal nyelonong aja!"


"Y—ya mana aku tau, sih? Lagian, ngapain master di belakang pintu? Nginyipin aku, ya?"


"Enak aja ngintip! Aku mau liat siapa yang dateng, akh pikir Vino!" sambar Rafa keras. "Aduh, sakit banget idungku!" imbuhnya, menekan-nekan lembut hidung. "Ini kalau gak bisa dipakai nafas lagi, gimana?! Ngawur aja!"


"Iya, maaf. Sini aku liat." Vanya mendekat, membungkuk dan mengintip wajah masternya. Kening memang sangat merah, begitu pula dengan hidung. "Makanya jadi orang tuh jangan putih banget, kebentur dikit aja udah merah kayak gini! Bentar, aku ambilin es buat kompres!"


"Gak mau!" cepat Rafa menjawab. "Dingin, aku gak mau. Usap-usap sampai gak sakit lagi." Suara berubah menurun, menggiring biji mata ke lantai.