Me VS Master

Me VS Master
Kedatangan Livia



"Apaan selanjutnya, Ju?" Semakin maju wajah Vino.


"Gosip terus, rumah dibiarin kayak kandang kerbau! Teh juga belum ada, malah ngobrol aja dari tadi!" suara Rafa kembali terdengar, ia menyusul ke dapur setelah cukup lama tak melihat anak timnya.


Ketiganya menoleh, wajah kesal terpasang sari Vino yang sudah tak mampu menahan rasa ingin tahu. Namun, semua harus dihentikan, sebelum rumah hancur berkeping-keping akibat teriakan bertubi. Mereka turun dari kursi, menyempatkan jari menyambar sisa makanan.


"Ini mau jalan." Vino berucap, kala tubuh sudah bersejajar dengan Rafa.


"Terus! Melotot aja terus sampai kata kamu keluar!" sambar Rafa, mendapati mata lebar Vino padanya.


Vino menautkan kedua alis, bibirnya monyong dan mulai bergumam sembari melangkah pergi. Rafa merapatkan gigi, asal ia mengambil barang terdekat dan melemparkan pada punggung lelaki, yang telah dijadikan asisten tim.


"Aduh, sakit loh!" Vino menoleh.


"Panggil Anya, suruh beresin rumah sekalian bikinin teh!"


"Kan dia lagi nyuci."


"Panggilin!"


"Iya, gak usah teriak-teriak, kena stroke baru tau rasa!"


"Kamu nyumpahin aku, Vin?!" Rafa menaikkan kaki kiri, melepas alas kaki. Vino membuntang, kemudian berlari secepat kilat. ""Gak guna!" berang Rafa, melemparkan sandal hitam miliknya.


Lelaki di depan dapur itu mengomel hebat, Alya dan Juju menyimak dengan kepala dimajukan, agar suara mampu tertangkap telinga. Rafa menoleh dan bertambah kesal. "Berdua! Ambilin tuh sandal!" bentak Rafa, mengejutkan keduanya yang langsung menegakkan tubuh.


"Iya ...." Juju dan Alya mengerucutkan bibir, melalui tubuh master mereka.


Bukan untuk mengambilkan alas kaki, melainkan berlari dengan tangan saling bergandengan. Rafa sudah menantikan, akhirnya dibuat membeliak sempurna.


"Ambil sendiri!" seru Alya dan Juju, berlari kencang menapaki anak tangga.


"Juju, Alya!" jengkel Rafa. "Tuhan, lama-lama bisa gila aku tinggal sama mereka!" omelnya, terpaksa berjalan tanpa alas kaki lengkap.


Sandal tadi dilemparkan pada Vino, berada pada posisi tengkurap. Rafa coba membalik dengan kaki, namun sandal justru bergeser tanpa.pernah berbalik, dan siap untuk digunakan.


"Gak usah pakai sandal!" teriak Rafa, melepaskan alas kaki satunya dan membanting kencang. "Gak yang idup, gak yang mati, sama aja! Gak bakalan mati tua aku kalau kayak gini terus! Satu aja gak ada yang berguna!"


Ayunan kaki lebar dipergunakan oleh Rafa menuju luar rumah, tanpa sedikit saja lelaki itu berhenti dari sumpah serapah. Alya dan Juju masih berada di anak tangga, melihat dan mendengar setiap apa yang terjadi. Keduanya tertawa lepas, sebelum akhirnya pergi ke ruang laundry, di mana Vino dan Vanya berada.


Hingga sore hari, keempatnya masih bersama. Piket yang seharusnya dibebankan pada Vanya, hari ini ditanggung ramai-ramai, membersihkan rumah sembari bergurau, dan melanjutkan untuk laporan sudah dinantikan oleh Rafa—lelaki yang entah pergi ke mana bersama Valen pagi tadi.


Tugas baru selesai sekitar pukul 16.18. Keempatnya masih berada di depan layar laptop, meregangkan tubuh masing-masing. Hingga suara mobil terhenti memancing perhatian, mereka yang ada di ruang tamu pun mengintip lewat pintu terbuka lebar.


"Nyokap, Nya!" seru Alya, melihat seorang wanita bercelana jeans panjang turun dari mobil.


Vanya melihat arah sana, dan benar saja bahwa itu ibunya. Wanita masih tergabung dalam komunitas menolak bersama suaminya itu, berjalan ke teras rumah sembari menenteng tas tangan kecil hitam, juga beberapa tas belanjaan. Tampak jelas jika ia tengah menurunkan titah pada sopir, menunjuk-nunjuk seperti biasa dikenal oleh Vanya.


"Bagus banget! Emaknga kerepotan bawa barang, semua pada diem gak ada yang bantuin!" tegur Livia pada keempatnya.


"Bukannya masih entar melem ya, Ma? Ngapain udah kesini duluan, sih? Aku belum tidur, abis kerja."


"Duh, tidur bisa entaran aja! Nih, cobain baju kamu dulu!" Livia menyodorkan tas belanjaan pada putrinya.


"Banyak banget? Kita bukannya mau pergi makan doang, ya?" bingung Vanya, mendapatkan tiga tas belanja besar berwarna putih dengan logo emas.


"Mama gak tau kamu cocok pakai yang mana, ya udah dibeli aja yang keliatan bagus! Udah cepetan sana loh, gak usah banyak nanya! Mama capek ini!"


Vanya berdiri, tanpa melepakan tali-tali tas dari jemari. Livia duduk pada sofa, melepaskan kacamata hitam besar melengkapi penampilan. Vino belum berkedip sampai sekarang, sibuk menelisik sekujur tubuh wanita, yang dikatakan sebagai ibu temannya. Bahkan, Alya dan Juju pun berekspresi tak jauh berbeda, kala wanita berambut ekor kuda itu, mengibas-ngibaskan tangan menyejukkan wajah.


"Gak ada AC di sini? Gerah banget!" tutur Livia, akhirnya tahu bahwa tiga Padang mata menelisik padanya. "He, Alya! Diajak ngomong, diem aja!" pukul Livia, pada pundak Alya—petempuan paling dekat posisi dengannya.


"Ah, eng ... i—iya, Tan?" gagap Alya tersadar, turut memacing kesadaran lainnya, hingga Vino mengecap mulut kosong usai dibiarkan mengering akibat ternganga.


"Rafa ke mana?" bisik Livia.


"Mm, tadi keluar pagi-pagi. Enggak tau ke mana."


"Loh, kok pergi?! Duh, harusnya kan dia di rumah, buat liat Anya cantik badai kayak mamanya. Ini gimana ceritanya, bisa pergi?" gumam Livia. "Gak bisa dibiarin ini!" Livia membuka tas, mengambil ponsel.


"Kamu harus pulang, liat sendiri gimana cantiknya Anya! Kalau perlu, aku seret kamu buat makan malam, biar kebuka tuh mata, tau kalau Anya udah punya calon lebih ganteng!" tutur Livia, menghubungkan panggilan dengan master putrinya.


"Main-main sama Livia, aku babat habis kamu Rafa!"


Juju, Anya dan Vio tak mengerti, mereka saling tatap dan menaikkan pundak bergantiqn, usai tanya lewat mata diberikan oleh satu sama lain.