Me VS Master

Me VS Master
Gosip



"Vin, pesen meja di kafe biasa buat jam delapan." Rafa berucap, menoleh ketiga orang sengaja memunggungi dirinya.


"Ngafe?!" seru ketiganya.


"Ya. Sekalian urus buat liburan dua hari, kita ke villa aja." Rafa menerangkan, saling tatap bergantian ketiga orang telah menahan jeritan. "Urus semua keperluan di sana, habis berapa langsung kabarin aku."


"Ki—kita liburan, Master?! Dua hari, ke villa?! Serius?!" tak percaya tiga orang beriringan membeliak tersebut. Rafa hanya melirik, tanpa jawaban.


"Yes! Hahaha!" Ketiganya bersuara kencang, meluapkan rasa bahagia. Namun, tidak dengan Vanya yang sekedar memberi tatapan pada lainnya, menyertai dengan senyum paksa.


"Tertekan banget idupmu, Van!" celetuk Vino, menarik biji mata Rafa menelisik pada perempuan di balik meja kerja, tak jauh darinya.


Vanya bungkam, tampak jelas kalau ia tengah berpikir keras. Kedua alisnya bahkan sampai turun dan berkerut, menyipitkan kedua mata dan sengaja menaikkan biji kata ke atas. Ya, sekedar melambangkan bagaimana kerasnya ia memaksa otak untuk bekerja.


"Wait!" serunya, berdiri dan keluar dari balik meja.


"Mau ke mana?!" kompak yang lain, begitu tahu jika Vanya membuka pintu ruangan.


Tidak ada jawaban, yang diajukan tanya pun sudah menghilang. Mereka yang tertinggal di ruangan, saling berpikir, tanpa satu pun bisa untuk menjelaskan, perihal tindakan mendadak dilakukan oleh Vanya, hingga mendorong kasar kursi membentur dinding.


"Biasanya kalau kayak gini, pasti ada aneh-aneh. Mana kantong plastik gak dilepas dulu lagi tuh anak." Alya bersuara.


"Apa jangan-jangan ...." Juju menimpali dengan suara menggantung.


"Jangan-jangan?" Vino dan Alya menoleh, Rafa juga memandang tanya. "Tuh anak berak di celana lagi. Maklum, kan abis diserang sama kekuatan api barusan." Juju menambahkan, segera pandangan malas diberikan oleh dua rekannya.


"Emang beneran loh, Vin, Al. Liat sendiri nih ruangan udah kayak dibocorin api neraka barusan. Panas! AC aja gak ada gunanya aku rasa!"


"Tapi, Leo sama Scorpio kalau disatuin emang suka bikin heboh. Nih kalau sampai mereka berdua nikah, udah pasti ganti ranjang tiap hari." Vino berceletuk.


"Hahaha, tapi kalau berantem juga bikin iblis sungkem!" timpal Alya tertawa.


"Hahaha, kalau itu jangan ditanya. Mereka berdua berantem, kita udah kayak tinggal di kutub! Beku semua badan, mau nafas aja gak berani." Juju menyepakati.


"Tapi nih ya, kalau mereka beneran nikah, waaaaaah! Segala balsem, obat urut, nyeri sendi, encok segala macem di semua apotik, bakalan ludes! Maklum, gayanya udah gak bakalan kira-kira. Bisa juga bakalan satu di lantai, satunya lagi di plafon!" ucap Vino, pada dua orang yang bergerombol di mejanya, setelah menyeret kursi kerja masing-masing.


"Gak sekalian aja, satunya di Nigeria, satunya lagi di Antartika!" celoteh Alya.


"Hahaha, kadohan! Emang sepanjang jalan kenangan yang tak pernah kita lalui tuh tongkat?" Juju memukul lengan Alya samar.


Ketiganya terus berbincang-bincang dan tertawa, sibuk membayangkan dengan kegilaan mengerubungi kepala masing-masing. Sedikit saja, mereka tak memedulikan keberadaan Rafa dalam ruangan, mungkin memang telah lupa saking asyiknya bercengkerama.


Sampai suara pukulan keras pada meja, membuat ketiganya tersentak. Juju, Vino dan Alya menyapu dada, membuntang pada sumber suara. Wajah Rafa sudah berubah layaknya serigala, yang siap mencabik-cabik hingga kulit terpisah dari daging. Ketiganya menelan saliva, Alya dan Juju mendorong kursi ke balik meja berbeda, menundukkan kepala kompak dan langsung membuat diri sibuk.


"Emang gak ada gunanya ya kalian bertiga! Kantor bukannya dipakai kerja, malah dipakai gosip terus! Heran, gak di rumah, gak di mana-mana, ada aja yang digosipin!" sembur Rafa.


"Apa-apa yang gak bakalan terjadi, gak usah diomongin! Aku sama Anya, gak akan pernah nikah, mau sampai bumi sama langit kebelah, kita gak akan pernah ada hubungan apa-apa!" timpalnya.


"Sekali lagi aku denger kalian ngomong kayak gitu, siap-siap aja dipecat! Aku pastiin, gak akan ada yang mau nerima kalian lagi! Inget itu!" susul Rafa lagi, sukses besar membuat nyali ketiganya menciut. Jangankan menjawab, mengangkat pandangan pun tak berani dilakukan.