
"Hahaha, gak kena!" ledek Vanya, berlari memutar meja kerja Rafa.
Perasaan kesal semakin berlipat-lipat dalam diri Valen, perempuan itu bahkan mencak-mencak karena ledekan dari Vanya yang juga menjulurkan lidah, sembari bergoyang-goyang ke arahnya.
"Awas kamu, Anya!" berang Valen, mengejar dan mendorong tubuh Rafa tanpa sadar.
Bugh! Lelaki itu terbentur meja dan langsung meringis kesakitan. Aduh!" pekik Rafa, menekan rasa sakit dirasakan.
Alya dan Vino meringis. "Aduh!" gumam keduanya. "Telor ceplok, Vin." Alya menambahkan.
"Orak-arik, Al." Vino menimpali, tanpa mengubah ekspresi meringis sembari kedua telapak menekan miliknya sendiri.
"Tambahin sambel dikit, Vin. Enak dicampur nasi anget itu."
"Kepalamu benjol, Al!"
Alya cekikian, Rafa melirik padanya. Bibir seketika dibungkam oleh kedua orang yang sibuk berbisik tersebut, kala menyadari bahwa suara mungkin saja sampai, pada telinga tajam master mereka.
Rafa membungkuk di dekat meja kerja yang baru saja disapa oleh sesuatu telah dijaga selama ini. Akan tetapi, Valen dan Anya tidak mengetahui hal itu, terus saja keduanya berteriak dan berlari mengitari ruangan kerja.
Bahkan, Vanya melompat ke atas kursi, melompat dari meja ke meja, lalu terjun tepat di dekat pintu langsung dibuka. Langkah tidak lagi diperhatikan, hanya tahu tentang mengolok-olok Valen dan menghindari jari berhias kuku-kuku panjang berlapis kuteks nude.
"Aduh!" suara Vanya terdengar sampai dalam, kedua temannya membuka pintu sempat tertutup perlahan untuk melihat apa terjadi di luar.
"Jalan tuh liat-liat, main tabrak aja!" maki Vanya, menyapu kening. Hidung bergerak-gerak mengendus, sepertinya cukup mengenal siapa pemilik parfum maskulin khas harga meroket tersebut.
Vanya membuka kedua mata, dan benar saja bahwa Robby ada di depannya. "He-he-he, Pak Robby." Tawanya paksa, menurunkan tangan dari kening.
Pria di depannya tersenyum, menyentuh kening Vanya dengan tubuh sedikit membungkuk. "Sakit?" tanyanya.
"Turunin!" sambar seseorang, memukul pergelangan tangan Robby. "Jaga tangan sama sikap, kalau masih mau dihargain sebagai atasan!"
"Ma—Master?" Anya menoleh, gagap melihat Rafa berdiri melototi Robby.
"Apaan, sih? Gak usah berlebihan, orang aku cuma mau liat kening Vanya kok." Robby menegakkan tubuh, berpaling wajah malas dari Rafa.
"Udah jam makan siang. Kamu mau makan bareng? Kebetulan, aku udah pesen meja di restoran deket sini." Pria itu menambahkan, berubah lembut suara kala menatap Vanya.
"Ma—makan siang? Saya?" Vanya menunjuk wajah sendiri, melirik Rafa yang memberinya tatapan menyeramkan. "Restoran bintang lima bukan, Pak? Makanannya enak-enak?"
"Pasti, dong. Kamu bebas pesan apa aja. Itung-itung, traktiran buat kamu yang udah kerja keras buat perusahaan."
"Wah, kalau makan aja sih kurang, Pak. Saya lembur loh tiap hari, malam Minggu juga gak pergi cuma buat kerja. Kalau sekalian ditraktir belanja sepuasnya sih, boleh."
"Wah, keren nih!" Vanya mengusap-usap telapak tangan, menyeringai kuda. "Tapi, saya gak suka makan di restoran bintang lima, Pak. Saya lebih suka makanan kaki lima, enak-enak. Saya juga gak suka belanja. Tapi, tenang aja! Valen suka makanan enak di restoran bintang lima sama belanja. Saya wakil ke Valen ya, Pak? Permisi."
Vanya langsung ngeloyor pergi, tanpa lagi menoleh pada pria yang malah tersenyum mengamati lenggok tubuhnya. "Makin bikin penasaran aja." Robby bergumam.
"Penasaran aja sampai mati. Kamu gak akan pernah bisa dapetin Vanya, atau aku bakal obrak-abrik perusahaan!" Rafa berseru, Robby menoleh dan tiga orang lain mengikutinya keluar tadi seketika menelan saliva hingga mata membeliak.
"Gak semua perempuan itu gila harta. Aku pastiin, Vanya gak akan pernah tertarik sama apa yang kamu pamerin ke dia!" timpal Rafa sinis, menarik tinggi alis kiri dan melewati tubuh Robby begitu saja.
Robby mengepalkan kedua tangan di samping tubuh, Alya melihat lebih dulu dan menarik berulang lengan kaus Vino, untuk memberitahu apa disaksikan oleh kedua matanya.
Vino membentuk lingkaran dengan mulut serta mata, buru-buru mendorong tubuh Alya agar lekas pergi, sebelum menjadi imbas kemarahan Robby yang sudah cukup dikenal seperti apa.
"Eh, ka—" Valen ingin mencegah kepergian tim Rafa, namun tatapan bengis didapat dari Robby dan berhasil membekukan suara.
"GAK ADA ISTIRAHAT! KERJAKAN TUGAS KALIAN, DAN KIRIM LEWAT EMAIL SATU JAM DARI SEKARANG!" titah Robby, terlalu kencang hingga mampu memecahkan telinga setiap orang yang mendengar.
Bisik-bisik mulai terdengar dari setiap karyawan yang telah bersiap untuk santap siang. Mereka menatap ke arah Valen sinis, menghela napas kasar beriringan. Ya, apa lagi jika mereka tak menganggap bahwa perempuan tengah melambaikan tangan berulang di depan tubuh itu penyebabnya.
Valen hanya bisa memejamkan kedua mata, menundukkan kepala dan menyaksikan sepatu pantofel mengilat Robby melenggang. "Vanya ...." Tangan Valen mengepal sampai gemetar. "Awas aja kalian bertiga!"
Robby kembali ke ruangannya, langkah kesal dipergunakan oleh pria yang menendang pintu ruang kerja, menimbulkan suara kencang menyentak perhatian. Seakan, ia tengah berusaha memberitahu semua orang, bahwa amarah sudah mulai menguasai.
"Aku pastiin kamu bakalan nyesel Rafa!" murka Robby, membuang semua yang ada di atas meja kerja berlapis kaca hitam miliknya. "Kita liat aja, gimana kalau sampai Vanya tau semuanya! Aku bakalan bongkar itu secepatnya!" Robby menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.
Terbesit sebuah ingatan tentang apa yang pernah hadir dalam hidupnya. Robby mengubah amarah menjadi senyum kilas. Ya, layaknya orang gila, namun semua ingatan itu menggiring biji mata Robby menatap ke pintu kaca, tadi sempat dibanting olehnya.
"Setidaknya, sekarang aku tau kalau semua bukan cuma kecurigaan. Rafa ... sampai kapan kamu bakal bertahan dalam keadaan gini?" senyum Robby, melangkah ke balik meja kerjanya dan menarik laci melengkapi meja hitam miliknya.
Ada sesuatu yang ingin diraih oleh jemari Robby. Namun, lelaki itu mengurungkan, tatkala mata menemukan sebuah kotak cokelat, di dalam laci sama. Robby duduk pada kursi kebesarannya, membuka kotak dan mengambil isinya. Senyum makin sempurna terpahat, kala benda berwarna pink itu sudah berpindah ke tangan.
"Sesuatu yang indah, memang harus didapatkan dengan cara sedikit gila. Kebahagiaan gak akan pernah datang gitu aja, tanpa pernah ada usaha."
"Sampai detik di mana kebahagiaan itu datang, aku gak akan pernah nyerah Rafa. Vanya juga berhak bahagia, bukan terus ada dalam kebingungan seperti selama ini."
"Kalau bukan kamu, maka aku yang bakal tarik kebahagiaan itu buat Vanya."
Robby menyandarkan punggung, mengangkat tangan dengan benda berbentuk lingkaran cantik, yang terus diamati olehnya sembari mengulas senyum.
"Permainan ini ... aku mulai menyukainya."