Me VS Master

Me VS Master
Berbelanja



Seperti apa direncanakan, selepas kerja memang semua langsung pergi ke mall. Kebutuhan di basecamp sudah menjadi tugas Rafa, memenuhi apa dibutuhkan bersama, termasuk juga keperluan paling terkecil sekalipun.


Pusat perbelanjaan terlengkap menjadi tujuan, dua troli berukuran besar didorong oleh Rafa dan Vino, membiarkan ketiga perempuan dalam tim mereka untuk memilih seluruh kebutuhan. Layaknya bapak yang menggiring anak, Rafa hanya bisa pasrah kala harus mengikuti ketiganya, yang menyerupai anak kecil aktif.


"Tadi bilang mau beli shampo, sekarang makanan terus!" protes Rafa, saat Alya menuangkan semua tengah didekap, ke dalam troli. "Ini lagi! Coklat semua, gak ada yang lain?! Juju juga, kamu tuh udah gendut, makan snack terus!"


"Jangan bawa-bawa berat badan, loh. Aku ini gak gemuk, Master. Cuma seksi kebablasan!"


"Hahaha, saking seksinya, kalau tidur satu ranjang dipakai semua!" ledek Vanya.


"Seksi pendengkuran! Kalau udah ngorok, ngalah-ngalahin orang lagi oenebangan liar!" sambung Alya.


"Hahaha, gergaji mesin dong, Al?" tawa Vanya.


"Bukan lagi ... kombinasi bor listrik! Hahaha!" sahut Alya.


"Master, belain Juju .,.," rengeknya menggoyangkan tubuh, Rafa malah bergidik dan pergi.


"Hahaha, Juju!" tawa keduanya meledek.


"Miris!" tekan Vino tepat di depan wajah Juju, sengaja melewati demi menyusul masternya.


"Ababmu loh, Vin!" Juju menyumpat hidung, Vanya dan Alya tertawa bebas.


Acara belanja dilanjutkan sembari bergurau, dua troli terus dipenuhi menyerupai gunung. Sampai detik di mana Rafa menghentikan, mendorong paksa troli menuju kasir. Ketiganya diminta meninggalkan lebih dulu, agar tak menambahi lagi daftar struk yang sudah pasti hampir menyerupai tol antar kota.


"Maste suka sama Vanya, ya?" lekas lelaki di balik tubuh Rafa itu bertanya. "Aku tau ini gak seharusnya, tapi aku juga gak bisa nahan diri buat tau."


"Kenapa, emang?"


"Gak kenapa-kenapa, sih. Tapi, kita kan sama-sama gak tau hidup Vanya kayak gimana, dia sama calon suaminya, atau keluarganya. Kalau emang master suka, lebih baik langsung aja ngomong sebelum terlambat. Kalau enggak, jangan ngasih Vanya angin yang bisa buat dia sendiri bimbang."


"Maksudnya?"


"Ya, perlakuan master ke Vanya, udah pasti ngebuat dia punya rasa. Itu gak baik, apa lagi dia mau nikah sama orang lain. Sebagai sama-sama cowok, kita juga gak akan terima, kalau perempuan yang kita nikahi justru cinta sama orang lain. Kasihan si Vanya juga, Master."


Rafa menghela napas kasar, mengalihkan perhatian ke depan, setelah sempat menoleh kala Vino mengajaknya berbicara. Diam tanpa balasan, sekedar memikirkan apa dikatakan oleh Vino, memang tidak salah. Rafa menoleh lagi setelah troli didorong mengisi antrian kosong di depannya.


"Emang, aku keliatan kalau suka sama Anya?"


"Lah, gimana ceritanya malah nanya ke aku?" sambar Vino. "Udah jelas banget keliatan kalau master suka sama dia. Cara master ngeliatin dia, nyentuh dia, semua. Itu gak keliatan kalau orang cuma ada hasrat aja, tapi udah main sama perasaan."


"Kalau emang master belum yakin sama apa yang kita semua liat, sarankh ya mending master nyoba cari tau, terus ngomong ke Vanya kalau emang ada rasa. Baik lagi, datengin keluarganya terus minta Vanya ke mereka, dari pada nanti nyesel pas udah kehilangan."


"Aku tau gimana cara master pwrlakuin cewek selama ini, dan itu jauh beda sama apa yang master lakuin ke Vanya."


Vino menggebu dengan saran. Rafa hening tanpa jawaban, menurunkan pandangan ke bawah seraya menarik napas dalam. Penyangkalan terjadi oleh logika, tapi tidak disepakati oleh hati. Rafa menggelengkan kepala cepat, mengembuskan panjang napas. Seolah, ia tengah berusaha untuk membuang segala pemikiran, tentang perempuan yang kini ingin diketahui lebih dalam.


"Ini bukan cinta. Gak mungkin aku cinta sama orang kayak dia. Tapi, kenapa aku gak pernah bisa nahan diri pas sama dia?" Rafa berbincang dalam hati.