
"ALYA, VINO, JUJU, INI KENAPA RUMAH MASIH BERANTAKAN?! BERSIHIN SEKARANG!" Rafa meledakkan suara, menuruni anak tangga demi mencari ketiga anak timnya.
Valen terkejut bukan main, akan suara berat yang mampu membuat telinganya berdenging. Bahkan, perempuan telah dibiarkan menumpang untuk mencuci rambut itu, sampai menaikkan kedua pundak, serta membuka lebar kedua mata.
Rafa terus saja meneriaki nama ketiga orang yang sama-sama menatap keluar dapur. Tangan sedari tadi sibuk mengirim makanan ke mulut pun, berhenti tanpa pergerakan. Mereka juga menangguhkan makanan di dalam rongga mulut, melongo sembari menggerakkan biji mata saling lirik.
"Dipanggilin gak ada yang jawab! Kalian gak punya mulut?!" tegur Rafa, berdiri di tengah pintu dapur, meletakkan tangan kiri pada pinggang.
"Rumah ngapain masih kotor?! Kalian tau kan, aku paling gak suka rumah berantakan!" imbuh Rafa. "Pakaian kalian udah dikasih ke atas, belum?! Buruan, terus suruh itu singa turun buat bersih-bersih!"
Alya, Vino dan Juju tidak langsung menjawab. Sejenak ketiganya tertegun, memperhatikan lelaki berkaus putih itu mengomel. Saliva ditelan serempak, lalu mengunyah bersamaan makanan dan mengirim dalam tenggorokan yang didorong pula dengan air putih.
"Master, kita gak mau ngasih pakaian ke Vanya. Kita bisa nyuci sendiri kok." Juju menjawab, setelah tenggorokan dibasahi air putih. "Lagian, Vanya tuh lemot, bodoh, jadi kita cemas kalau dia gak bisa bedain pakaian putih, sama berwarna. Kan gak lucu kalau dicampur, bisa rusak semua warnanya."
"Iya, lagian mau ngapain sih nyuruh orang bodoh bersih-bersih? Bukannya bersih, malah berantakan semua entar." Vino menambahkan tenang, tangan meraih kentang goreng di hadapannya.
"Nyuruh Vanya buat bersih-bersih sama nyuci baju, bakalan kelar dua taun lagi. Kan dia lemot, Master." Alya turut menimpali.
Ketiganya menggunakan nada santai, mempekerjakan rongga mulut kembali. Rafa dibuat kesal, rahangnya mengeras hebat setelah mendengar untaian kata, dari mereka yang bahkan tak menatap dirinya.
"Ngomong, apaan?!" berang Rafa. "Ulangin, ngomong apaan tadi!" imbuhnya membeliak.
Tidak ada yang menjawab, ketiganya memilih setia dengan makanan. Rafa bertambah kesal, darah dalam nadi sudah terlalu mendidih, menjalar rasa panas hingga ujung kepala. Tarikan napas dalam dibuat olehnya, membuang panjang seraya memejamkan kedua mata.
"Gak guna semua!" erang Rafa, menendang galon di dekat pintu dapur. Ketiganya melirik, tanpa sahutan apa-apa.
"Akh!" susulnya memekik, mengangkat kaki kiri terlindas galon, melompat-lompat dengan satu kaki lain tanpa ada keseimbangan dimiliki.
Juju, Vino dan Alya mengatupkan bibir menahan tawa. Rafa mengetahui hal itu, lalu menegakkan tubuh dan menarik kaus bawah. "Bersihin ini!" bentaknya, berbalik pergi.
Kaki dibuat baik-baik saja, meski sebenarnya jari kembang kempis usai tertimpa galon berisi penuh air. Juju mengintip keluar tanpa beranjak, lalu tertawa disusul oleh keduanya.
"Hahaha, lagian galon gak ada salah, dijadiin sasaran!" seru Alya.
"Ya itu namanya cinta, kesiksa sendiri." Vino menimpali, teringat Juju akan sesuatu.
"Nah! Ini yang mau aku bahas dari tadi!" ujar Juju menaikkan telunjuk kanan, melebarkan mata.
Juju sejenak terdiam, merangkai kata dalam pikiran, sebelum akhirnya ia melipat tangan di atas meja dan memajukan tubuh. "Inget gak pas kita baru pindah kesini?" lirih Juju, mengangguk dua orang turut memajukan tubuh hingga membentuk gerombolan.
"Nah, pas itu kan kita harus bikin laporan kerja buat proyek nih, terus ketiduran di karpet barengan, kan? Master pulang malem-malem, sekitar jam setengah dua belas kalau gak salah." Juju berkisah.
"Aku kan orangnya kagetan, nih. Jadi, pas master buka pintu, ceklek ... aku kebangun, tapi gak beneran bangun, soalnya males kalau diminta ngunci pintu."
"Aku buka mata nih bagian kiri, ngringin. Aku liat master masuk, terus senyum sambil ngelepasin sarung tangan. Kan dia pakai motor hari itu."
"Bentar, ngringin apaan, Ju?" tanya Alya.
"Duh kah, mesti minta dijelasin dulu. Itu loh, buka mata dikit-dikit. Gini!" Juju memperagakan mata kanan tertutup, lalu membuka mata kiri hanya sedikit saja. "Paham, gak? Gak paham yauwes lah, urusanmu dewe!"
"Halah, Ju. Pakai bahasa normal kenapa, sih?!" protes Vino.
"Duh kah, iyo! Bentar, diem dulu aku mau cerita, keburu lupa entar!" sambar Juju.
"Ya udah buruan, ini udah di ubun-ubun penasarannya!" kedua orang di depan Juju itu menyepakati kata tak jauh berbeda.
Juju menggaruk pangkal hidung lebih dulu, menaikkan biji mata, seolah tengah mengingat-ingat kelanjutan dari apa ingin dikisahkan. "Ah, inget!"
"Jadi, master tuh masuk sambil senyum, aku tetep aja ngintip tuh. Takutnya master kesambet kan, ya? Jadi aku bisa lari duluan." Juju bercerita dengan berulang menaikkan alis. "Tau gak abis itu master ngapain? Master nyemperin Vanya, terus ngusap-ngusap pipinya si Vanya sambil senyum-senyum sendiri." Susulnya, terbelalak Vino dan Alya, semakin memajukan tubuh saking penasarannya.
"Terus?!" ucap keduanya antusias.
"Vanya kan tidur di atas meja hari itu, kayak gini!" Juju melipat tangan, menyandarkan sisi wajah kiri di atas tangannya sendiri, mencotohkan posisi Vanya malam itu. "Nah, master usap-usap pipi Vanya, habis itu dia cium keningnya Vanya, dong!" mata Juju terbuka lebar, kala mengenang apa cukup mengejutkan dirinya.
"Seriusan?!" turut membola mata Vino dan Alya.
"Seriusan!" mantap Juju menjawab. "Aku sampai miring-miringin kepala nih, buat liat lebih jelas. Nih mata juga aku buka lebih lebar, soalnya udah penasaran banget. Lah! Selanjutnya malah aku hampir dibikin mati berdiri! Master nyium bibirnya Vanya!" suara dimantapkan oleh Juju serius, makin membesar saja pupil dua orang masih melebarkan telinga bersama.
"Lamaaaaaa banget master ngeliatin si Vanya, Deket banget! Terus master dorong si Vin, ambil bantalnya, tapi dibalik dulu. Gak lama, master mindahin Vanya buat tidur di karpet, habis itu dia pergi ke atas. Aku pikir udah dong, aku duduk sambil mikir, ngapain master kayak gitu ke Vanya."
"Tapi, master balik lagi. Ya udah, aku rebahan lagi, dari pada ketauan. Master nyelimutin si Anya, terus tidur di deketnya sambil miring gitu, adep-adepan. Paham, gak? Bisa bayangin kan posisinya?" kata Juju, mengangguk dua orang sudah ternganga tanpa percaya.
"Matanya master hari itu tuh beda banget, mukanya juga. Kayak orang yang gak pernah marah, kayak orang jatuh cinta atau apa gitu. Dia sath bantal sama Vanya, usap-usap rambutnya juga. Saking deketnya nih, aku yakin bau napasnya Vanya kebauan sama idungnya master. Dan, kalian tau apa yang terjadi abis itu?" wajah Juju bertambah serius, membesarkan pupil dan berhasil menambah keingintahuan Vino dan Alya, jauh lebih besar dari sebelumnya.