
Vanya tetap memaku kaki, merasakan ada yang berbeda. Seolah, ada yang terus menariknya dalam ruang sunyi, di mana semua terisi oleh paras Rafa dengan tatapan kilat diberikan barusan. Vanya bingung, ia celingukan dan bahkan memutar tubuh. Tiap sisi hanya ada senyum simpul dari lelaki yang seolah masih terus menyapu perutnya.
Hingga sesuatu menimpa dada Vanya kasar, beriringan suara keras menampar pendengaran. "Bawain ini ke ruangan pak Robby. Master lagi nungguin!" suara itu menampar kencang, menarik kesadaran Vanya.
"Ah ... eh ... mm, a—apa ini?" gagap Vanya, kesadaran belum sepenuhnya terkumpul.
"Dokumen master! Aku kebelet!" lelaki sudah berlari menjauh itu berteriak dan menoleh.
Vanya menautkan kedua alis, meski kedua matanya terbelalak. Perlahan biji mata turun pada map-map hitam, yang tadi dipaksa oleh Vino untuk dipegang. Vanya menoleh ke sana dan kemari, semakin ia dibuat bingung, akan suasana berubah secepat kilat. Kepala digelengkan sangat cepat, berusaha menyadarkan diri agar tak menjadi gila, dalam situasi belum mampu dipahami.
"Selalu aja gini, tiap kali ada master! Aku harus pergi kontrol kejiwaan ini!" umpatnya, berbalik dan memaksa langkah ke ruangan Robby.
Map didekap oleh Vanya, menyisir lantai putih mengilat tanpa sedikit saja ada kerja sama, antara pikiran juga gerak tubuh. Ini memang bukan kali pertama dirasakan, tertarik ke ruangan sunyi dihuni oleh lelaki dikenalnya kejam. Bahkan, kala mereka tengah lembur bersama, dan Vanya memperhatikan diam-diam.
Vanya mengetuk pintu kaca di depannya, tiga orang di dalam sanggup melihat jelas. Meski, perempuan tengah merapikan rambut serta pakaian itu, tidak mampu menjangkau apa terjadi di dalam. Rafa duduk di depan meja Robby, ia tersenyum melihat kehadiran Vanya.
"Masuk!" kata Robby dari dalam. Vanya mendorong pintu, senyum dipamerkan olehnya.
Rafa meletakkan siku kanan di atas meja, menyangga sisi kepala dan memperhatikan anak buahnya. Alis kiri diangkat oleh lelaki tampan itu, memberikan senyum juga tatapan lain, yang berhasil mengubah irama jantung Vanya layaknya drum musik rock.
"Ma—mas ... mm, ma—maaf ... mm, i—itu ... mau ...." Vanya bingung harus mengatakan apa, kala matanya terus berkhianat memuji pancaran pesona Rafa—lelaki yang justru melebarkan senyum, dan beralih menggigit bibir bawah.
Robby menyaksikan lebih dari sekedar jelas, alisnya saling bertumpuk di tengah, menyipitkan kedua mata. "Kenapa, Vanya?" Sengaja suara dibuat lebih keras, untuk menyadarkan dua orang masih saling pandang.
"Ah ... oh! I—ini dokumen." Vanya mengangkat apa ada di tangan. "Vino kebelet, dokumen di aku ... terus, ini jadinya anu ...."
Rafa malah tertawa tanpa suara, mengetahui Vanya gagu dengan wajah bersemu. Lelaki itu mengubah posisi duduki, bersandar dan menghadap ke arah meja. Vanya merapatkan mata paksa, umpatan demi umpatan disuarakan kencang dalam hati, mengutuk kebodohan sendiri.
"Kalau begitu, saya permisi, Pak. Saya akan mengerahkan anak tim saya, untuk segera menyelesaikan tugas ini." Ketua tim lain yang datang bersama Rafa, undur diri.
"Baik, Pak. Terima kasih."
Ketua tim tiga berpamitan, memukul lirih lengan Rafa. Semua telah diutarakan, bergantian dengan lelaki yang kini mendorong kursi di sampingnya, berisyarat agar Vanya lekas duduk. Lebih dulu perempuan sudah menggeser kaki itu mengangguk, lalu berpindah ke kursi yang telah didekatkan oleh Rafa ke arahnya.
"Kamu gak harus ngelaporin apa-apa?" tegur Robby, mengangkat alis kiri menatap Rafa.
"Enggak. Aku udah ngetik banyak, gak harus dijelasin lagi. Baca aja sendiri." Lelaki itu menjawab santai, mata Vanya membuntang seketika.
"Kalau gak ada yang mau dijelasin, ngapain kesini?"
"Formalitas." Rafa lagi-lagi menjawab santai. Mungkin, lebih tepat jika diartikan sebagai datar, tanpa ekspresi.
Dokumen di tangan Vanya diraih, Rafa meletakkan di atas meja, kemudian berdiri. "Ayo!"
"Ya?!" sahut Vanya kaget.
Rafa tidak lagi memberi kata, memilih tindakan sebagai jalan mempersingkat waktu. Tangan Vanya diraih dan digenggam, membawanya berdiri untuk segera meninggalkan ruangan. Vanya berusaha melepaskan, teringat adanya Robby dan memperhatikan tanpa jeda. Akan tetapi, upaya untuk lolos dijadikan sia-sia oleh Rafa—lelaki yang justru berganti mengisi sela jari.
"Kita pulang lebih awal, sesuai perjanjian." Rafa mengangkat tangan tengah saling bergandengan dengan Vanya. "Aku harap, gak ada yang ganggu untuk dua hari ke depan. Itu kesepakatannya!"
Rafa tersenyum kilas, mengayunkan kaki pergi. Vanya terlihat sangat ketakutan, bibir bergerak-gerak seolah ingin memberi penjelasan, namun suara tercekat tanpa bersedia keluar. Rafa memaksa tubuh Vanya untuk menerobos pintu bersama, tanpa memedulikan bahwa perempuan itu, masih menujukan pandangan pada orang di dalam.
"Kamu mau punya anak dulu, apa nikah dulu?" Rafa berhenti, menoleh dan mengajukan tanya mengejutkan.
"Ha?!"
"Kalau mau punya anak dulu, kita bikin sekarang. Kalau mau nikah dulu, tetep aja aku mau nyicil buat bikin anak dulu."