Me VS Master

Me VS Master
Keributan di Basecamp



Menit-menit bergulir, jarum jam pun berpindah angka. Sekitar satu jam dari kedua orang di dalam kamar itu kembali terlelap, di bawah sudah ada seseorang yang tiba dengan langkah tergesa.


Siapa lagi jika bukan Valen, perempuan yang terus menghubungi Rafa demi meminta maaf atas ketidaksengajaan dilakukan, namun tak kunjung mendapatkan jawaban. Perempuan sama yang semalam tak bisa terpejam, memandangi layar ponsel tanpa ada tanda dari apa dinantikan.


Vino tengah mencuci mobil di depan, melihat Valen berjalan ke teras rumah pun, langsung saja mencegah. Kanebo basah masih ada di tangan lelaki bercelana pendek tersebut, dipergunakan untuk menghadang Valen agar tak sampai mendekati pintu.


"Minggir, aku gak ada urusan sama kamu, Vino!"


"Emang siapa yang mau punya urusan sama situ, sih?" sahut Vino. "Mau ngapain kesini? Main nyelonong aja gak pakai tata krama."


"Minggir!" Valen melotot. "Aku harus ketemu sama Rafa!" timpalnya, mendorong kencang tubuh di depannya.


"Aduh!" pekik Vino terpeleset, atas kaki basah tanpa alas. "Kira-kira dong! Dikira badanku gerobak apa main dorong aja!"


Valen tidak menjawab, dia melenggang memasuki rumah, dengan sengaja menginjak punggung tangan Vino di atas lantai. Teriakan sempurna diciptakan oleh lelaki tengah merasa kesakitan tersebut, tertusuk heels lancip darinya yang langsung menyebarkan pandangan ke setiap sudut rumah.


Alya dan Juju yang sudah sibuk di dapur pun mendengar suara menggelegar Vino, segera berlari ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Namun, mata justrj diisi pemandangan masam tak diharapkan. Juju dan Alya saling tatap, melanjutkan kaki cepat setelah sempat berhenti sesaat.


"Eh, stop!" teriak Alya, menghadap jalan Valen tepat di ujung paling bawah anak tangga. "Main masuk aja! Tau gak kalau beda tim tuh, gak boleh nyamperin ke rumah?! Itu pelanggaran!" ucap perempuan dengan celemek pink menggantung tersebut.


"Minggir, kalau kalian berdua gak mau dapet masalah!" tekan Valen, pada kedua orang gang saling merentangkan tangan di depannya.


"Eh, ketela rambat! Dibilang ngelanggar aturan, ya ngelanggar! Hormatin dong pemilik rumah!" sambar Juju.


"Kamu panggil aku, apa? Ketela rambat? Kanu lupa siapa aku, huh?!"


"Udah denger, masih nanya. Ini di luar jam kantor, suka-suka mau manggil apaan."


"Sadar diri dong! Kamu tuh pendek, bantet, udah kayak buntelan santet! Harusnya ngaca, sebelum ngasih nama orang lain!"


"Wah, hahaha! Ngomong, apa? Aku kayak buntelan santet?" sahut Juju. "He, remote AC! Seenggaknya, nih aset paling keren yang gak kamu punya! Bantet, emang otakmu yang bantet?!" susul Juju, memegang dadanya yang cukup berisi.


"Lagian, layar datar aja bangga. Mau deketin master? Ngipi! Mau diliat pakai sedotan paling kecil ketutup sampah, kamu tuh gak ada pantes-pantesnya sama master! Balik sana, ngotorin mata aja!"


"Dasar kurang ajar!" berang Valen, menjambak rambut Alya dengan kedua tangan. "Ngomong apa kamu barusan?! Aku ngotorin mata?! Mata kamu emang udah kotor dari lahir!"


"Aaaaaaa, sakit! Lepasin! Ketiakmu bau bawang busuk!" ujar Alya, coba menahan rambutnya.


"Iiih, dasar nyebelin!" Valen semakin murka, dia menekan kuat rambut Alya dan menggoyang-goyangkan berulang.


Juju gelagapan, dia menoleh ke sana dan kemari mencari senjata. Hingga akhirnya ia oergj ke dapur, mengambil sesuatu dan kembali lagi memukul kepala Valen.


"JUJU!" teriaknya, membanting tas tangan ke lantai, dan berganti menjambak rambut Juju. "Belum ada yang berani mukul kepalaku sampai sekarang! Berani-beraninya kamu ngelakuin itu!"


"Aaaaaa, aduh ... aduh, ndasku! Toloooong! Toloooong!" teriak Juju, membungkuk dan menahan akar-akar rambutnya.


Alya meleapskan alas kaki, dia memukuli punggung Valen bertubi. Keributan semakin menjadi di antara ketiganya, memancing Vino masuk ke salam.


"Tuhan!" melebar mata Vino, begitu melihat ketiga orang dengan rambut layaknya sarang burung, saling menyerang. "Udah ... udah!" tegasnya, menarik tubuh Alya lebih dulu, menjauhkan dengan menggedong.


Alya menendang-nendang dengan kaki terangkat, menyusahkan Vino yang masih melingkarkan tangan pada perut untuk menjauhkan dari keributan. Sementara Juju dan Valen masih terlibat pertengkaran. Valen duduk di atas perut Juju, menjambak rambut sekuat tenaga.


"Apaan sih, Vin?n Gak usah belain tuh orang gila!"


"Udah, diem sini!"


"Kalian berdua, stop!" teriak Vino setelah membentak Alya.


Vino mendekati tubuh Valen, berniat menarik tubuh ramping itu menjauh dari Juju. Akan tetapi, belum juga ia berhasil menjangkau tubuh dari perempuan berbalut blouse *sa*ge green tersebut, lebih dulu kaki Juju memberikan serangan tanpa sepengetahuan.


"Tuhan, Juju ...." Vino memekik, tubuh membungkuk dengan kedua tangan menekan miliknya. "Masa depanku, Ju." Makin meringis kesakitan, lelaki turut menyumbangkan warna merah pada wajah tersebut.


Alya tidak bisa melihat Juju terus disiksa, ia mengambil kanebo yang tadi dibuang oleh Vino sembarangan. Langsung saja, Alya melebarkan kain telah berubah cokelat itu, tepat pada wajah Valen dari belakang. "Mampus, gak?! Mampus! Cium tuh bau ban!" berang Alya.


Valen meronta hebat, hidung mancungnya tak bisa digunakan bernapas. Tapi, Alya terus saja membekap, menarik hingga Valen terhempas ke lantai. "Alya!" bentak Valen, menarik kanebo dari wajah dan melempar ke lantai.


"Rasain! Siapa suruh bikin onar! Makan tuh bekas oli sekalian!" maki Alya.


"Ini ada apaan, sih?!" Teriakn kencang terdengar, semua oranc menoleh pada sumber suara Valen ingin membalas Alya pun berhenti, tatkala ia melihat Rafa berdiri di ujung paling atas anak tangga. "Kalian pikir ini taman bermain?! Gangguin orang tidur aja!"


"Dia yang salah, Master! Liatin Juju, mukanya udah jelek makin jelek, gara-gara triplek ratapan ini!" Alya menunjuk Valen.


"Bohong! Mereka yang mulai duluan. Juju mukul kepalaku pakai spatula!" balas Valen, berganti menunjuk.


"Itu karena dia masuk rumah gak permisi, Master! Nyelonong aja mau ke kamarnya master. Kan di sana master lagi tidur sama Vanya!" Juju coba melakukan pembelaan, namun justru mengejutkan Valen dan menoleh ke arahnya.


"Kamu ngomong, apa? Rafa tidur sama Vanya?"


"Aduh, Juju! Cangkemu!" Juju memukul mulutnya berulang. "Matio, Ju! Matio!" umpatnya seorang diri.