
Vanya melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda kemarin, di dalam ruangan yang hanya dihuni seorang diri. Vino, Alya dan Juju harus ke lokasi proyek pagi ini, dan tadi Vino sendiri yang menghubungi, sekaligus melarang Vanya menyusul.
Berteman dengan jarum jam yang terus berdetak, Vanya memainkan jemari di atas keyboard laptop. Seperti biasa untuk menghilangkan kejenuhan, serta rasa kantuk kerap melanda, Vanya menikmati biji matahari. Ia pun tidak pernah mengabaikan kantung plastik, yang selalu digantungkan pada daun telinga.
Tok tok tok .... Suara ketukan terdengar dari luar pintu kaca ruangan. Vanya sengaja mengabaikan, hanya melirik tanpa niatan membukakan. Hingga pintu dibuka sendiri oleh orang di luar, mengintip ke dalam dan mengurai senyuman.
"Kamu pakai apa itu?" tegurnya, tetap berdiri memasukkan sebagian kepala, sembari memegangi pintu.
Vanya menoleh pada sumber suara dikenal, lantas membalas senyuman. "Hehehe, pak Robby ngapain ke sini?" balasnya sembari cengengesan. "Ini? Hehehe, tempat sampah. Biar aku gak ribet buat ngebuang nanti."
"Ada-ada aja." Robby masih menjaga senyuman, berjalan memasuki ruangan dan menarik kursi milik Juju, untuk diletakkan tepat di depan meja Vanya. "Kamu masih nginep di rumah orang tua, apa udah pulang ke base camp?"
"Mm, masih di rumah mama. Kenapa, Pak?"
"Nanti aku antar pulang, boleh? Sekalian kita pergi ke mall, buat nyari cincin tunangan. Apa kamu mau pergi pas makan siang, aja?"
"Cincin tunangan?'
"Iya. Aku maunya, kamu yang milih cincin buat tunangan. Aku juga udah buat janji sama orang butik." Robby menjelaskan. "Semua udah sepakat buat tunangan akhir Minggu ini, jari udah gak ada waktu buat nunda-nunda."
Vanya hening, jemari dihentikan dan mulai menurunkan pandangan. Tidak hanya berhenti pada satu tempat, biji mata Vanya berkeliaran di bawah, seolah tengah mencari sesuatu. Padahal, sendirinya tengah kebingungan untuk memberi jawaban, atas apa yang juga disampaikan oleh kedua orang tuanya, usai pertemuan keluarga yang sengaja tak dihadiri.
Ya, kesepakatan itu memang telah ditemukan antara keluarga Robby dan Vanya. Tanggal, waktu, tempat, serta siapa-siapa yang akan diizinkan untuk turut menyaksikan, dan tentang rangkaian acara akan digelar. Semua disepakati tepat setelah empat hari perkenalan keluarga, di acara makan malam hari itu. Vanya sengaja beralasan, menggunakan kesibukan sebagai jurus terampuh.
"Vanya, kamu denger aku ngomong apa?" Robby memiringkan sedikit kepala ke kiri, mengintip paras cantik di depannya.
"Ah, ehm ... i—iya, denger." Vanya terkejut dan gagap. "Kalau misalnya, bapak aja yang milih, gimana? Aku seleranya gak gitu bagus loh pak, kalau buat beli apa-apa. Hehehe, maklum ... aku sukanya belanja di emperan, bukan di mall."
Robby memperhatikan, senyum tipis dipahat oleh lelaki berwajah segar nan tampan itu. "Aku maunya kamu yang pilih. Kita pergi nanti pulang kerja, atau pas makan siang?"
Perempuan dengan rambuf terikat tinggi di belakang itu, menaikkan biji mata. Bibir bawah digigit olehnya, menggambarkan diri yang tengah berpikir keras, untuk sebuah alasan masuk akal. Ah, sayangnya tidak ditemukan. Meski telah berusaha mengobrak-abrik isi kepala, dan mengatur ulang setiap alphabet yang ada.
"Iya, deh. Pulang kerja aja, gimana? Kalau makan siang, nanti kak Fathan kesini buat makan bareng." Vanya pasrah.
"Kenapa kita gak makan bareng aja sekalian? Aku pesen tempat buat kita bertiga."
"Eh, enggak usah! Aku sama kak Fathan mau makan di trotoar biasa, Pak." Vanya segera mencegah, sebelum Robby mengeluarkan ponselnya. "Boleh kan, kalau aku makan berdua sama kak Fathan?" Sedikit ragu terpasang menghiasi wajah.
Robby mengangguk, tangan kanan diletakkan pada ujung kepala Vanya, dan mengusap lembut. Ia berdiri, berpamitan ke ruangan. Robby memang baru saja tiba, dan langsung menemui Vanya setelah dia bertanya pada pegawai lain, apakah sudah menyaksikan batang hidung Vanya, atau belum.
Perempuan pecinta gaya kasual itu mengantarkan sampai depan, menantikan sampai Robby benar-benar lenyap dari pandangan. Ya, seperti biasa dilakukan, dan menjadi sebuah kesopanan diajarkan oleh kedua orang tuanya, tanpa berpindah sebelum siapa yang datang, dipastikan pergi lebih dulu.
Vanya berbalik, hendak kembali ke ruang kerja. Namun, mata dipenuhi oleh dua lelaki bertubuh tinggi, yang melangkah beriringan ke arahnya. Mata Vanya berubah membuntang, menyaksikan jelas lelaki berkaus hitam yang selalu melengkapi penampilan dengan topi.
"Ma—master?" gagap Vanya, tatkala lelaki di kejauhan menatapnya kilat.
Ya, siapa lagi jika bukan Rafa. Lelaki yang sibuk berbincang, dengan membawa lembaran HVS di tangan. Entah apa yang terus dibahas bersama ketua tim lain yang hadir bersamanya, hingga kata pun diangkat dalam hitungan detik saja.
"Cantik." Suara berat khas itu merasuki telinga Vanya melalui bisikan, beriringan dengan sapuan lembut pada perut.
Vanya mematung, tanpa ada napas mampu digembuskan. Rafa memang melewati tubuhnya, menegur singkat dengan memberikan sentuhan pada perut, tanpa sekalipun ia berhenti mengayunkan kaki. Rafa terus saja menyisir kantor, menuju ruangan Robby untuk menyerahkan laporan kerja.