
Hari berganti Minggu, bahkan sampai menembus bulan. Tidak lagi terlihat Rafa menginjakkan kaki di base camp, selepas apa dijadikan pembahasan bersama Robby. Hanya Vino yang menaruh curiga pada masternya, selepas pagi itu mendapati barang-barang di dalam mobil.
Biasanya, Rafa memang selalu mengisi kendaraan dengan barang untuk sehari. Namun, pagi itu Vino menangkap hal berbeda, yakni sepatu dan juga koper kecil di bagasi. Semua baru terlihat ketika Vino harus mengambil sepatu ganti miliknya, sebelum memasuki kantor. Maklum saja, pagi itu Vino bergegas pergi hanya mengenakan sandal rumahan.
Keras kepala berpikir akan apa dan mengapa, Vino belum juga mendapat jawaban pasti bersama rekan timnya. Paling parah adalah Vanya, perempuan satu-satunya yang sengaja diblokir oleh Rafa, tanpa ada sath kata penjelasan diberikan lebih dulu.
Atas hal itulah, Vanya sengaja meminta izin Vino selaku wakil tim, untuk kembali ke rumah. Sekedar mempertanyakan pada keluarganya, tentang ke mana perginya Rafa. Bagaimanapun juga, sang papa dirasa cukup dekat bersama mamanya, dan mungkin saja tahu.
Namun, beberapa hari menginap, bibir Vanya terkunci untuk meluncurkan tanya. Hingga malam ini, perempuan bercelana hotpants itu baru berani membulatkan tekad, untuk menggali informasi tentang apa yang terus menjadi penguasa dalam benaknya.
"Pa, Ma, Anya boleh nanya sesuatu, gak?" tegur perempuan berkaus pink tersebut, pada dua orang yang duduk berdampingan di depan layar TV menyala.
"Kenapa, Sayang? Duduk, sini!" David memukul sofa di antara dirinya juga sang istri.
Vanya duduk di tengah kedua orang tuanya, rambut seketika diusap lembut oleh sang papa, yang sengaja menurunkan lipatan kaki ternyaman. "Ada apa? Papa perhatiin, dari kamu nginep di sini kok beda banget. Ada masalah?" lembut David.
"Papa sama mama deket sama master, ya?"
"Siapa? Rafa?" tanya Livia, anggukan diberikan oleh putinya. "Kenapa emangnya? Rafa bikin masalah?"
"Enggak gitu. Tapi, udah lama ini master gak pernah balik, habis ketemu sama pak Robby di base camp. Anya takut, kalau ada sesuatu."
"Halah, Nya ... Nya. Udah gak usah mikir kejauhan, gak mungkin mereka rebutin kamu, kok! Tenang aja!" Fathan menyela, walau mata tetap tertuju pada acara bola. "Mendingan, sekarang kamu bikin coklat panas sana, haus ini!"
"Haus ya minum air putih, kok malah coklat panas."
"Dimintain tolong kakaknya, malah nyolot!"
"Udah, malah berantem!" sarkas David. "Rafa ada urusan kerja di luar kota, emang butuh waktu lama. Dia bakalan balik kok nanti, kalau semua udah beres."
"Kamu gak lagi kangen, kan? Inget, udah punya Robby!" sambar Livia.
"Hahaha, kangen ... aku cuma takut master kabur, gak bayar gaji."
"Halah, gak usah ngeles! Keliatan kalau kamu kangen, Nya. Kamu cinta sama dia, ya?" tutur Fathan menoleh, menunjuk-nunjuk sang adik dengan remote TV di tangan.
"Aku tuh tau, kamu sering ngomel habis telfon. Kenapa? Nomor kamu diblokir sama dia?" timpal lelaki berkaus hitam tersebut.
"Beneran, kamu cinta sama Rafa?" tanya David mulai berubah serius.
"Jujur aja, gak masalah. Papa gak suka dibohongin."
Perempuan dengan bando telinga biru muda itu menggelengkan kepala, sebagai wakil atas tanya diajukan. Livia menatap sang suami, lalu memahat senyum tercantik.
"Anya ke kamar dulu." Tanpa jawaban lain, Vanya berdiri dan pergi, tanpa menanti jawaban terlebih dahulu.
Semua mengamati gerak lesu ditunjukkan, oleh perempuan sama yang juga ditangkap beberapa perubahan. Tentang selera makan yang selalu berkurang semenjak menginap, dan juga kesendirian yang kerap diselami seorang diri, sembari menatap layar ponsel sengaja dinyalakan.
"Dari awal aku udah gak setuju sama semua ini, Pa, Ma. Kenapa kita gak jujur aja sama Anya buat semuanya? Dia keliatan banyak beban sekarang!"
"Kamu gak setuju, tapi kamu juga gak kasih saran apa-apa. Udah terlanjur, jadi biarin aja dulu. Lagian, adik kamu juga bisa buat belajar dari semua ini nanti." David menatap putranya.
"Belajar, apaan? Belajar buat kena mental?" sarkas Fathan berdiri. "Udahlah, pikir lagi aja soal si Robby. Sampai kapan pun, akh gak setuju!" timpalnya, dan pergi.
Fathan memang sudah berulang kali menolak, kala ia tergabung pembicaraan tepat di hari setelah David menemui Rafa. Keributan yang sempat terjadi di antara kedua orang tuanya, terpaksa memancing Fathan bersuara.
Tegas ia memberi penolakan, namun segala penjelasan justru diberikan oleh ibunya. Hingga pemahaman diterima oleh David juga hari itu, menyetujui acara pertemuan keluarga, di mana Fathan hadir setengah hati.
Kini, kedua orang di sofa panjang cokelat besar itu sama-sama menghela napas, saling menujukan pandang dan mengangkat pundak. "Udahlah, namanya juga anak udah gede." Livia menghela napas panjang.
David tersenyum merengkuh tangan istrinya, memindahkan ke atas pangkuan. Tidak ada hal yang harus disampaikan, semua tak akan pernah mengubah rencana di awal. David bukanlah pria yang mudah goyah, kala ia sudah turun kata dalam persetujuan. Apa pun akan dihadapi, meski konsekuensi terburuk harus terjadi.
Sementara Fathan, lelaki itu menemui adiknya di lantai dua rumah. Tepat pada balkon Vanya berdiri, menyandarkan kedua lengan di atas stainless pembatas, menyandarkan dagu di atasnya. Fathan mengusap ujung kepala adiknya, menggiring dalam dekapan, tanpa memaksa Vanya untuk saling berhadapan.
"Gak ada orang tua yang bakal jerumusin anak-anaknya. Semua yang mereka pilih, udah pasti yang terbaik, meski kadang kita gak beneran setuju." Fathan membuka kata.
"Akh ngerti. Cuma, sath yang gak bisa aku pahamin sampai sekarang, kenapa mama sama papa justru pilih pak Robby?"
"Kenapa? Kamu gak suka sama Robby, dan lebih suka sama Rafa?" tanya lelaki itu spontan. "Kakak harap, kamu bisa jujur sama perasaan kamu sendiri, sebelum semuanya berubah jadi penyesalan."
"Gimanapun juga, yang paling tau tentang apa yang kamu rasain, ya diri kamu sendiri, Anya. Bukan kakak, mama atau papa. Ungkapin aja yang emang mau kamu ungkapin, ke kami atau ke Rafa langsung. Gak usah peduliin soal feedback, karena terpenting adalah kamu yang bisa buat jujur."
"Kejujuran, bakal bikin idup kamu jauh lebih ringan, bawa kebahagiaan. Ya, meski kadang kejujuran gak pernah berakhir sama, kayak apa yang kita harapkan. Tapi, jauh lebih baik kalau jujur, dari pada bohong cuma buat numpuk beban."
"Kamu cuma bertanggung jawab sama kebahagiaanmu, bukan kebahagiaan orang lain."
Fathan menasihati Vanya dengan irama kasih sayang, berulang tangan membelai ujung kepala sang adik, lalu memberikan kecupan.