
"Gak bakalan sembuh kalau cuma dielus-elus aja. Ada juga bakal keluar jin itu jidat!"
"Entar kalau beneran keluar jin, aku yang bakalan repot. Udah, kompres aja lah biar cepet."
"Ya biarin, pokoknya aku gak mau dikompres! Kamu gak tau kalau ini udah malem, udaranya dingin? Kalau aku sampai demam, kamu bakalan lebih repot lagi!" tangkis Rafa.
"Nih, kalau aku sampai sakit, bonus tiga bulan kamu gak akan pernah cair, sama gaji tambahan tim! Makan aja tuh gaji kantor!" timpalnya, lalu duduk pada sofa panjang.
"Y—ya jangan bawa-bawa gaji dong, ah! Mesti ini ...."
"Makanya, usap nih sampai sembuh, gak usah dikompres! Kamu juga harus jagain aku selama tidur nanti, siapa tau idungku tiba-tiba gak bisa dipakai nafas terus aku mati!"
"Lah, gimana ceritanya? Kalau sekarang bisa nafas, nanti apa besok juga masih bisa. Lagian, belum ada sejarahnya orang mati gara-gara kebentur pintu!"
"Siapa tau, aku bakal bikin sejarah baru?!" Rafa menatap perempuan masih berdiri di dekat pintu. "Lagian nih ya, di mana-mana orang jatuh tuh timbul lebamnya nanti. Lah siapa yang tau, kalau sekarang idungku bisa nafas, terus nanti enggak bisa? Mikir dong!"
Vanya menggeser biji mata tinggi ke kiri, berpikir sembari menggaruk tengkuk dengan jemari kiri. "Iya juga, sih. Dulu aja aku jatuh di kamar, lebamnya batu ketauan pas pagi. Entar kalau beneran itu idung gak bisa dipakai nafas lagi, terus gaji sama bonusku gimana?" gumamnya.
Rafa mendengar, ia melirik dan menahan senyum ingin melebar. "Makanya, buruan! Dari pada kamu udah terlanjur kerja, tapi gak dapet apa-apa."
"Iya ... tapi, jangan mati dulu. Entar aja kalau semua udah dibayar lunas sesuai kontrak enam bulan, baru deh boleh mati."
"Kamu doain aku mati, habis kontrak enam bulan?!" sarkas Rafa, justru memancing Vanya untuk cengengesan. "Malah ketawa! Udah sini buruan, keburu gegar otak aku nanti!" susulnya, kemudian berbaring, menggantungkan kaki panjang pada sandaran tangan sofa.
Vanya mendekat, sembari mengomel tanpa suara. Ia bersimpuh di antara sofa dan meja, menaikkan tangan kanan ke atas kening Rafa—lelaki yang sempat terpejam, lalu membuka mata dan melirik sinis ke arah Vanya.
"Kamu pikir aku mayat, harus dielus-elus sambil kamu duduk di lantai?!" protes lelaki bermata tajam tersebut.
"Ini salah, itu salah, maunya apa?!" mengerut wajah Vanya, menurunkan kasar tangan ke atas paha.
"Sini! Duduk di sini, terus elus-elus kepalaku!" Rafa menaikkan sedikit kepala, menoleh ke arah sofa sebagai isyarat.
Vanya mendengus kesal, berdiri dan duduk pada bagian sofa dipilihkan oleh masternya. Terkejut kala Rafa justru menyandarkan kepala pada pangkuan, karena Vanya berpikir untuk sama-sama duduk tadi.
"Udah gak usah protes, usap aja!" ujar Rafa, mengubah posisi miring menghadap perut Vanya.
"I—iya ... ta—tapi, jangan gini."
"Terus?" Rafa memundurkan kepala, menatap wajah bersemu Vanya. "Aku harus hadap meja, gitu?! Oke!" tegasnya.
Rafa berbalik menghadap meja, namun sisi wajah menempel pada kulit paha, justru membuat Vanya risih.
"Jangan dicium pahanya, geli!"
"Siapa yang mau nyium? Ya gini kalau aku hadap meja, paha kamu yang kena. Kalau aku terlentang, dada kamu yang kena. Pilih mana?!" ucap Rafa, mempraktekkan dua gaya berbaring.
Vanya menelan saliva, ekspresinya berubah tegang, bersama seluruh tubuh. "Y—ya udah, hadap sini aja." Perempuan tengah dilanda degup jantung hebat itu, menunjuk perut datarnya.
"Udah dari tadi juga, masih aja ribet!" omel Rafa, menghadap perut Vanya lagi.
"Anak-anak ke mana?"
"Kapan kita punya anak?" asal Rafa menjawab, tanpa membuka mata sudah dipejamkan.
"Vino, Alya sama Juju, maksudnya."
"Nongkrong. Entar lagi juga balik."
Vanya memajukan bibir, mengangguk berulang Ketiganya memang pergi, setelah beberapa menit Vanya meninggalkan rumah tadi. Bukan atas kemauan bersama, namun atas pengusiran dilakukan oleh Rafa—lelaki yang membutuhkan kesunyian, di tengah kekacauan pikiran.
Lagi pula, Rafa terlalu malas mendengar semua sindirian tertuju padanya tanpa jeda, perihal rasa yang dicurigai ada untuk Vanya. Penyangkalan yang dilakukan oleh Rafa berulang, malah dijadikan lebar oleh Juju bersama Vino dan Alya, yang semakin berani mengurai kata tentang penyesalan perasaan.
...****************...
Detik demi detik berkeliaran di depan angka berurutan, suara mobil pun mulai menghiasi halaman. Vino, Alya dan Juju memasuki rumah, sembari berbincang dan tertawa, membahas kejadian kala mereka singgah di cafe live music.
"Loh!" seru Juju melebarkan mata, setelah ia membuka pintu dan mendapati dua orang di sofa.
"Apa sih, Ju?! Berenti tuh aba-aba gitu, loh!" protes Alya, tubuhnya ditabrak oleh Vino.
"Ssssst! Liatin tuh!" Juju menoleh, meletakkan jari di depan bibir, sebelum akhirnya menunjuk dua orang telah terlelap bersama.
Alya dan Vino membuntang, saling tatap dan mengurungkan niat masuk. Kaus Juju pun ditarik, agar perempuan itu mengikuti ke teras. Vino menyilangkan tangan di depan dada, kepalanya mengangguk-angguk, ditemani oleh alis Alya dan Juju yang mengerut menyaksikan polanya.
"Apaan sih, Vin? Udah kayak ayam epilepsi aja!" kata Alya.
"Aku dari tadi udah curiga, kenapa master ngasih duit ke kita buat nongkrong. Padahal, ini bukan akhir pekan. Gak taunya ... emang ada tujuan lain di antara mereka berdua." Vino bergaya layaknya detektif yang meyakini kecurigaan pada tersangka.
"Ini yang namanya cinta gak harus diungkapkan, cukup tingkah laku yang meyakinkan!" turut Juju bertingkah sama.
"Tapi, gimana mereka bisa sama-sama? Master udah punya cewek, Vanya udah punya calon suami. Kan mustahil?"
"Alya ... Alya. Orang yang udah nikah aja bisa dipepet, apa lagi yang cuma punya calon? Master kita nih suka tantangan, kamu lupa?" sahut Vino menggelengkan kepala.
"Maksudnya, master bakalan rebut Vanya dari calon suaminya, gitu?" tanya Alya.
"Duh, Al. Ya iya, masa butuh dijelasin lagi, sih?! Sebelum janur kuning melengkung, apa pun masih bisa ditikung!" ujar Juju, menggerak-gerakkan tangan ke atas, kayaknya orang membaca puisi.
"Kita tunggu aja. Palingan juga master pilih jalan pintas." Vino tersenyum dan mengangguk.
"Apaan?!" penasaran Juju dan Alya.
"Bikin Vanya bunting duluan lah, apaan lagi?!" jawab Vino yakin hingga menaikkan kedua pundak. Serempak lengan dipukul oleh kedua perempuan di dekatnya, terlalu keras hingga rasa panas pun dirasakan nyata oleh lelaki yang mengusap kedua lengannya sekaligus.
"Otakmu!" bentak Alya dan Juju, membeliak dan pergi lebih dulu.