
Setengah tujuh malam, Rafa baru kembali. Setelah panggilan berulang dari Livia berhasil diabaikan. Lelaki itu turun dari motor, membuka kaca helm dan menatap arah rumah dengan kedua pintu terbuka.
Helaan napas diciptakan lebih dulu, sebelum motor sport hitam ditinggalkan, dan berjalan menuju teras sembari melepaskan helm. Vino bermain game pada ponsel di teras, sengaja Rafa nendang kakinya dan berlalu, seolah tak melakukan apa-apa.
Padahal, Vino sudah mengusap-usap kaki dan mengomel. Tapi, Rafa justru berbaring pada sofa panjang, setelah lebih dulu meletakkan helm pada lantai. Jaket dan sarung tangan kulit hitam pun dihempas begitu saja di atas meja, ia menyalakan ponsel untuk melihat notifikasi terus berbunyi.
Akan tetapi, benda pipih itu dilemparkan ke meja, tanpa ada sedikit saja niat membuka pesan menumpuk. Rafa menaikkan kaki kanan pada sandaran tangan sofa, membiarkan kaki kiri di lantai. Mata ditutup olehnya, meletakkan lengan kanan tepat pada kening.
"Aduh, yang seharian kayak orang paling sibuk di dunia!" Terdengar suara, cukup bagi Rafa mengenal siapa yang juga membunyikan alas kaki. "Telfon gak diangkat, chat gak dibalas! Sombong banget!"
Rafa menoleh tanpa menurunkan lengan dari kening, memperhatikan heels nude sekitar lima sentimeter mendekat. "Mama ngapain masih di sini?" tanyanya, duduk melebarkan kedua kaki. Wajahnya terpasang malas, posisi pun dibuat tanpa ketegapan sama sekali.
"Kucel banget mukamu, Fa?" Livia duduk, meletakkan secangkir teh sembari memperhatikan paras lelah di dekatnya. "Banyak beban banget idupmu."
"Ma ... mama serius mau nikahin Anya sama Robby? Umur mereka beda jauh loh, Ma. Lagian, belum tentu Anya bakalan bahagia. Kenapa gak biarin Anya milih suami sendiri, sih? Masih jaman jodoh-jodohan?"
Livia melirik, tangan meraih cangkir serta alas, menyeruput teh hijau baru saja dibuat seorang diri. "Mau? Enak, loh." Tangan menyodorkan cangkir, padanya yang melempar napas kasar.
"Udahlah." Rafa menyandarkan siku, menyangga kepala dan menutup lagi kedua mata.
Livia mengangkat kedua pundak, meneguk lagi teh. Sebelum akhirnya suara keributan terdengar, mata tertarik untuk mengetahui. "Wah, gini dong cantik!" Livia menyeringai, Rafa terpancing membuka penglihatan.
Mata seketika melebar, tatkala terisi oleh pemandangan yang tak pernah dilihat sebelumnya. Tubuh tadi miring ke kiri dengan kepala disandarkan pada telapak tangan, berubah tegak perlahan.
Livia melihat seperti apa ekspresi ditunjukkan oleh Rafa, lengan pun disenggol sengaja olehnya. "Cantik, kan?" ucapnya, memainkan kedua alis. "Inget, gak bakalan jatuh cinta sampai tujug turunan." Livia tersenyum, mengingatkan suara tegas pernah dilayangkan Rafa dulu.
Lelaki itu menoleh, padanya yang mulai berdiri dan mendekati sang anak. Biji mata Rafa gagap tanpa tahu tempat pemberhentian sempurna, hingga suara-suara memaksa masuk dalam telinga. Siapa lagi jika bukan Juju dan Alya, yang seolah sengaja menyindir master mereka.
"Nyesel tanpa bisa nyusul, ujungnya nyesek gaaaaaais!" tutur Juju, sengaja dibuat lebih kencang.
"Hahaha, gengsi jangan ketinggian, Al. Kalau mau liat, ya liat aja. Mau ngapain sih bingung kayak gitu?"
"Hahaha, ada merah, Ju. Tapi bukan semangka!"
Asyik keduanya saling timpal, Livia tersenyum semakin lebar. Namun, semua harus terhenti, kala Rafa berdiri menyertai tatapan tajam, pada dua orang yang langsung meringsut di balik tubuh Vanya.
"Aku gak peduli kamu keluar sama siapa. Inget jam malam, karena ini bukan akhir pekan!" tegas Rafa pada Vanya, berjalan menuju anak tangga.
"Mandi, Fa. Gerah banget kayaknya." Livia melirik kepergian lelaki yang melewati tubuhnya. "Ati-ati, takut kebakaran kalau dipelihara terus-terusan!"
Rafa tidak berhenti, atau sekedar menoleh. Terus saja lelaki berkaus hitam itu menyisir anak tangga, menuju ke kamar pribadinya. Juju dan Alya menoleh, keduanya saling mencolek dan berlari menuju anak tangga paling bawah, berpengang tangan pada kayu pegangan.
"Wah, abis ini Vanya bakalan nikah, nih! Kita kehilangan Vanya, dong!" ucap Juju sengaja, meninggikan suara.
"Kalau nikahnya sama cowok ganteng yang duitnya gak habis-habis sih, gak usah lagi mikir kerja! Idup udah kayak ratu, bukan lagi babu!"
Rafa berhenti, Juju dan Alya gelagapan dan saling berisyarat untuk segera pergi. Keduanya pun berlari lagi, memegangi lengan Vanya serta ibunya. Rafa menarik sangat dalam napas, tanpa ada suara disumbangkan. Ingin sekali memaki atau melempar anak timnya dengan apa pun, tapi semua harus dihentikan atas kesopanan terhadap Livia.
Vanya cukup memberi keheningan, meski pada akhirnya juga terkejut setelah mendengar suara pintu terbanting. "Tuhan ... ini rumah masih bisa berdiri, bagus banget." Vanya menyapu dada. "Kalian berdua, sih! Habis ini dimakan, baru tau rasa! Udah master kayak singa kelaparan, masih aja dikerjain!"
"Hahaha, abaikan! Udah sama-sama kebal!" Juju dan Anya mengibaskan tangan.
"Udah, ayo! Papa udah nungguin di sana." Livia mengingatkan waktu pada putrinya. Anggukan diterima, mengayunkan kaki beriringan untuk segera mendatangi restoran telah dipesan.
Sedangkan Rafa, lelaki iyh mondar-mandir di dalam kamar. Sedikit saja ketenangan tak dimiliki, memutar berulang kali cincin hitam pada telunjuk kiri. "Cewek bodoh! Harusnya tadi aku benturin kepalanya ke dinding, biar bisa mikir dikit! Mau aja dijodohin!" umpat Rafa.
"Kaya, ganteng?! Mau ngapain kaya sama ganteng, kalau gak bisa ngasih kebahagiaan?! Kaya apa ganteng, juga gak bakalan jamin bisa bikin nyaman! Dasar bodoh!" umpatnya lagi, tanpa berhenti menyeterika lantai dengan sepatu kets putih.