
"Sebulan gak ketemu, dikira udah sembuh, malah makin parah aja." Terdengar suara mendekat, Vanya menatap dan tertawa kecil.
"Hehehe, papa mau dibuatin minum?"
"Emang udah bisa nyalain kompor?" tanya pria sudah mendekat pada tempat duduk putrinya tersebut.
Vanya menggeleng, hidung mengerut sembari menyuguhkan senyum. "Enggak bisa," ucapnya menyertai gelengan. "Tapi, tuh ada mug buat rebus air Aku biasa pakai itu buat bikin kopi." Tangan menunjuk pada sesuatu di atas meja dapur.
David melihat apa ditunjuk oleh putrinya, kemudian tertawa kecil sembari mengusap ujung kepala sang anak. "Teko, Sayang. Mug dari mana kayak gitu?"
"Multifungsi loh, Pa. Aku biasanya bikin kopi langsung dari sana, aku minum sekalian."
"Ampun, Anya. Jorok banget, sih?!"
"Hehehe, males nyuci gelas." Vanya menaikkan kedua pundak, bertingkah layaknya anak kecil malu-malu. "Papa gak mau gendong aku ke depan, gitu? Masa aku jadi penunggu dapur sendirian, sih?"
"Manja!" seru David, tapi juga tersenyum lebar. Pria itu berbalik badan, meluruskan ke bawah tangan di belakang tubuh. Vanya girang, menyentuh pundak sang papa dan langsung naik ke atas punggung.
"Aduh, ringan banget badannya!" ujar David, menaikkan tubuh putrinya agar tak terjatuh. "Cewek tuh jangan kurus-kurus, jelek. Cowok lebih suka kalau cewek itu tubuhnya sedikit isi. Makan yang banyak, jangan pelit sama diri sendiri."
"Aku makannya udah banyak, Pa. Tapi, gak tau berat badannya gak pernah naik, mentok di angka empat."
"Itu gara-gara gak bisa makan nasi!" celetuk seseorang yang berpapasan dengan mereka. "Tiap makan nasi muntah, gaya mau makan nasi pakai rujak!"
Vanya mengerucutkan bibir ke arah Rafa, melengos setelah teringat keinginan tak bisa terpenuhi. David lagi-lagi tersenyum, membawa putrinya ke sofa panjang ruang tamu, diikuti oleh lelaki yang sudah meminta pada Alya untuk membuatkan minum hangat.
Vino menelisik ke arah Vanya yang manja, meski itu bukan kali pertama. Namun, kali ini yang membuat perhatian berubah menjadi pemikiran, adalah siapa yang bersama Vanya, juga mengapa perempuan dikenalnya memiliki sikap manja itu begitu nyaman mencium pipi, tanpa sungkan sama sekali.
"Itu siapa? Pacarnya Vanya?" bisik Vino pada Juju, tanpa melepaskan perhatian dari dua orang sudah duduk.
Juju menoleh, ia menatap pemandangan di depan, di mana Vanya memeluk manja tubuh pria berkacamata, menyandarkan kepala dengan kedua kaki ditekuk pada sofa. "Ngawur ae!" sambar Juju. "Sorry, ya. Kesepakatan tim, gak ada masalah pribadi yang dibahas! Bye!"
Juju pergi, setelah telapak tangan kiri ditempelkan tepat pada wajah Vino. Terang itu memancing kesal dari lelaki yang sempat terdorong, dan kini melempar Juju dengan kerupuk diraihnya. "Mbencekno, Ju! Tangan bau banget, lagi! Tuh tangan apa ulekan, gede-gede banget jarinya!"
Vino mengusap-usap wajahnya berulang, Rafa memperhatikan dari depan, usai suara kencang menguasai pendengaran. "Duduk sendiri kenapa, sih? Papa tuh capek, manja banget!"
"Ngarang aja kalau ngomong!" David dan Rafa berseru dengan suara berat masing-masing.
"Kalau mama denger, dikira beneran!" imbuh David. "Kamu udah telfon mama, belum?"
"Belum. Aku takut mau telfon mama, entar diminta pulang buat dinikahin. Belum lagi kak Fathan, omongannya mesti bikin sebel." Vanya memajukan bibir.
"Kenapa?" tanya pria berkacamata tersebut.
"Ya masa, mama minta akh pulang buat nikah. Katanya udah dijodohin sama cowok mapan, ganteng, kaya. Tapi, aku minta fotonya gak dikasih. Terus, kak Fathan ngancem aku, bilang kalau aku nikah duluan, dia bakal minggat dari rumah. Aku tuh pusing, Pa."
"Nikah itu pilihan hati, bukan pilihan orang tua. Kalau kamu gak mau, ya udah gak usah diterima." Rafa berucap.
"Hahaha, pilihan hatiku, Kamu. Tapi, pilihan dompetku orang lain! Soalnya master pelit, peritungannya panjang, udah gitu suka marah-marah."
"Emang aku mau jadi pilihan, Kamu? Enggak!"
"Hahaha, orang keliatannya ngarep banget buat jalan sama aku. Dari tadi ngeliatin terus, jatuh cinta sama aku, ya?"
"Kalau ngomong ...." David menggantung ucapan. "Kamu sama Rafa gak boleh ada hubungan. Ngerti?"
"Eh, kenapa?!" Vanya menarik kepala dari dada papanya.
"Ya, karena gak boleh. Papa gak suka kalau kamu jalan sama temen kerja, apa lagi terus-terusan tinggal bareng. Nanti bakalan bosen pas udah nikah, jadi mendingan nyari yang lain. David menerangkan, Rafa menatap padanya bersama Vanya.
"Santai aja, gak usah buru-buru nikah. Cari yang paling pas, yang terbaik, biar nikah itu cukup sekali aja seumur hidup. Gak usah peduli omongan orang soal umur kamu yang belum juga nikah, atau pacaran. Dari pada entar grusa-grusu, nemu yang salah, terus pisah? Jadinya trauma!"
"Kalau nyari suami, jangan patokan di harta."
"Patokan di harta tuh harus loh, Pa. Soalnya, kebanyakan cowok yang dinikahin pas lagi susah, terus ditemenin biar bisa sukses, ujungnya kayak bangkai semuanya! Pas udah sukses, nyari yang lain!"
"Itu cowok miskin! Orang sukses beneran, gak akan pernah ngelakuin itu!" sambar Rafa. "Jiwanya udah miskin, gak akan pernah bisa jadi kaya, mau berapapun uang yang dia punya!"
"Kaget punya uang, makanya ngerasa paling kaya dan bisa ngelakuin apa aja." David menambahkan, pada putrinya yang kebingungan.