Me VS Master

Me VS Master
Asal Nyelongong



Rafa mengulas senyum, membawa Vanya pergi ke ruangan mereka. Tanpa peduli akan banyaknya mata memandang, lelaki itu begitu nyaman mengisi sela jari, dari perempuan yang masih belum mampu mencerna kata-kata diberikan.


Di antara pasang mata menelisik, ada sepasang mata bertakhta bulu mata lentik memandang geram. Siapa lagi jika bukan Valen, ketua tim yang baru akan menyerahkan laporan kerja. Jemari lenting menggenggam kuat map di tangan kanan, hati Valen berubah memanas, wajahnya merah bak udang bakar.


Orang di sampingnya ingin berbisik dan bertanya, perihal hubungan Valen dan Rafa. Akan tetapi, ucapan berubah keterkejutan hebat, tatkala mendapati wajah cantik berbalut riasan nude Valen, berubah merah. "Ya Tuhan!" kagetnya, hingga menyapu dada, dan menjauhkan tubuh bagian atas.


Sedangkan Rafa, lelaki itu mendorong pintu ruangan tim dengan tangan kanan. Vanya ditariknya masuk ke dalam, namun tidak untuk duduk dan menempati kursi masing-masing. Lelaki bertubuh gagah itu memindahkan tangan saling menyatu, ke balik pinggang Vanya. Tangan kanan dipergunakan olehnya menyentuh sisi wajah kiri perempuan yang langsung dicium bibirnya.


Tidak seperti kemarin yang hanya menempelkan dengan kata memberi contoh. Kali ini, Rafa justru menciptakan gerakan lembut, tanpa membiarkan sedikit saja udara dihirup oleh Vanya. Tubuh ramping itu terus didorong pelan, sampai menyentuh meja. Rafa menaikkan perempuan tengah kewalahan itu ke atas meja, dan berubah semakin liar.


Gigitan kecil diberikan oleh Rafa pada bibir bawah Vanya, mata terpejam dibuka olehnya dan menyaksikan lawan di depannya. Rafa berhenti sejenak, menggigit tipis bibir bawahnya, sembari mengabsen pahatan cantik dari wajah Vanya—perempuan tengah terengah hampir kehabisan napas, namun justru terlihat seksi di mata Rafa.


"Kemarin yang aku tunjukin ke kamu, bukan ciuman. Ini baru ciuman, Anya." Rafa berucap pelan, terbuka samar kedua mata indah di depannya.


"Ini contoh lagi?" Vanya menyaksikan binar berbeda ditunjukkan lawan bicaranya.


"Itu contoh. Ini prakteknya." Rafa kembali mencium bibir bervolume Vanya, lebih beringas dari sebelumnya. Bahkan, lelaki itu pun menarik pinggang Vanya jauh lebih dekat pada tubuhnya, tanpa membiarkan udara menerobos dengan kurang ajar, di antara dirinya juga perempuan yang dinaikkan kedua tangan, pada tengkuk.


Entah apa yang membuat Rafa melakukan hal cukup menghebohkan anak timnya yang lain, sendirinya pun tak benar bisa menyatukan kerja tubuh serta pikiran. Semua saling bertentangan, seperti biasa tanpa pernah ada kerja sama, ketika itu berhubungan dengan Vanya—petempuan yang juga tidak bisa mempekerjakan baik tubuh, hati dan pikiran. ada dorongan, ada pula perlawanan, yang mulai disadarkan oleh keadaan di sekitar.


"He-he-he, jatuh." Seorang perempuan berekspresi bodoh, menunjuk ke lantai. "Tapi gak apa-apa. Lanjutin aja, aku ambil bukunya." Dia langsung berjongkok, di balik meja kerja.


"A—aku liat cicak!" timpal lainnya, berbalik dan menatap langit ruangan.


Mereka adalah Alya dan Juju, dua orang sama tadi sempat melongo hebat, hingga Juju harus menjatuhkan buku tebal di tangan. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Vino, namun tidak beralasan dan berbalik badan. Ia masih melongo dengan kepala sedikit dimajukan, tanpa ada kedipan mata atau sekedar saliva diluncurkan dalam tenggorokan.


Alya mengetahui hal itu, bergeser langkah ke kanan, dan memukul punggung Vino sangat kencang, sampai lelaki itu memekik hebat. "Waduh!" teriak Vino. "Bunuh aja sekalian, Al! Sono pakai golok aja kalau mau mukul!" imbuhnya memaki. "Gila ya, tangan cewek udah kayak besi aja lama-lama."


Alya menyingsing bibir atas bawah, merapatkan gigi dan melotot ke arah Vino. Tubuh dipaksa untuk berbalik, agar tidak lagi menyaksikan apa dilakukan oleh dua orang, yang sepertinya jauh lebih terkejut dari pada ketiganya. Ya, Rafa memang tidak tahu bahwa ruangan itu sudah dihuni oleh tiga anak timnya, nyelonong saja dan bertindak brutal.


"Kalian ngapain di sini? Bukannya di proyek!" tegur Rafa, setelah membantu Vanya turun.


"Nah kan master sendiri yang telfon suruh ke kantor, anterin dokumen. Gimana, sih?" jawab Vino—lelaki yang ditahan kepalanya oleh Alya, agar tak menoleh.


"Oh!" singkat Rafa, duduk pada kursinya.


Vanya pun melakukan hal sama, menyalakan lagi laptop, dan memasangkan kantong plastik pada kedua telinga. Berusaha sebaik mungkin bertingkah biasa, menjadikan semua tidak pernah terjadi. Rafa juga sama di meja kerjanya, membuka laptop sebagai pengalihan, karena memang tidak ada yang harus dikerjakan.