MARRIED

MARRIED
Pacar day 1



Saat ini aku berada di rumah besar setelah mandi dan berganti baju di apartemenku. Aku sedang membuat cookies dan salad buah bersama Eyang. Pagi-pagi sekali, tante Anandari pergi menemani suaminya ke suatu acara.


"Semalam apa Arsen berkata sesuatu, Nana?"


"Tidak, Eyang."


Tidak mungkin juga aku menyeritakan masalah dia yang memintaku untuk menjadi pacar pura-puranya kepada Eyang.


"Menurutmu apa Arsen sudah punya kekasih?"


"Aku tidak tahu, Eyang. Aku hanya asistennya saja." ucapku, setahuku sih Arsen tak punya pacar tapi punya teman tidur.


"Bukankah kau hampir 24 jam bersamanya? Apa dia tak pernah berkencan?"


"Sepertinya dia hanya bekerja."


Aku membuka oven saat timer berbunyi, lalu mengambil loyang cookies, ah wanginyaaa.


"Kau tak tertarik pada Arsen, Aruna?" Eyang yang sedari duduk di kursi bar berdiri menghampiriku.


Aku hanya tersenyum kaku, tentu saja aku tertarik padanya, aku juga perempuan biasa yang suka dengan pria tampan. Tapi akan ku pikirkan kembali mengingat sifat Arsen yang membuatku selalu merasa terintimidasi.


"Jika kau berpacaran dengan Arsen, Eyang setuju. Bahkan Eyang sendiri yang akan mempersiapkan pernikahan kalian." Eyang tersenyum padaku.


Sungguh, aku sekarang sangat gugup mendengar ucapan eyang.


"Kau wanita yang baik, Eyang mendapat feel nya saat pertama kali kita bertemu dikantor, kau ingat?"


Hah? kapan, ingatanku bahkan lebih buruk.


"Sudahlah, bereskan sisanya. Eyang ke atas dulu."


Eyang beranjak meninggalkan dapur. Aku membereskan cookies dan menyimpan salad dikulkas.


"Nona, Tuan Arsen sepertinya sudah pulang." kata Bi Darmi.


Aku melirik jam tanganku, ini bahkan masih jam 9.


"Baiklah, saya kedepan dulu. Bi, minta tolong bereskan ya?" ucapku pada Bi Darmi kemudian melepas apronku.


Aku menuju halaman depan, dan benar saja dia sudah berada diteras sedang berbicara dengan Asisten Jo.


"Dimana Eyang?" tanya Arsen padaku.


"Didalam."


Arsen menggangguk singkat lalu melewatiku untuk memasuki rumah.


"Kenapa pulang cepat?" tanyaku pada Asisten Jo.


"Tuan Arsen ada urusan, Nona."


"Urusan apa?"


"Tanyakan padanya sendiri, saya permisi."


Asisten Jo sangat menyebalkan, apa salahnya hanya memberitahuku saja. Aku meninggalkannya lalu masuk dalam rumah.


Aku memutuskan kembali ke dapur saja.


"Nona, saladnya sudah saya simpan dikulkas, cookiesnya juga sudah selesai kami pindahkan di toples." kata perempuan yang ku tebak umurnya 20an. Sepertinya baru kali ini aku melihatnya.


"Wah terima kasih..." ucapku menggantung, aku bingung mau memanggilnya siapa.


"Saya Niana, Nona."


"Kau pelayan baru?"


"Saya dari lulus SMA sudah bekerja disini, jadi sudah sekitar 5 tahun." Dia cantik dan natural. Kulitnya putih dan bersih.


"Wah lama juga, senang bertemu denganmu Niana. Saya Aruna, asistennya Tuan Arsen."


"Nona cantik sekali." pujinya.


"Kau bisa saja."


"Mari kita cicipi cookiesnya." ajakku yang menyerahkan setengah potongan cookies yang ingin ku makan, bentuknya lumayan besar dan isinya terdapat coklat lumer jadi cukup mengenyangkan jika menghabiskan satu cookies.


"Kemarin aku tak melihatmu disini, Niana."


"Ah ya, baru hari ini saya dipindahkan di rumah besar, Nona. Dua tahun terakhir saya ditugaskan di villa Bogor." Niana gadis yang sopan.


"Nona, ini enak sekali. Nona sangat pandai membuat cookies."


"Saya buat bersama Eyang tadi."


Kami masih mengobrol santai di meja bar. Masalah pekerjaan, sampai akhirnya Arsen muncul dan seperti terkejut melihat Niana.


"Arun-" Dia terpaku melihat Niana.


Terjadi saling adu pandang antara Arsen dan Niana selama beberapa detik sebelum suara Eyang terdengar.


"Kau lihat apa? Mana kekasihmu?" ucapnya pada Arsen.


Ternyata dia serius dengan ucapannya.


"Temui Eyang di ruang baca, bersama Aruna." Eyang berlalu.


Aku menatap Arsen yang masih melihat Niana, ada apa dengannya? Ku lirik Niana, diapun sama halnya dengan Arsen.


Aku tunggu sajalah sampai mereka selesai adu tatap. Seru juga lihatnya, jika dilihat mereka seperti saling rindu. Aku seperti melihat ftv saat ini. Apa iya mereka pernah berpacaran? Kenapa pikiranku seliar ini sih. Aku tertawa menertawakan pikiranku.


"Menertawakan apa kamu?" ucap Arsen yang kini menatapku.


Apa? Kamu? Biasanya dia memanggilku kau, kau, kau.


"Adegan ftv." ucapku sambil tersenyum mengejek.


"Ayo ketemu Eyang." Arsen melihat sebentar ke arah Niana yg sedang mengalihkan pandangannya dari Arsen.


"Apa yang kau tertawakan?" Sebelum membuka pintu Arsen menanyakan hal yang sama.


"Tidak ada. Aku hanya ingin tertawa saja."


Dia mengerutkan keningnya tak percaya.


Kami memasuki ruang baca, lebih tepatnya perpustakaan. Wow, seperti ini ya orang kaya.


Kami duduk disofa, bersebelahan menghadap Eyang yang sedang membaca buku. Kami diam, menunggu Eyang berbicara.


"Apa benar kalian berpacaran?" Setelah diam beberapa saat akhirnya Eyang berbicara.


"Iya." jawab Arsen, tentu saja aku lebih baik diam.


"Sejak kapan?"


"Satu minggu yang lalu, secara official."


"Benar, Nana?"


"Iya, Eyang." jawabku. Aku sebenarnya gugup jika harus berbohong.


"Buktikan."


Hah? Maksudnya?


"Eyang ingin bukti apa?"


"Cium dia."


******, aku melirik ke arah Arsen. Wajahnya menunjukkan bahwa dia tenang tenang saja, tentu saja dia kan sudah sering melakukan hal seperti itu.


Baru saja aku ingin berbicara, Arsen sudah menyiumku tepat di bibir. Hanya menempel tidak lebih. Aku terkejut dan aku yakin mataku sudah akan keluar dari tempatnya.


Aku memicingkan mataku ke arahnya


"Beraninya kau!" ucapku tanpa suara.


"Eyang setuju, Eyang akan menemui orang tua Nana dalam minggu ini."


"Untuk apa, Eyang?" kali ini aku yang berbicara, bisa-bisa Mama jantungan didatangi tiba tiba oleh Eyang dan mengatakan bahwa aku sudah punya pacar. Aku yakin Mama akan langsung menikahkanku.


"Untuk melamarmu, umur kalian bahkan seharusnya sudah menggendong anak, kan?"


"Kami mau pacaran dulu, Eyang." kata Arsen.


"Kalian bisa nikah lalu pacaran, bukankah lebih menarik?"


"Tapi--"


"Sudahlah, Eyang hanya meminta ini padamu, Arsen. Kau sama sekali tidak menyanggupi permintaan Eyang? Bahkan Eyang sudah menurutimu untuk menolak perjodohan Andi. Kau tidak ingin membahagiakanku sedikit saja?"


"Bukan begitu, Eyang. Baiklah, kali ini terserah Eyang saja."


"Kami permisi." Arsen menarik tanganku membawaku keluar dari ruang baca.


Setelah sampai ruang tamu, aku melepas tangannya dan menatapnya kesal. Dia sungguh menyebalkan, bagaiamana jika Eyang serius dengan ucapannya?!


"Kau sungguh gila, Tuan Arsen. Perjanjian diawal hanya menjadi pacar pura pura, jika Eyang menemui mama saya, sudah dipastikan saya akan dinikahkan dengan anda!" geramku tertahan, aku masih menjaga sikap disini.


"Lalu?"


"Lalu? Lalu? Jika beneran dinikahkan bagaimana?!"


"Yasudah tinggal menikah, apa yang kau permasalahkan?"


Jika aku tidak akan dipecat sudah ku pastikan ku tabok kepalanya.


"Masalahnya ya saya ingin nikah sama orang yang saya cintai. Gimana, sih." ucapku jengkel.


"Kalau gitu kamu tinggal jatuh cinta dengan saya."


What?


--