MARRIED

MARRIED
Nice To Meet You



Author POV


Seorang pria bersetelan jas Armani terlihat menjadi pusat perhatian di Bandara itu. Selain postur tubuhnya yang waw itu, juga karena karisma yang terpancar. Dengan tinggi kira-kira 189 cm dan tubuh yang atletis, cukup membuat para gadis bahkan wanita setengah baya yang melirik centil ke arahnya.


Dengan perlahan, ia melepas kacamata hitam yang ia gunakan, dan tampaknya orang-orang yang melihatnya tadi semakin panas dingin dibuatnya. Mungkin ada yang berpikir bagaimana caranya berkenalan dengan pria itu. Ada yang berpikir ciptaan siapakah pria itu. Bukan bagaimana cara melahap dan membawa pria itu ke ranjang. Bukan tidak mungkin melihat muka "mupeng" mereka.


Namun lelaki itu tampak cuek. Tampak dingin dan hampa. Dia hanya berjalan lurus ke arah seseorang yang mungkin, supir? Tapi orang tersebut tak kalah tampan dibanding pria ini. Jadi mereka menyimpulkan tidak mungkin seorang ini adalah supir.


"Den, ya ampun makin ganteng aja den." Seru seseorang tadi sambil cengengesan. Pria tersebut malah tertawa dan meninju lengan seseorang tadi.


"Mark! Selera humor lo dari dulu tidak berubah hahaha."


"Iyalah. Terus apa yang berubah dari gue? Selain tambah ganteng pastinya. Bagaimana dengan Amerika?" Sahut Mark yang ternyata adik kandung dari sang pria ini.


"Hahaha najis! Tambah jelek yang ada. Begitu saja begitu. Jadi, bagaimana kabar, mom?"


"Hahaha dia baik-baik saja, bro. Kecuali, dia selalu ribut tentang kapan lo pulang dan nikah lagi." Seru Mark.


Kenzie terdiam. Ya, nama lelaki itu Kenzie. Ternyata topik ini berganti dan tampaknya tidak akan pernah habis sebelum ia menuruti keinginan mamanya itu.


7 tahun memang waktu yang lama. Sangat lama, bahkan melupakan seseorang itu. Hanya saja ia tampaknya tidak akan pernah lupa. Tidak mungkin dan tidak akan pernah ia bisa menikah jika hatinya masih dipenuhi orang itu.


***


Rose melangkah dengan penuh percaya diri memasuki kantor David. Dengan blouse hijau tosca transparant dipadu dengan celana span ketat berwarna putih dan heels setinggi 8 cm, Rose sangat memukau. Rose sangat disegani oleh orang-orang kantor, karena selain jabatannya yang merupakan sekretaris direktur, dia juga rangkap sebagai tunangan direktur mereka, David Leonal. David mendongakkan kepalanya saat mendengar pintu terbuka.


"Baby, hari ini susunan acara aku apa aja?" Tanya David seraya berdiri dan berjalan ke arah Rose hendak memeluknya.


David selalu seperti ini. Entah apa yang telah dilakukan Rose sehingga membuat David jatuh begitu dalam padanya. Bibir mereka pun bertemu dan berpagutan singkat.


"Hari ini ada pertemuan dengan perusahaan-" ucapan Rose terpotong saat tiba-tiba telepon David berbunyi.


"David, bagaimana hidup?" Suara di seberang membuat David menegang seketika.


"Gosh! Zizie, bukankah lo?" Tanya David masih tidak percaya. Terdengar suara tawa dari lawan bicaranya.


"Lo agak brengsek! Hampir 7 tahun ya lo ngilang gitu aja tanpa kabar. Brengsek lo!" Ujar David seraya tertawa.


"Gue ga tahu apa terdengar bahwa gue homo saat ini. Tapi jujur, aku benar-benar ingin bertemu denganmu!" Seru lawan bicaranya.


"Miracle's Cafe, satu jam kemudian? Tawar David.


Hening.


"Okay." David menengok ke arah Rose yang menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.


"Sahabatku, dia sebenarnya bromance-ku haha. Dia menghilang 7 tahun karena patah hati haha alasan konyol. Aku mau ketemu dia 1 jam lagi. Kamu ikut ya?" Kata David seraya mengecup dahi Rose.


Rose hanya terdiam. Karena menurutnya itu bukanlah alasan konyol. Patah hati adalah hal tersakit dan perasaan terburuk yanh di alami manusia. Awalnya, dia tidak percaya. Namun saat merasakannya sendiri, dia percaya akan hal itu. Dan 7 tahun, waktu yang lama. Namun sakit itu tak kunjung hilang.


---


David memegang tangan Rose mesra saat memasuki Miracle's Cafe. Restoran tersebut cukup mewah dengan desain yang sederhana dan membuat siapapun yang datang cepat merasa nyaman.


Mata David terlihat mencari-cari dan akhirnya terfokus di satu titik. Rose mengikuti arah pandang David. Mereka berdua pun berjalan ke arah pria yang membelakangi mereka.


Namun semakin mendekat, Rose semakin gelisah. Ia merasa seperti mengenali pemilik punggung tersebut. Ia merasa bahwa sangat mengenal punggung itu.


Mungkin hanya mirip dengan seseorang di masa laluku, pikir Rose.


David menepuk punggung pria itu dan pria itu tersentak dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Rose dan orang itu. Namun orang itu, Kenzie dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi datar. Maka Rose melakukan hal yang sama meskipun tangannya mulai berkeringat dingin. Untung saja David tidak menyadari keganjilan keduanya.


"Baby, apakah kamu baik-baik saja? Kamu pucat." Tanya David saat melihat Rose.


"Sedikit gak enak badan. Bisakah aku pulang sekarang? Sorry engga bisa nemanin. Aku naik taxi aja. Duluan ya, Michel. Duluan ya, baby." Ucap Rose seraya menjinjit untuk mencium pipi David, kemudian pergi begitu saja tanpa memberi David kesempatan untuk berbicara. David pun bertanya-tanya bagaimana Rose tau nama temannya ini. Namun karena melihat pucatnya muka Rose ia tidak memikirkan hal itu. Sedangkan Rose keluar dari cafe tersebut dengan perasaan kacau.


7 tahun. 7 tahun ia sudah belajar melupakan dan mengikhlaskan. Namun semua itu hancur. Usaha 7 tahun itu sia-sia. Karena nyatanya pria itu masih sanggup memperok-porandakan hatinya.