
Pasangan muda itu saling membentak satu sama lain. Bahkan sang perempuan terlihat mencari barang yang bisa ia lemparkan untuk pria dihadapannya. Air mata pun mulai membasahi pipi mulus perempuan tersebut. Pria itu mengusap wajahnya dengan rasa frustasi. Sungguh, ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi perempuan dihadapannya ini. Perempuan ini bahkan tidak bisa mengontrol emosinya bahkan hanya untuk mendengarkan pejelasannya. Sebenarnya dia menyayangi perempuannya dan emosinya pun masih bisa kontrol.
"Kamu emang egois dan engga pernah mikirin perasaan aku." Teriak perempuan ini seraya melempar vas bunga kesayangan mereka ke hadapab pria itu.
Emosi yang sedari di tahan pria itu pun akhirnya muncul ke permukaan. Hampir saja vas itu mengenai dirinya. Ada apa dengan perempuan dengan emosinya?! Perempuan itu terus saja berteriak sambil melempar barang-barang yang bisa ia capai. Hingga akhirnya kalimat terkutuk itu keluar dari mulut sang pria.
"Aku menyesal dengan pernikahan ini!"
Tangis perempuan itu terhenti. Mata cantiknya mengerjap sempurna. Bibir mungilnya terbuka sebagai bentuk kekagetannya. Tangan yang tadinya terangkat sudah terkulai. Dia pun kaget bisa mengucapkan kalimat itu. Dia sangat menyesal, sungguh. Bukan maksudnya untuk berkata seperti itu. Ditambah pernikahan ini bahkan belum genap satu tahun. Emosi menguasainya tadi. Namun ia tahu kalimat itu tak dapat ditarik lagi.
Perempuan itu berlalu dalam hening dan masuk ke kamarnya. Sejak saat itu, tak ada satu pun dari mereka yang berbicara satu sama lain.
Kalimat itu membawa mereka berdua pada perpisahan yang tak pernah mereka sangka.