MARRIED

MARRIED
Flashback



Diantara banyaknya cara mencintai, yang paling menyakitkan adalah ketika dirimu mencintai seseorang dalam diam.


***


Author POV


Betapa kagetnya Rose ketika yang mengangkat telefon adalah adiknya, Sofia. Adiknya itu berbeda 2 tahun dengannya dan sejak umur 12 tahun dia memutuskan pindah bersama ayahnya di Inggris, tempat kelahiran ayahnya.


"Sofia? Kamu Sofia, kan?" Masih hening tanpa ada jawaban. Rose hampir saja menyerah dan menutup teleponnya. Namun tiba-tiba seseorang di seberang bersuara.


"Iya, kak. Aku Sofia." Rose terbelalak kaget dan segera memandang mom yang tampaknya sama kagetnya dengan dirinya. Telepon pun berpindah alih ke tangan mom.


"Sofia? Bagaimana kabarmu, sayang? Kenapa udah lama ga kasih kabar ke mom? Kapan pulang?"


"Aku baik-baik aja, mom. Sekarang aku lagi bareng kak David. Dia lagi sakit kayaknya. Aku akan merawatnya, katakan pada Rose jangan khwatir." Jawab Sofia cepat dan setelah itu sambungan telefon terputus.


Bagi Rose dan Mom, bukan hal biasa jika Sofia seperti itu. Sofia memang tidak dekat dengan mereka dari kecil. Karena dia lebih dekat dengan dad. Dan setelah dad pergi, hubungan mereka memburuk. Dia memberi kabar tidak sampai sekali dalam 1 bulan pada mereka. Sofia sempat kembali ke Indonesia umur 19 tahun dan memutuskan kembali melanjutkan study di Singapura beberapa tahun setelahnya. Hanya saja, mereka tidak tahu satu hal. Hal yang membuat Sofia semakin menjauh dari mereka.


Sofia menatap pria di hadapannya dengan tatapan nanar. Betapa sesungguhnya ia membutuhkan pria ini. Betapa sesungguhnya ia merindukan pria ini. Dan betapa sesungguhnya hatinya hancur karena pria ini pula.


Flasback ON.


"Kak David!!!" Seru seorang gadis dengan berkacamata tebal. Rambut tebalnya di kuncir kuda. Tampilannya termasuk old fashion dibandingkan dengan teman sebayanya. Lelaki yang dipanggil tadi menoleh ke arahnya dan tersenyum.


"Sofia? Kenapa kamu tidak masuk kelas?" Balas David dengan suara lembut.


"Aku benci dengan gadis-gadis itu! Kenapa sih mereka melihat ke arahku dengan tatapan seperti itu, siapa dia?" Kata Sofia dengan sebal. David hanya tertawa.


"Itu karena kamu beda, sayang. Muka oriental campur Inggris mu membuat mereka iri dan berkata dalam hati, oh mommy daddy kenapa kamu tidak bisa membuatku menyukainya?" Sofia tersipu di buatnya. Setelah pencarian kedua orang tuanya, Sofia memilih mengikuti ayahnya ke Inggris dan menetap. Dia bertemu David disana karena 1 sekolahan dan mereka akrab karena sebangsa.


Beberapa lama David terdiam. Ia tampak ingin menyampaikan sesuatu, hanya saja masih ragu.


"Sof."


"Hm?"


"Kalau aku ninggalin kamu, kamu bisa kan tanpa aku?" Tanya David. Sofia dan David sudah bersama selama kurang lebih 6 tahun sejak Sofia umur 12 tahun dan David16 tahun.


"Kak, kenapa kamu mengatakan hal itu? Apakah kamu akan meninggalkan aku seperti yang dilakukan mom dan sister?" Tanya Sofia dengan suara bergetar.


"Tidak, sayang. Tapi, aku harus balik ke Indo untuk mengurus bisnis kakak. Dan aku mau jenguk temanku yang baru aja di vorce." Sofia mulai menangis. Dia tidak bisa ditinggal David.


Setelah beberapa hari Sofia memutus komunikasi dengan David, tiba-tiba saja Sofia muncul dihadapan David.


"Hello, putri kecilku." Sapa David seraya mengelus Sofia.


"Aku ikut dengamu ke Indonesia." Kata Sofia tanpa basa-basi. David mengernyitkan dahi.


"Apakah kamu yakin?"


"Yes."


karena aku membutuhkanmu dan aku tidak tahu bagaimana hidup tanpa dirimu, Tambah Sofia dalam hati.


***


Sofia dan David terbang ke Indonesia bersama. Sofia menunda sementara kuliahnya. Sofia tinggal bersama Rose dan mom. Awalnya canggung. Namun lama kelamaan mereka bisa berbaur seperti dulu lagi.


Tak butuh waktu banyak bagi David untuk menyukai sosok Rose yang dingin namun hangat di waktu yang bersamaan.


"Sofia." Kata David ketika Rose sedang tidak bersama mereka. Betapa sesungguhnya Sofia merindukan moment ini.


"Ya, kak?"


"Tak terasa ya, kita sudah lama berteman. Sejak 10 tahun lalu bukan?" Sofia hanya tersipu.


"Aku pikir aku sedang jatuh cinta sekarang." Kata David setelah jeda beberapa lama. Sofia membeku. Hatinya berdebar kencang. Sungguh, 10 tahun pertemanan yang bakal menjurus ke arah lebih dari itu.


"Apakah kamu tidak ingin tau tentang putri itu?" Tanya David setelah dilihatnya gadis itu hanya diam.


"Pertama-tama, aku ingin berterima kasih kepada kamu. Karena aku mengenalnya karena kamu." Sofia terdiam. Jantungnya serasa di remas. Tampaknya dia tau orang yang dimaksud David.


"Aku mencintai Roselia. Kakak kamu." Sofia mati-matian menahan air matanya.


"Lalu, tangkap dia. Menangkan hatinya." Balas Sofia dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya. Mata David berbinar.


"Aku akan."


Tak lama setelah itu, Sofia secara mendadak pindah ke Singapura dengan alasan melanjutkan kuliahnya. Namun mereka semua tak tau apa yang sebenarnya menyebabkan ia pergi.


Flashback OFF.


David terbangun dari tidurnya.


"Sofia? Putri kecilku? Kamu?" Tanya David ketika melihat wanita di hadapannya.


"Ya, ini aku." David segera memeluk gadis yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Dia sangat merindukan gadis kecilnya ini. Sungguh.


"Kau gadis nakal! Pergi begitu saja meninggalkan aku tanpa kabar. Apakah aku tidak ada artinya bagi kamu?!" Lanjut David. Sofia hanya terpaku dalam pelukan David.


Bukan. Bukan seperti ini yang dia harapkan. Jika sikap David seperti ini kapan dia siap untuk merelakan David.


"Kak, jangan seperti ini. Aku takut kak Rose marah sama aku kalo liat kita gini."  Kata Sofia lemah.


"Apa yang kamu bicarakan? No! Dia engga akan marah. Dia akan mengerti. Aku mengenalmu sebelum aku mengenalnya! Jangan bertindak seolah kita ini tak ada hubungan!" Sofia hanya terdiam.


"Kamu banyak berubah, tuan putri. Terutama fashion kamu."


"Apa yang membuatmu berubah?" Tanya David di saat Sofia tidak merespon.


"Aku menyukai seseorang dulu. Sejak dulu sekali. Orang itu yang membuatku berubah."


"Siapa? Kenapa aku tidak tahu? Ah, aku kecewa padamu. Ternyata kamu menyimpan banyak rahasia dariku." Kata David dengan wajah yang dibuat sedih. Sofia tertawa sumbang.


"Aku menyukainya sejak umurku 12 tahun hingga sekarang. Tapi dia tidak tau dan tidak akan pernah tau. Aku mencintainya dan itu membunuhku ketika dia memilih gadis lain. Mungkin karena aku kurang cantik. Karena aku kuno dan culun." Rahang David tampak mengeras.


"Sayang, jangan berkata seperti itu. Berapa kali aku harus memberitahumu bahwa kamu cantik? aku merindukanmu yang lama. Kamu yang dulu. Penampilan kamu yang dulu juga." Sofia masih diam.


"Princess-"


"Stop!" Sela Sofia saat David ingin bicara.


"Jangan bertingkah seperti kamu kenal aku dengan baik dan terakhir. Aku bukan putrimu atau putri siapa pun." Lanjut Sofia seraya berjalan meninggalkan David sendirian di kamar hotel tersebut.