
Sudah seminggu aku di apartemen dan tidak keluar kemana mana. Masalah makan tentu saja aku memasak sendiri. Almira juga beberapa kali menginap, namun sekarang dia lebih sering dirumahnya untuk mempersiapkan pernikahannya.
Yap, aku menolak untuk menikah dengan Arsen, maka dari itu aku tidak keluar rumah untuk bekerja serta menonaktifkan ponselku.
Alasan mengapa aku begini, kemarin dia mengancamku kembali jika aku tidak mau menikah dengannya maka aku akan dihamili terlebih dahulu dengan begitu mau tidak mau kita menikah. Sialan. Tapi hari berikutnya dia mengatakan hanya bercanda dan menyuruhku untuk menemuinya.
Bel berbunyi, ku periksa siapa yang datang melalui intercom ternyata.. NGAPAIN MAMA SUPER BUSY DATANG?
"Dasar anak bandel!" Mama menjitak kepalaku setelah aku membuka pintu.
"Permisi dulu kali Ma, dateng dateng langsung melakukan kekerasan!" Aku mengusap kepalaku, sakit. Urusan jitak menjitak Mama memang juaranya.
"Kekerasan, matamu. Seminggu ini sudah bertelur kamu?" Mama memang sedikit agak keras omongannya, Kakekku juga begitu karena lama tinggal di Surabaya.
"Minta cucu nih, Ma?" ledekku.
"Memang kamu mau dijodohin?"
"Gausah pake nikah kan bisa, Ma."
BUGH. Bantal sofa mendarat dikepalaku.
"Jangan main main kamu sama ucapanmu, amit amit, ya!" Aku tertawa melihat Mama.
"Ibu Tati, kamu kenal dimana?" tanya Mama mode serius.
Ibu Tati itu nama asli Eyang.
"Hah? Mama udah ketemu sama Eyang?" ucapku kaget, ternyata keluarga Wijaya memang tak pernah main main dengan ucapannya.
"Udah."
"Kapan Ma, dimana? Kok Mama ngga bilang?"
"Gimana mau bilang, orang ponsel kamu dimatiin."
Ohiya sih. Pantas saja.
Aku terkekeh. "Terus gimana?"
"Gimana apanya? Tanya sendiri ke pacar kamu."
"Lah kenapa nanya Arsen, emang dia ikut ketemu Mama?"
"Ikut tuh, orang sekeluarga ketemu Mama. Mama kayak diintrogasi tau."
Astaga apa yang mereka bicarakan. Dengan tergesa aku mengambil ponselku dikamar dan mengaktifkannya.
Banyak sekali pesan masuk, Asisten Jo, Almira, Mama, Tante Anandari, anak kantor, dan lain sebagainya. Namun hanya yang menyita perhatianku yaitu Arsen. Dia hanya mengirimku satu pesan selama seminggu. Aku jadi berpikir bahwa itu hal yang penting sampai dia menghubungiku.
Aruna?
Pesan itu dikirim pada tiga hari lalu pukul 01.35 pagi? Tanpa pikir panjang aku segera menghubunginya.
Dering keempat belum juga diangkat, aku sebenarnya sudah khawatir jika dia marah padaku karena seminggu ini aku tak menampakan batang hidungku ditambah aku juga tak meminta izin padanya.
"Hallo?"
Efek seminggu tak mendengar suaranya yang biasanya menyuruhku ini itu, kenapa aku jadi degdegan.
"Ehm, hallo."
"Ada apa?"
"Bisa bertemu sebentar?" Aku harus menanyakan keputusan final dari pertemuan itu.
"Oke. Diapartemen jam 8 malam."
Panggilanku dimatikan, What? Sudahlah, aku yakin dia tidak akan berbuat jahat padaku.
Tandanya satu jam lagi aku harus berangkat.
"Mama, aku mau ketemu Arsen. Mama nginep atau pulang?" tanyaku.
"Mama nginep, Mama ada meeting dideket sini. Ini mau berangkat."
"Ya sudah, hati hati."
"Kau sudah makan?"
"Sudah."
"Baguslah, Mama berangkat."
--
Aku sudah berada diruang tamu apartemen Arsen. Dia mengirimiku pesan bahwa dia akan sedikit terlambat jadi aku disuruh masuk terlebih dahulu, lagian aku masih pegang accses card apartemennya.
20.35
Dia belum datang. Aku merebahkan diriku disofa yang pernah ku tiduri beberapa hari yang lalu.
Jika dipikir-pikir kenapa hidupku jadi begini sih?
Pertama, aku jadi asisten pribadi alias babu nya Arsen gara gara tidak sengaja lihat hal senonoh yang dia lakukan bersama sahabatku.
Kedua, aku harus menjadi pacar pura puranya gara gara jebakan film horor. Kenapa aku merasa aku sangat ****?
Dan alasan mengapa aku menyetujuinya karena aku tak ada pilihan lain. Jujur saja aku masih butuh pekerjaan. Arsen mengancamku akan diblacklist dari perusahaan manapun jika tidak menurutinya, sialan.
Sedangkan aku sudah bertekad jika sudah lulus kuliah aku tidak akan meminta uang pada Mama. Mama adalah single parent sejak aku masih SMA. Seandainya diblacklist dan tidak ada pemasukan ****** alias aku masih butuh uang untuk membayar sewa apartemen dan aku masih ingin makan nasi.
Suara pintu terbuka, muncullah sosok Arsen (yang ku rindukan)
"Sorry, masih ada meeting tadi."
Aku menatap wajahnya, dia terlihat sangat kelelahan, penampilannya berantakan tidak seperti biasanya. Lengan kemejanya sudah digulung hingga siku dan sudah tidak memakai jas lagi entah kemana perginya jas itu.
Penampilannya yang berantakan itu sungguh membuatnya semakin tampan, ingat, aku perempuan normal.
"Ya tidak apa-apa."
Dia duduk didepanku dan menyandarkan tubuhnya pada sofa. Aku baru melihatnya seperti ini, apa dia benar benar kelelahan?
Aku diamkan saja, sepertinya dia memang butuh istirahat sebentar. Pikiran liarku mulai bekerja, apa iya kegiatannya menjadi berantakan setelah tidak ada aku? Hahaha mana mungkin.
"Apa saya boleh mandi terlebih dahulu?"
Pipiku memanas, malu. Menurutku pria yang meminta izin dahulu jika ingin melakukan sesuatu itu terkesan manis. TAPI kenapa dia meminta izin padaku? Bukankah sebelumnya dia seenaknya sendiri.
"Kenapa minta izin, biasanya kau melakukan apapun yang kau inginkan tanpa minta izin terlebih dahulu."
"Kali ini berbeda, bukankah kita sedang pacaran?"
"Ehm, pura pura."
Dia terkekeh lalu beranjak menuju kamarnya.
Satu hal yang baru aku sadari, aku suka cara dia tersenyum.
--
Arsen berada didepanku, memakai kaos hitam dan celana cargo pendek warna nude. Rambutnya masih basah, wangi sabunnya menyeruak di indera penciumanku.
Stop, aku tidak ingin mendeskripsikannya lagi.
"Ada apa?"
Aku menghirup udara yang berada disekitarku lalu menghembuskannya. Tiba tiba aku menjadi grogi.
"Kenapa eyang jadi bertemu dengan Mama saya? Bukankah saya sudah menolak?"
"Memangnya kau mengatakan kau menolak?"
"Jelas jelas iya, saya mengatakan saya tidak mau menikah dengan anda."
"Oh iya? Saya lupa."
Aku berdecak, kenapa dia jadi bermain main begini sih.
"Jadi bagaimana?"
"Apanya yang bagaimana?"
Menyebalkan sekali.
"Kita, bagaimana?"
"Ya sudah pacaran dulu, bukankah itu maumu?"
"Kan hanya pura pura, kenapa anda jadi seperti ini Tuan Arsen?" kataku kesal.
"Buatlah menjadi tidak pura pura."
"APA? Saya tidak mau!"
Tiba tiba bel berbunyi sebelum Arsen membalas perkataanku. Arsen beranjak dan membuka pintu.
Aku mengecek ponselku, ada pesan dari Mama.
Mama udah pulang. Kalau kemalaman, nginep ditempat Arsen saja 😍
DIH Si Mama, kalau anaknya diapa apain bagaimana.
"Loh Aruna?"
Aku mengangkat kepalaku, melihat siapa yang menyapaku. Dia Sasa. Sebentar, melihat wajahnya aku jadi mengingat perkataannya beberapa hari yang lalu. ****** jika dia tahu bahwa Arsen menjadikanku pacar pura-pura.
"Oh hai Sa?"
"Lo kemana aja, ngga ada kabar?" katanya sambil mendekat ke arahku.
"Iya, gue diliburkan hehe."
Arsen muncul entah darimana. "Duduk, Sa." Sasa duduk ditempat Arsen duduk tadi, sedangkan Arsen justru duduk disampingku.
"Besok dikantor bisa, kenapa harus sekarang?" ucapnya sambil menerima berkas dari Sasa.
"Maaf Tuan, takutnya besok pagi tidak sempat."
Arsen menanda tangani berkas itu setelah membacanya beberapa kali.
"Siapkan meeting besok pagi." Arsen menyerahkan berkas itu pada Sasa.
"Siap, Tuan."
Selanjutnya tidak ada lagi percakapan. Aku melirik Arsen, dia sedang mengecek ponselnya.
"Ada perlu lain?" tanyanya pada Sasa.
"Ah tidak, saya pamit. Aruna, lo mau balik juga?"
Kesempatan bagus, aku rasa pembicaraan ini dilanjut besok saja. Aku sudah merasa pening menghadapi Arsen.
"Iya, gue juga balik."
"Kau pulanglah sendiri, Aruna masih ada urusan dengan saya."
"Tapi, Tuan say-"
"Sampai jumpa besok, Sasa." Arsen memotong kalimatku.
Sasa pergi dengan raut wajah kaget. Aku yakin dia pasti akan menelfonku setelah ini.
"Urusan apalagi sih, Tuan?"
"Bukankah pembicaraan kita belum final?"
"Ya sudah, saya tidak bersedia menikah dengan anda. Itu keputusan saya."
"Baiklah, kalau kau memang minta saya hamili, dengan senang hati."
Siaga 3, Aku sudah menutup tubuhku dengan bantal sofa sebagai tameng pertama. Dia duduk dekat sekali denganku.
Dia semakin memajukan tubuhnya, dan aku memundurkan tubuhku semampu yang ku bisa, aku tidak mau sampai dia nekat.
Bahkan sekarang aku sudah hampir terlentang, siapapun tolong aku!
"Bagaimana, Aruna? Mau dilanjutkan?" Arsen menunjukkan smirk diwajahnya.
I'm give up!! Dia benar benar nekat, dia menghirup udara disekitar leherku.
"Baiklah, saya mau menikah. Jangan dekat dekat!!"
Dia menatapku dari bawah, lalu memundurkan tubuhnya.
"Good choice, gadis pintar."
Dia menepuk kepalaku pelan.
"Kau sangat pemaksa, sekali sangat banget." aku menggeser dudukku menjauhinya.
Dia hanya tertawa.
Aku memicingkan mataku, "Sebenarnya ada apa denganmu Tuan? Kau sangat memaksaku untuk menikah denganmu. Apa kau merencanakan sesuatu?" tanyaku curiga.
"Tentu saja aku merencanakan sesuatu."
"Kau ingin mempermainkanku? Kau ingin memanfaatanku?!" tuduhku.
"Aku sungguh ingin menikah denganmu, apa yang kau katakan?!" ucapnya tak terima atas tuduhanku.
"Bukankah kau tak menyukaiku?"
"Aku suka padamu."
Aku pingsan.
--