MARRIED

MARRIED
My Fiance



Aku mengambil baju dari lemari secara acak. Sungguh, aku sudah sangat terlambat hari ini dan bodohnya masih sempat-sempatnya aku membuat drama tadi pagi dengan mommy.


Blouse transparan berwarna tosca menjadi pilihanku. Aku memadukan blouse tersebut dengan rok pensil hitam beberapa senti di atas lutut. Cantik, batinku melihat bayangan diriku di kaca. Hey, sebagai wanita aku harus percaya diri bukan?


Aku mengemudi mobil dengan kecepatan penuh. Bahkan untuk menata rambut pun tak sempat dan sialnya, jalanan macet. Rupanya nasib baik sedang tidak berpihak padaku.


Sesampainya di kantor, aku segera menuju lift dan menekan tombol naik. Double shit! Liftnya penuh. Mau tidak mau aku berlari manaiki tangga meskipun ruanganku berada di 10. Mau gimana lagi? Bos ku bisa menjadi sangat galak apabila aku melakukan kesalahan.


Sesampainya di depan ruangan, aku segera membukanya tanpa repot-repot mengetuknya.


"Maaf, bos. Saya terlambat." Ucapku dengan nafas terengah-engah.


David Leonal, bos ku. CEO Leonal Group, terlihat sibuk dengan file-file di hadapannya. Ia bahkan tidak mau repot-repot mengangkat wajahnya. Oh, pertanda buruk. Dia pasti marah padaku. Mau bagaimana lagi, bukan mau ku untuk terlambat.


"Bos, maafkan aku." Ucapku sekali lagi setelah nafasku mulai normal. David masih berpura-pura tidak menyadari kehadiranku. Emosiku mulai terpancing.


"Bos."


"..."


"Bos..."


"..."


Aku menghela nafas berusaha menahan emosiku yang benar sudah di ubun-ubun.


Dia tersentak kaget dan akhirnya mendongakkan kepalanya. Aku berani bersumpah, mukanya terlihat sangat lucu. Ekspresi orang ketakutan dan bingung. Aku yakin dia tidak benar marah tadi, dia hanya mencoba merajuk dan sayangnya mood aku tidak baik hari ini. Namun melihat ekspresinya itu, mood ku seketika membaik.


"Maafkan aku, baby. Aku tidak bermaksud marah kepadamu. Aku hanya kesal karena kau terlambat. Padahal aku sudah sangat merindukanmu." Katanya dengan wajah menyesal. David selalu seperti itu. Dia tidak akan pernah marah kepadaku. Kecuali saat aku makan coklat kebanyakan atau saat aku lupa mematikan komporku atau saat aku... sudahlah tidak penting.


Aku berjalan ke arahnya dengan langkah yang sengaja ku buat seksi. Mendekatkan bibirku ke telinganya dan dengan suara yang lagi-lagi sengaja ku buat serak. Aku berbisik.


"Maafkan aku tuan David Leonal. Aku tau itu. Maaf untuk keterlambatanku. Well, aku juga merindukanmu, baby."


Seketika matanya menggelep. Tubuhnya mulai gelisah. David mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mulai ******* bibirku dengan rakus. Aku pun membalas lumatannya.


Sejujurnya, aku merasa jijik pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku mencium bibir David saat yang aku ingat hanya bibirnya? Tidak. Aku tidak boleh teringat lagi padanya. Dihadapanku sudah ada David yang sempurna. Yang menemaniku dengan segala masa laluku dengan segala kekuranganku, dan aku tidak boleh lagi mengingatnya karna David adalah tunanganku.


David Leonal POV.


Lagi-lagi Rose terlambat. Mood ku menjadi buruk saat aku tidak menemukannya di kantor. Tidak tahukah dia bahwa aku merindukannya?! Seminggu kemarin aku ditugaskan pergi ke Singapura dan artinya tidak dapat melihat Rose.


Pintu ku terbuka. Aku tahu itu Rose, namun aku berpura-pura tidak menyadarinya. Dia menyapa dengan nafas terengah. Apakah dia berlari kesini? Hah, tampaknya aku harus menyediakan lift khusus untuknya di kantor ini. Aku tidak suka gadisku kelelahan. Beberapa kali aku mengabaikannya, hingga akhirnya dia berteriak sekuat tenaga. Tentu saja aku kaget. Aku tidak berniat membuatnya marah. Tidak pernah. Aku menyesal bercanda seperti tadi.


"Maafkan aku, baby. Aku tidak bermaksud marah padamu. Aku hanya kesal karna kau terlambat. Padahal aku sudah dangat merindukanmu." Katanya denganĀ  wajah kesal. Ekspresinya berubah, tidak lagi marah. Ia berjalan ke arahku dengan langkah yang oh, so sexy itu dan berbisik di telinga ku.


"Maafkan aku tuan David Leonal. Alu tau itu. Maaf untuk keterlambatanku. Well, aku juga merindukanmu, baby." Katanya dan dia berhasil membangunkan macan tidurku. Aku pun segera ******* bibir mungil merahnya yang menggoda itu dan dia membalas lumatanku.


Aku teramat sangat merindukannya dan bibirnya. Kami berciuman cukup lama. Aku senang sekarang dia mulai bisa membalas ciumanku. Tidak seperti beberapa tahun lalu dia bahkan tidak mau di cium olehku. Namun di satu sisi, hati ku pun merasa sakit. Karena aku tau, bukan aku, bukan bibirku yang dia pikirkan setiap kali kami berciuman.