MARRIED

MARRIED
He's Back



"Aku jatuh cinta padanya ketika kami bersama, lalu jatuh cinta lebih dalam dengannya pada tahun-tahun saat kami berpisah."


***


David menatap sahabatnya itu dalam diam. Diperhatikannya betul-betul wajah sahabatnya yang berubah banyak. Dalam hati, ada secercik perasaan marah dan kecewa terhadap Kenzie. Kenapa Michel memilih kabur dan menyimpan kesakitannya sendir. Padahal Kenzie tau, bahwa David, Kevin, dan Ryan sahabat mereka dari SD selalu siap sedia untuknya. Ada perasaan marah juga mengingat betapa wanita itu, mantan istri Kenzie yang membuat Kenzie hancur. Kenzie memang tidak menceritakan masalahnya hingga dia bercerai. Hanya saja David tidak suka jika sesuatu mengusik sahabatnya.


Betapa kagetnya David 8 tahun lalu saat mendengar Kenzie ingin menikah dengan seorang wanita yang tak dikenalnya. Dia memanggil wanita itu Sese. David sudah mengenal Kenzie sejak SD hingga SMA dan terpaksa berpisah karena orang tua David memaksanya melanjutkan study di Inggris.


Kenzie terdengar sangat bahagia saat itu. Mengumumkan bahwa ia tidak lagi lajang. Tidak lagi bebas dan telah terikat. Disaat David, Kevin, dan Ryan masih berburu wanita dan berlomba menabur benih di rahim para wanita, Kenzie malah memilih terikat di usia yang terbilang sangat muda untuk ukuran lelaki, yaitu 22 tahun, dan kekagetannya bertambah dua kali lipat saat tidak sampai setahun setelahnya, David mendengar kabar bahwa Kenzie bercerai.


David yang baru saja menyelesaikan study-nya segera terbang ke Indonesia dengan amarah yang menggelegak karena kabar yang begitu penting tidak ia dengar dari Kenzie sendiri, melainkan adiknya, Mark. Kenzie memang tertutup sedari dulu.


Namun kemarahan itu surut digantikan dengan kekhawatiran saat melihat kondisi Kenzie. Kacau. Kacau saja tak cukup menggambarkan situasi Kenzie. Kemana sahabatnya yang terkenal hebat dengan pengendalian diri? David mendengus dan berusaha melupakan hal itu.


"Jadi, bagaimana hidup lo, Zizie? Lo terlihat jauh lebih baik sekarang." Tanya David memecah keheningan.


"Seperti yang lo lihat, hanya begitu. Haha ya hidup harus terus, bro. Dan berhenti memanggilku Zizie, brengsek!" Balas Kenzie seraya melemparkan tissue pada David.


"Siapa dia? Dia terlihat sangat spesial untuk lo." Lanjut Kenzie. Senyum David merekah mengetahui siapa "dia" yang dimaksud Kenzie. David selalu seperti ini, hanya mendengar nama Rose saja bisa membuatnya seperti orang gila. Ia tergila-gila pada Rose. Meskipun ia tahu Rose belum mencintainya.


"Tunangan ku. Ya, dia sangat spesial untukku haha." Balas David. Kenzie memegang ditempatnya. Untung saja David tidak melihat hal itu.


"Jadi, bagaimana Amerika? Tidakkah ada seorang diantara berjuta-juta bule Amerika yang menarik perhatianmu?" Kenzie menghela nafas. Kenapa semua orang harus membahas hal itu. Tidakkah mereka tau bahwa menyembuhkan luka hati tidaklah mudah. Dia tidak munafik, dia butuh ****. Dan beberapa kali dia melakukan **** dengan beberapa model di Amerika. Mengingat wajahnya yang tampan, tidak mengherankan banyak wanita yang menyerahkan diri kepadanya. Namun tak satu pun yang dapat menghidupkan kembali hatinya.


"Berhenti membicarakannya."


"Masih belum move on ternyata." Kata David lagi.


"Jadi, ceritakan tentang Rosemu." Tanya Kenzie mengalihkan perhatian David.


"Haha okey, gue akan memberitahu lo. Kurang lebih enam tahun lalu, gue ketemu sama Rose pas dia mau ngelamar kerja dikantor gue sebagai sekretaris-"


"Tunggu! Jadi dia adalah sekretaris lo?"


"Tutup mulutmu dan dengarkan aku dulu!" Kata David kesal karena sahabatnya tidak berubah, selalu saja tidak bisa mendengarkan pembicaraan orang tanpa memotong.


"Okay okay." Kenzie hanya cengengesan.


"Dari pertama gue melihatnya, gue udah tertarik sama dia. Cantik, pintar, menarik deh. Tapi sesuatu tentang dia membuatku penasaran. Dia terlihat dingin dan tak terjangkau. Matanya selalu menyiratkan kesedihan. Dan itu bikin gue jadi penasaran, apasih yang terjadi di hidupnya sampai dia begitu. Akhirnya, setelah kurang lebih 2 tahun gue dekatin dia, dia cerita dia pernah menikah dan bercerai." David menghentikan sebentar ucapannya seraya menarik nafas. Teringat betapa menderita Rosenya dulu karena perceraiannya meskipun sudah cukup lama. Tanpa David sadari, Kenzie pun menegang.


"Gue pacaran sama dia setelah 2 tahun dekat. Meskipun gue tau dia masih belum lupain mantan suaminya. Dan tentu saja belum punya perasaan apa-apa ke gue. But gue udah bilang, kalau gue bakal bantu dia buat lupain sakit hatinya. Dan akhirnya, 6 bulan lalu kami bertunangan." Lanjut David seraya mengangkat tangannya dan memperlihatkan sebuah cincin di jari manisnya.


"Apakah dia mencintaimu?"


"Tidak. Belum." Ucap David tenang.


"Selama Rose berada disisi gue. Selama Rose tetap nerima gue disisinya. It's okay. Karena gue engga tau gimana hidup gue tanpa dia."


***


Roselia Wilona Jalfer POV


Aku melangkah tanpa arah hingga menemukan taxi. Aku pun melambaikan tanganku. Mungkin orang disekitarku melihatku dengan pandangan aneh. Wanita dengan pakaian kerja dengan make up yang sudah berantakan dan dengan wajah yang dipenuhi air mata. Namun aku tidak peduli. Pertahananku benar-benar hancur saat itu. Tidak tahu lagi bagaimana caranya menahan sakit di dadaku.


Aku pun memasuki taxi tersebut. Di dalam taxi, tangisku semakin mengeras hingga sang supir melihat ke arahku.


"Neng, kenapa neng?" Kata supir tersebut seraya menyerahkan tissue padaku. Aku menggeleng dan menerima tissue tersebut.


"Tidak apa-apa, pak. Terima kasih. Tolong antarkan saya ke alamat ini ya." Kataku sambil menyerahkan kertas alamat rumahku. Biasanya aku menginap di apartement David selama hari kerja dan hanya kembali ke rumahku hari sabtu dan minggu. Menemani mommy yang sendirian dirumah. Aku memiliki seorang adik bernama Jeny, hanya saja ia bekerja di luar kota dan jarang pulang.


Aku langsung memasuki rumah begitu taxi berhenti di depan rumahku. Aku bahkan tidak membayar taxi itu karena aku tidak tahan menahan sakit ini. Mommy terkejut saat menemukan aku di luar pintu rumahnya dalam keadaan kacau. Pemandangan yang dulu sering dilihatnya beberapa tahun yang lalu. Mom memelukku khawatir.


"Mom-" baru aku ingin menumpahkan isi hatiku namun tiba-tiba sebuah tangan memegang pundakku.


"Neng, maaf. Tapi tolong bayar dulu." Ternyata sang supir taxi. Mommy pun tak bisa menahan tawanya. Aku yang malu segera pergi ke kamarku dan meninggalkan mom untuk membayar ongkos taxi itu.


Tidak lama kemudian, mom masuk ke kamarku. Aku meringkuk di kasur dan masih menangis dengan derasnya. Mom hanya memelukku tak bertanya apa-apa. Mom selalu seperti itu, dia selalu mengerti aku. Mom tidak pernah memaksakan kehendaknya padaku dan selalu menenangkan aku di saat seperti ini. Betapa beruntungnya aku memiliki ibu seperti mom, yang bisa membesarkanku seorang diri setelah di tinggal daddy ku yang pernah brengsek itu.


"Jadi, apa yang membuat anak kesayangan mom menjadi seperti ini?" Mom bertanya lembut sambil mengelus rambutku ketika aku mulai tenang dan berhenti menangis.


"Mom, apa yang mom rasakan dulu saat dad meninggalkan mom demi wanita ****** itu?" Tanyaku gamblang. Mom segera menoyor kepalaku.


"Jangan bicara kasar, honey!" Beginilah mom. Selalu baik bahkan pada orang yang menyakitinya.


"Perasaan mom pasti kecewa, hancur, ga nyangka dad mau ngelakuin hal itu ke mom. Marah juga ada. Bahkan mom hampir mau melempar dad dengan pisau saat itu haha. Mom sempat merasa seperti hidup mom udah gak ada arti. Mom gak bisa hidup tanpa dad. Karena selama 15 tahun, mom selalu menemukan dad di pagi hari saat mom terbangun dan bersama terus. Tapi mom pikir, mom gak bisa terpuruk gitu aja. Mom masih punya tanggung jawab, yaitu kamu dan Jeny. Kalau mom hancur, gimana kalian?" Lanjut mom menatapku penuh sayang.


"Terus apa yang membuat mom gamau terima dad lagi waktu itu?" Kataku lagi. Mom terdiam cukup lama saat aku bertanya tentang hal itu.


"Ada hal yang bisa di perbaiki dan ada juga hal yang tidak bisa di perbaiki. Dan dalam kasud ini, hubungan mom and dad termasuk yang kedua, we can't be fixed. Sekali dad berselingkuh, tidak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal itu lagi. Dan kepercayaan mom pada dad, tidak semudah itu kembali."


Dad memang pernah kembali dan meminta mom kembali padanya. Dia bilang dia baru sadar bahwa dia mencintai mom dengan segenap jiwanya. Hanya saja mom menolaknya dengan halus. Namun semenjak itu hubungan mereka membaik. Dad sering mengunjungi kami dan mom. Meskipun mereka tidak kembali bersama, namun aku tetap bersyukur setidaknya masih bisa berkomunikasi dengan dad. Lagipula, aku tau dad mencintai mom, aku, dan Jeny. Jadi tidak sulit menerimanya kembali di keluarga ini.


Aku mencerna perkataan mom dan kembali menangis. Kenapa, kenapa rasanya sesakit ini hanya dengan melihat wajahnya. Kenapa selama 7 tahun ini ternyata aku belum bisa melupakannya.


"Mom, apakah salah jika aku masih mencintainya?" Tanyaku sambil menangis. Mom melihatku dengan tatapan sedih. Mom pasti mengerti siapa dia yang aku maksud.


"It's okay, honey. Its's okay." Mom menarikku dalam pelukannya yang menenangkan. Tanpa aku menceritakan pasti mom tau. Mom ikut menangis bersamaku. Hubungan batin kami memang sangat kuat dibanding mom sama Jeny. Tangisku terus bertambah kencang mengiringi hatiku yang serasa diremas sedemikian kuat. Sakit sekali, sakit hingga untuk bernafas saja terasa sulit. Dengan susah payah aku berusaha berbicara di tengah tangis ku yang memilukan.


"Dia kembali, mom. Dia kembali. Dia kembali lagi..."