MARRIED

MARRIED
Film Horor



Aruna POV


Makan malam berjalan dengan lancar pada awalnya, sebelum Eyang meminta Arsen untuk segera menikah. Bahkan Eyang meminta Arsen menikah sebelum Dirga menikahi Almira.


"Eyang kasih waktu kamu satu bulan, bawa pacarmu kesini." Eyang meninggalkan meja makan.


Aku melirik sedikit ke arah Arsen, dia hanya diam tak berbicara apapun. Tapi aku yakin dia pasti sedang marah.


Dia beranjak dari kursi,


"Pulang!" Arsen menatapku sebentar.


"Katanya menginap?"


Dia tak menjawab, tapi sekarang dia malah menatapku lebih tajam. Tanpa bantahan, aku langsung berdiri mengikutinya. Bahkan aku sampai lupa berpamitan.


"Ambil kunci mobil saya!" Arsen berbicara pada Pak Tarjo.


"Baik, Tuan." Pak Tarjo segera mengambilkan kunci didalam rumah


"Saya bawa mobil, Tuan." ucapku, aku tahu aku disuruh menyetiri dia, tapi bagaimana dengan nasib mobilku.


Dia menatapku sebentar, lalu tersenyum mengejek.


"Kamu suruh saya naik mobil bututmu? Melihatnya saja sudah membuat mataku sakit!"


Sialan.


Pak Tarjo menyerahkan kunci mobil padaku, kemudian membukakan pintu gerbang.


Selama perjalanan pun hanya ditemani keheningan. Arsen duduk dibangku penumpang, ku lirik dia sedang memejamkan matanya. Saat sudah dekat dengan apartemen, hujan mengguyur dengan derasnya. Tck, bagaimana caranya aku pulang. Aku tak yakin jika aku boleh meminjam mobil pria gila ini.


Setelah sampai, aku berencana membangunkannya. Namun ternyata dia langsung membuka mata saat merasa mobil berhenti.


"Aku lapar!"


"Saya pesankan makan malam, Tuan."


"Kau tidak lihat diluar hujan?!" bentaknya, kenapa harus marah-marah sih.


"Saya pesankan di restaurant bawah."


"Ck, kau saja yang memasak, bukankah kau harus bersedia kapanpun ku butuhkan?"


Dan disinilah aku, di dapur apartemen mewah Arsen. Aku sedang memasak steak, dia yang meminta. Untung saja aku sedikit tahu resep ini karena pernah membuat dengan Almira.


Arsen sedang dikamarnya, tak lama dia keluar saat aku sudah selesai menaruh steak dipiring.


"Awas saja kalau tidak enak!" Dia duduk dimeja makan.


"Setidaknya bisa dimakan, Tuan." ucapku sambil menaruh piring dihadapannya.


"Suapi aku."


"Tapi Tuan, ini sudah malam, saya kan juga harus pulang." ucapku.


Dia membanting pisau dan garpu bersamaan. Jika ada perlombaan mengagetkan seseorang, aku yakin dia pemenangnya.


"Baiklah." ucapku takut.


Dia benar benar sangat manja dan pemarah. Persis dengan anak kecil manja dari keluarga kaya yang suka ngerjain babysitternya.


Aku sedikit grogi saat menyuapinya, aku tak masalah jika harus menyuapi anak kecil, tapi dia, pria dewasa yang wajahnya cukup membuatku salah tingkah. Dan lagi dia menatapku tanpa henti, matanya seperti ingin memangsaku saja.


"Setelah ini, saya ingin nonton film."


Ya ya ya, baiklah mungkin tugasku akan selesai besok pagi.


"Kenapa diam?!"


ASTAGA NAGA BONAR.


"Baik, Tuan."


"Saya ingin menonton film horor. The Nun, saya belum sempat menonton. Kau pijitin kakiku."


Film horor, aku sangat menghindari film bergenre seperti itu, maklum saja aku selama ini tinggal bersama Almira, dan Almira pun orang yang penakut. Maka dari itu, aku tak pernah menonton film horor.


"Kau tak punya mulut?!"


"Iya baiklah."


Tinggal setengah lagi, maka kegiatan menyuapi Arsen selesai. "Kau habiskan sisanya."


Arsen beranjak dari kursi menuju ruang tengah, untuk menyiapkan kegiatan menonton.


Film belum mulai saja tanganku sudah dingin ketakutan. Aku memakan sisa steak ini, lalu mencuci seluruh peralatan memasak tadi.


"Aruna!"


"Tuan saya mencuci piring dulu." Sengaja ku lama lamakan agar mempersingkat waktu menontonku.


Tak lama muncullah Arsen ke dapur, lalu menarik tanganku.


Aku duduk diatas karpet, sedangkan dia duduk di sofa menikmati acara menontonnya. Demi apapun, aku ingin meminta maaf pada Mama. Aku seperti telah menyianyiakan uang kuliahku untuk menjadi babu.


"Mengapa tanganmu dingin?!" tanyanya saat aku mulai memijat kakinya.


"Saya habis cuci piring, Tuan." kilahku, padahal tanganku memang dingin jika sedang takut. Bukan lebay, aku memang sedikit phobia dengan film horror.


"Tidak, Tuan. Saya disini saja."


"Satu.. dua.. tii.."


Anjay.


Aku duduk disebelahnya, film mulai berputar. Aku sudah gemetar saat menampilkan adegan Suster yang menggantung dan tubuhnya dimakan burung.


"Tu-tuan."


"Hmm"


"Tuan, saya boleh pulang sekarang?"


"Sudah tidak butuh pekerjaan?" ucapnya.


"Tuan, saya tidak sanggup menonton film ini. Apakah boleh saya tidak ikut menonton?" ucapku, aku sangat yakin bahwa wajahku sudah pucat.


Dia melihat ke arahku dan terlihat sedikit terkejut. Lalu berdeham sebentar.


"Baiklah, tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Kau jadi pacar pura-puraku didepan eyang serta keluarga yang lain."


APA DIA GILA?


"Lebih baik saya lanjut nonton saja." tolakku, aku seperti dijebak saja olehnya.


"Baiklah, kita lanjut."


20 menit telah berjalan. Disaat saat banyak adegan jumpscare, jantungku seperti mau copot saja.


"Tuan, saya nyerah." ucapku frustasi, aku sungguh tidak sanggup saat muncul sosok The Nun yang sialnya mukanya terus terbayang dikepalaku.


"Oke, besok kita ketemu Eyang." dia beranjak dari kursi. "Matikan TV nya."


Enak saja!!!


Aku berjalan mengikutinya lalu menahan tangannya. Aku menggeleng serta melihatnya dengan tatapan memohon.


Dia mengerutkan keningnya, lalu berjalan mengambil remote TV dan mematikannya. Dia masuk ke kamar lalu keluar lagi menuju ruang makan.


"Tuan, saya boleh pinjam mobil untuk pulang? Saya sudah mencoba pesan aplikasi ojek online tapi ditolak karena sedang hujan lebat." Aku menghampirinya, dia berada di meja makan sedang merokok dan mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Tidak."


"Ini sudah malam, Tuan. Saya harus pulang."


"Kau bisa tidur di sofa malam ini."


"Tap-"


"Diamlah! Aku sedang mengerjakan pekerjaanku!" bentaknya, jujur saja aku orang yang sangat sensitif dengan bentakan. Aku berjalan menuju sofa, aku ingin menertawakan diriku sendiri karena sekarang aku malah ingin menangis.


Aku merebahkan diri disofa lalu memejamkan mataku, bahkan wajah suster the nun yang sedaritadi mengitari kepalaku sudah hilang karena bentakan Arsen.


Aku jadi berpikir, apa dia memang sengaja menjebakku? Tapi atas dasar apa dia harus menjebakku? Sudahlah, aku juga butuh pekerjaan saat ini daripada harus kembali ke rumah Mama dan dijodohkan dengan anak temannya. Baiklah, tidak masalah jika hanya menjadi pacar pura-pura.


--


Aku terbangun saat alarm ponselku berbunyi, pukul 5.30 pagi. Oh, sejak kapan aku memakai selimut? Apa artinya Arsen yang memberiku selimut? Kenapa dia peduli padaku? Tentu saja karena aku ini babunya.


Aku mencuci muka lalu menuju dapur untuk mulai memasak sarapan, aku memang sudah sangat lapar sekali.


Arsen keluar dari kamar dengan muka bantal, yang sialnya itu membuatnya semakin, tampan? Kenapa juga aku jadi mengaguminya begini, jangan sampai aku jadi suka padanya itu bahaya.


"Kau lihat apa?!" ketusnya sambil membuka kulkas.


"Tidak, Tuan."


Kenapa juga aku harus melihat wajahnya sih.


Dia duduk dimeja bar, sambil meminum air dingin. Aku sudah selesai membuat sandwich dan memberikan padanya.


"Kau ke rumah besar hari ini, tidak usah ke kantor."


"Saya bisa pulang dulu kan, Tuan?"


"Tidak."


"Astaga, saya bahkan belum mandi." lirihku


"Kau bisa mandi disana."


"Saya tidak bawa perlengkapan. Saya tidak bawa baju ganti." ucapku, sungguh aku ingin meneriakinya sekarang. kenapa dia menjadi mengatur hidupku begini.


Dia menatapku sebentar, lalu terkekeh seperti meremehkanku.


"Baiklah. Nanti Asisten Jo akan mengantarmu pulang."


"Terima kasih."


Aku memakan sandwich sambil membereskan peralatan masak.


--