MARRIED

MARRIED
Hasil Menikung



Pagi ini aku terbangun dengan keadaan yang mengenaskan. Bayangkan saja aku baru bisa tertidur pukul 3 pagi dan Mama sudah membangunkanku pukul 5 pagi bahkan matahari saja belum muncul.


Aku tak bisa tidur karena ucapan Arsen semalam. Dia mengatakan jika dia menyukaiku. Entahlah, aku bahkan merasa seperti perasaan senang, sedih, dan takut itu menjadi satu sehingga membuatku tidak tenang untuk memejamkan mata. Sungguh, hal itu tidak pernah terpikirkan dalam otakku.


Aku memang menyukainya, tapi banyak hal yang membuatku berpikir ulang kali hanya untuk sekedar ingin menarik perhatian Arsen.


Semalam, setelah aku pulang dari apartemen Arsen sekitar pukul 10 malam, Almira menelfonku mengajak bertemu bersama Sasa dan Tania (yang hari ini pulang dari luar kota) saat jam makan siang di dekat kantor Arsen. Aku sudah sangat kangen dengan kehebohan mereka jika membahas suatu hal.


Dan ya, aku harus menceritakan pada mereka bukan perihal Arsen dan aku, terutama pada Sasa. Yang entah kenapa memikirnya justru membuatku merasa tidak enak.


"Ada apa sih, Ma? Aruna ngantuk."


"Kamu mau nikah sama Arsen?"


"Mama ngomong apa, sih? Tau darimana?"


"Bu Tita message Mama, nih. Kalian nikah dua minggu lagi? Durhaka kamu kayak Malin Kundang. Mama tahu ya, selama ini jarang ada buat kamu. Tapi masalah nikah, Mama kasih tau juga dong!"


"APA MA? DUA MINGGU LAGI?!"


Fix, aku bakalan jantungan. Damage keluarga Wijaya nggak main main.


"Apasih, teriak teriak. Kamu beneran mau nikah nih? Padahal Mama belum cukup bahagiain kamu, tapi udah mau dipinang aja." ucap Mama sedih, aku yang awalnya terkejut jadi bingung menanggapinya, aku tidak berpikir akan secepat ini. Dasar Arsen!


"Aruna nanti bicara dulu sama Arsen ya, Ma. Jangan sedih kayak gitu deh, Ma. Ga cocok. Mama tuh cocoknya kalau ngomelin Aruna." gurauku.


"Dasar anak kurang ajar. Sana mandi! Mama udah siapin sarapan buat kamu."


Tumben.


"Mama langsung pamit ya, Run. Mama bakalan sering sering nginep sini, buat quality time sama kamu."


"Heem."


Mama keluar dari kamarku, aku masih berdiam diri diatas kasur. Aku harus menelfon Arsen, dia benar benar seenaknya sendiri.


"Hallo?!"


"Selamat pagi, Aruna." sapanya. Terdengar seperti angin segar ditelingaku saat dia mengucapkan namaku. Ishh dasar sindrom bucin tapi gengsi!


"Kenapa pernikahannya dua minggu lagi, Bapak Arsenio?" serangku. Cukup dalam hati aku menjawab sapaannya.


Dia diam tak menjawab sekitar 10 detik.


"Nanti aku telfon lagi, aku harus berangkat."


Dia mematikan telfon secara sepihak sebelum aku menjawab. Dan apa itu, kenapa dia meng-aku-kan dirinya sendiri, aneh. Justru aku lebih aneh, sekarang malah aku merasa sedikit senang. Kenapa hatiku sangat letoy seperti ini, sungguh aku tidak boleh memperlihatkan rasa tertarikku, demi hati dan hidupku.


--


"Run, lo serius mau nikah sama Arsen?" Almira duduk disofa depan televisi, sebelum bertemu dengan Sasa dan Tania aku sudah menyeritakan semua hal yang terjadi padaku setelah aku menjadi asisten Arsen.


Aku mengangguk menanggapi pertanyaannya.


"Baru berapa minggu kita agak lost contact kenapa beritanya lo mau nikah, sih. Perasaan gue duluan yang bilang kalau mau married." kata Almira.


"Gue bahkan kayak mikir, yang gue lakuin ini bener ngga sih? Gue tuh ngrasa Arsen jebak gue." Aku merebahkan diriku di sofa, persetan dengan riasan yang sudah ku kenakan. Aku lemas selemasnya.


"Keputusan lo dah bener sih, Run. Arsen tuh ngga bakal main main sama omongannya." Entah bagaiamana bisa Almira seyakin itu dengan ucapannya. Almira dekat dengan Dirga, sepertinya dia dapat banyak cerita mengenai Arsen dari adiknya itu.


"Gue bingung, disisi lain gue nggak enak sama Sasa."


"Hahaha, ngapain? Hitung hitung bales dendam dulu dia ngrebut gebetan lo." Kata Almira.


"Dih, gue ngga sakit hati yang masalah itu."


"Udah slow aja, nanti gue belain lo."


"Yaudah ayo berangkat, takut macet jam makan siang." Ajakku.


--


Almira dan aku sudah sampai di cafe dekat kantor, dulu saat masih bekerja kami sering kesini untuk sekedar membeli kopi.


Kami menghampiri Sasa yang sudah sampai terlebih dahulu.


"Dah lama lo, Sa?" sapa Almira.


"Baru aja, sih."


"Tania mana?" tanyaku.


"Masih dijalan kali." Sasa menjawab pertanyaanku dengan nada sewot.


"Biasa aja kali, Mbak. Sewot amat." Gurauku


Dia hanya mendengus lalu memainkan ponselnya.


"Lo marah sama gue, Sa?" tanyaku sambil merebut ponselnya.


"Ya lo kenapa sewot?"


"Eh gimana ngga sewot, bayangin lo ditikung sahabat lo sendiri. Bahkan nikungnya ngga main main dua minggu lagi mau nikah, kan gila." sindirnya, bahkan Sasa sudah mengetahui rencana pernikahanku dengan Arsen. Sialan memang Arsen.


"Sumpah ya Sa, gue ngga tahu kalau mau dua minggu lagi."


"Bodo amat, sebagai kompensasi lo beliin gue tas hermes." ancamnya, kenapa ngga sekalian minta ginjal gue aja sih.


"Kompensasi lo udah ciuman sama Arsen apa kalo gitu?"


"Eh, *****. Waktu itu lo belum ada hubungan apa apa ya sama Arsen!"


"Gabisa gitulah, nih ya.."


"STOP!" teriak Almira menengahi kami, bahkan sekarang kami sudah dilihat oleh beberapa pengunjung yang mejanya dekat dengan kami.


"Hai guys!" sapa heboh Tania, dia memang paling heboh diantara kami. Tania datang mengubah hawa canggung yang tadi aku timbulkan karena berdebat dengan Sasa.


"Tania!!" teriak kami secara bersamaan.


"Kangen banget kalian sama gue." Tania duduk disebelahku.


"Iyalah, lo udah ngilang berapa bulan oneng!" jawab Almira.


"Apaan baru dua bulan kok." dia meletakkan tasnya.


"Btw guys, alasan kepulangan gue kali ini lumayan penting sih."


Kami saling berpandangan, dan menatapnya penuh tanda tanya.


"Gue mau nikah." kata Tania girang. Respon kami adalah diam dan menerka nerka dengan siapa Tania akan menikah? Bukankah empat bulan lalu dia datang menemui kami dengan penampilan sangat kacau karena habis putus dari Ringgo setelah berpacaran empat tahun.


"Sama siapa lo nikah?" tanyaku.


"Sama Ringgo lah, siapa lagi."


"Lo kapan itu cerita habis putus yah gara gara dia ghosting lo." kali ini Almira yang tidak puas dengan jawaban Tania.


"Gue balikan setelahnya, ternyata dia pergi ke Jepang buat daftar kuliah S2 nya."


"Dan lo percaya sama perkataan dia?" tanya Sasa.


Sebelum Tania menjawab, "Lo gitu amat sama gue, Sa." Ringgo datang menghampiri kami.


"Yaiyalah, lo ngapain coba ngilang tanpa ngasih kabar ke pacar lo?" serang Almira.


"Lo mau aja dibegoin si Ringgo, Tan." kata Sasa.


"Dih kalian jahat banget sama gue. Yang, jelasin yang." Ringgo menyuruh Tania menjelaskan pada kami.


"Jadi guys, Ringgo kesana buat daftar kuliah terus waktu itu ponsel dia jatuh ke kolam kampus ngga sengaja pas mau foto buat surprise in gue dan kalian tahu kan gue baru ganti nomor hp lima bulan lalu gara-gara keblokir. Yaudah dia lupa nomor gue, tapi setelah itu dia kirim email ke gue. Dan pas saat itu gue emang udah ngga pake emailnya. Pokoknya serba kebetulan ini jadi salah paham antara gue sama Ringgo." jelasnya panjang kali lebar.


"Ringgo ****." ejekku


"Awas aja lo nyakitin Tania, siap berhadapan sama kita bertiga." ancam Sasa.


"Ampun para madam."


"Btw, kapan kalian nikah?" tanyaku.


"Tiga bulan lagi."


"Oh, masih duluan lo kan Run." Kata Sasa dengan nada tidak mengenakan.


"Apa? Si princess Aurora kita mau nikah?" Tania menguncangkan tubuhku. Aurora julukanku karena saat SMA aku keseringan tidur di kelas.


"Iya, dua minggu lagi. Hasil nikung dari gue." kata Sasa.


"Dih kayak lo pacaran aja sama boss." Almira menyikut lengan Sasa.


"Ya gue emang ngga pacaran, tapi gue udah bilang sama Aruna kalau jangan nikung gue. Eh taunya, ga main main dia sekali ngeluarin pesona."


"Ampun deh, Sa. Jangan gitu kenapa, mulut lo kek cabe banget." Kataku.


"Tas hermes, gue maafin."


"Udahlah, itung itung impas, lo dulu kan jadian sama Agam pas Agam jadi gebetan pertamanya Aruna." Almira ternyata benar benar membelaku.


Sasa terdiam.


"Iya udah udah, impas kan, Sa?" Tania ikut membelaku.


"Eh gue baru tahu lho, kalo Agam gebetan Aruna." kata Sasa dengan muka terkejut.


Lah?


--